Melatih dan Mencerahkan Jiwa

Dr. KH. Abduh Al-Manar, M.Ag.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah. Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

PAUD Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MI Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MTS Al-Iryadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Friday, December 29, 2017

Saripati Surat Al-Fatihah



Setiap muslim tentu tidak asing dengan surat al Fatihah. Dari kecil kita sudah diajarkan untuk menghapal surat yang satu ini. Itu karena surat al Fatihah adalah surat pembuka kitab suci Al-Qur`an. Ia juga wajib dibaca di setiap rakaat shalat sebagai rukun. Tidak membaca surat Al Fatihah, berarti shalat tersebut tidak dinyatakan sah. “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca surat al Fatihah.” Begitu kata Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Kali ini kami akan mengutip intisari surat yang agung ini, dari uraian ringkas yang ditulis oleh Syaikh Mahmud Syalthut –rahimahullah– dalam risalahnya yang berjudul, “Ilal Qur`aanil Kariim” Hal. 15 – 16:

Surat al Fatihah, disebut Ummul Kitab (Induk al Qur`an). Al Fatihah merupakan salah satu dari lima surat dalam al Qur`an al Karim yang dimulai dengan al hamdu lillah (segala puji hanya milik Allah). Kelima surat itu adalah (1) al Fatihah, (2) al An’aam, (3) al Kahfi, (4) Saba` dan (5) Fathir.

Al Fatihah merangkum seluruh substansi yang dijelaskan oleh al Qur`an al Karim secara global, berupa tauhid, hari kebangkitan, penjelasan tentang jalan yang lurus yang ditempuh oleh manusia untuk mengatur kehidupannya dengan Allah, dirinya dan orang lain.

“Al hamdulillahi rabbil ‘aalamiin.” (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam) dan “ar-rahmaanir-rahiim”(Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) Kedua ayat ini menetapkan ketauhidan Allah dalam hal penciptaan dan pengaturan (seluruh makhluk) melalui sifat rahmat yang pengaruhnya sampai kepada hamba-hamba-Nya.

“Maaliki yaumid-diin.” (yang menguasai di hari Pembalasan) Ayat ini menegaskan kehidupan akhirat, hari dimana seluruh amalan akan menerima balasan.

“Iyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” (hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan) Ayat ini menjelaskan prinsip beribadah kepada Allah saja, dan menegaskan status manusia yang lemah yang senantiasa membutuhkan pertolongan Rabbnya. Ayat ini juga menegasikan seluruh sikap menghadap kepada selain Allah, baik dalam bentuk ibadah, juga dalam isti’anah (pemohonan bantuan)

“Ihdinash-shiraathal mustaqiim.” (Tunjukilah Kami jalan yang lurus) Ayat ini sebuah permohonan manusia untuk hidup dalam hukum-hukum Allah yang dapat mengatur urusan-urusannya. Dialah Allah yang memberi ilmu dan membuat Syariat, serta satu-satunya yang memberi taufik berupa kemampuan untuk mengamalkan ilmu dan syariat-Nya.

“Shiraathalladziina na’amta ‘alaihim. Ghairil maghduubi ‘alaihim waladh-dhaaliin” (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.) Ayat ini menjelaskan bahwa manusia, dihadapan jalan dan syariat Allah terbagi menjadi tiga golongan:

Golongan pertama: Mereka yang dikenal sebagai orang-orang yang komit terhadap jalan yang lurus. Jalan itu sangat identik dengan mereka, mereka pun menjadi teladan untuk selain mereka dalam sikapnya itu. Mereka adalah, “Yang diberi nikmat.”

Golongan kedua: Mereka yang ingkar kepada jalan Allah dan hukum-hukum-Nya, karena sombong dan takabur, mereka adalah, “Yang dimurkai.”

Golongan ketiga: Mereka yang ragu antara menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran, mereka adalah, “Yang tersesat.”

Semua ini menunjukkan, surat al Fatihah mengandung akidah (keyakinan) dalam hal permulaan (makhluk) dan tempat kembalinya. Dengan akidah ini, manusia menjadi sempurna dari sisi ilmu (ilmy). Al Fatihah juga mengandung penjelasan mengenai jalan beramal shaleh. Dengan amal shaleh, manusia menjadi sempurna dari sisi amal (amaly). Surat ini juga mengisyaratkan satu sejarah manusia yang istimewa, yang komit terhadap kebenaran dalam berilmu dan beramal.

Demikianlah, sebuah penjelasan global untuk seluruh rincian yang dijelaskan dalam al Qur`an al Karim. Oleh karena itu, al Fatihah menjadi pendahuluan kitab suci al Qur`an dan induk al Qur`an.

Sumber Gambar Ilustrasi:
http://singduwedotcom.blogspot.co.id
Share:

Thursday, December 28, 2017

Doa Mohon Perlindungan


“Allahumma inni audzubika min al-‘azji wa al-kasli wa al-bukhli wa al-Harami wa azab al-qabri”. (“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari penyakit lemah, malas, bakhil, tua, dan siksa kubur”).

Ini merupakan doa yang dilantunkan oleh Rasulullah SAW yang direkam dalam hadis riwayat Imam Muslim. Doa ini menjadi bahan renungan dan pelajaran untuk kita semua bahwa beliau saja berdoa kepada Allah apalagi kita yang memang sangat membutuhkan kekuatan Allah hadir dalam hidup ini. Mari kita coba pahami butir-butir doa Rasulullah SAW tersebut :

1. al-‘azji (lemah): 
Lemah tidak saja berupa fisik jasmani tetapi juga bisa berupa sikap mental, keduanya harus dapat kita hindari. Lemah fisik dapat kita atasi dengan olah raga yang teratur sedangkan lemah mental dapat kita atasi dengan olah jiwa. Rasulullah berdoa kepada Allah agar terhindar dari kondisi lemah tersebut. Allah pun mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang kondisi lemah ini :
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. An-Nisa : 9 ).

Rasulullah pun menginginkan umatnya menjadi umat yang kuat. Beliau mengatakan : “Orang mukmin yang kuat lebih baik daripada orang mukmin yang lemah”.

2. al-kasal (malas):
Rasulullah SAW sebagai orang yang super sibuk saja masih mohon perlindungan kepada Allah dari sifat malas. Bagaimana dengan kita ? ini merupakan pelajaran agar umatnya pun harus menghindari diri dari sifat dan sikap malas. Bermalas-malasan hanya akan membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran. Jiwa kita pun menjadi kosong dan hampa sehingga yang muncul hanya angan-angan yang kosong. Hal ini sangat membahayakan bagi kesehatan jiwa kita. Oleh karena itu sedini mungkin harus segera kita jauhi sifat dan sikap malas ini. Caranya dengan mengisi waktu yang penuh dengan berbagai kegiatan: apakah itu membaca, menulis, bekerja, beraktifitas di masyarakat, beribadah dan sebagainya.

3. al-bukhl (kikir) 
Perilaku kikir atau pelit sebenarnya merugikan kita sendiri. Coba kita renungkan, pada saat orang lain membutuhkan pertolongan, kita tidak mau menolongnya. Pada kesempatan lain, kita butuh pertolongan orang lain, tetapi kemudian orang itu tidak menolong kita. Bagaimana perasaan kita ? Tentu saja kita kecewa, kesal dan jengkel. Kondisi ini pula yang terjadi pada orang lain yang membutuhkan pertolongan kita. Oleh karena itu, mari kita melatih diri jangan sampai berperilaku kikir. Sesuai dengan kemampuan, kita bantu orang lain yang butuh pertologan: apakah bantuan itu berupa uang, jasa tenaga atau pikiran. Semua itu bisa bermanfaat sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya.


4. al-haram (tua)
Menjadi tua merupakan sunnatullah. Sesuatu yang tak dapat dihindari. Tetapi tua yang dimaksud dalam doa ini ialah agar kita terhidar dari penyakit tua berupa pikun yang akut, kembali bersikap seperti anak-anak, penyakit tak kunjung sembuh dan lain-lain yang sejenisnya. Kalau penyakit tua semacam ini sudah terkena pada diri seseorang, maka hal ini membuat anggota keluarga kita menjadi repot. Walaupun anggota keluarga wajib berbakti kepada orang tua, bukan berarti kita sebagai orang tua tidak perlu mempersiapkan diri. Justru seharusnya kita berhap dan berdoa kepada Allah agar anggota keluarga kita tidak dibuat repot dengan kondisi kita yang menjadi tua. Kita mohon kepada Allah walaupun kita menjadi tua, kita masih bisa beraktifitas, berfikir, bekerja dan beribadah.

5. azab al-qabr (siksa kubur) 

Siapa pun tak ada yang menginginkan siksa kubur termasuk orang-orang yang durhaka sekalipun. Siksa kubur merupakan peristiwa yang benar akan terjadi dan dirasakan bagi orang-orang yang durhaka kepada Tuhan. Rasulullah mengajarkan kepada kita agar terhindar dari siksa kubur. Dahsyatnya siksa kubur tak terbayangkan oleh kita. Karena itu, janganlah kita lalai dalam hidup ini. Sekecil apapun amal tidak boleh kita anggap enteng. Yang terpenting dalam hidup ini adalah istiqamah (konsisten/teguh pendirian) dan mulazamah (terus-menerus) tanpa bosan beramal sekalipun amal kita kecil dalam pandang orang lain seperti memindahkan duri atau batu kerikil dari jalan. 

Semoga Allah SWT senantiasa mengabulkan segala permohonan kita terutama doa yang kita panjatkan berupa perindungan dari penyakit lemah, malas, kikir, tua, dan siksa kubur.

Sumber Gambar Ilustrasi:
http://infoyunik.com
Share:

Mengundang Allah


Pada suatu hari, beberapa orang dari Bani Israil datang menemui Nabi Musa As dan berkata, “wahai Musa, bukankah kau boleh bicara dengan Tuhan? Tolong sampaikan kepada-Nya, kami ingin mengundang Tuhan makan malam.” Nabi Musa marah luar biasa. Ia berkata bahwa Tuhan tidak perlu makan atau minum. Ketika Musa datang ke Gunung Sinai untuk berbicara dengan Tuhan, Tuhan berkata, “Mengapa engkau tidak menyampaikan Kepada-Ku undangan makan malam dari hamba-Ku?” Musa menjawab, “Tapi Tuhanku, Engkau tidak makan. Engkau pasti tidak akan menerima undangan tolol itu.” Tuhan berkata: “Simpan pengetahuanmu antara engkau dan Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang memenuhi undangan mereka.” 

Turunlah Musa dari Gunung Sinai dan mengumumkan bahwa Tuhan akan datang untuk makan malam bersama Bani Israil. Tentu saja semua orang, termasuk Musa, menyiapkan semua jamuan yang sangat mewah. Ketika mereka sedang sibuk memasak hidangan-hidangan terlezat dan mempersiapkan segalanya, seorang kakek tua muncul tanpa diduga.

Orang itu miskin dan kelaparan. Ia meminta sesuatu untuk dimakan. Para juru masak yang sibuk memasak menolaknya, “Tidak, tidak. Kami sedang menunggu Tuhan. Nanti ketika Tuhan datang, kita makan bersama-sama.” Mengapa kamu tidak ikut membantu. Lebih baik kamu mengambilkan air dari sumur ! 

Mereka tidak memberi apa-apa untuk kakek malang itu. Waktu berlalu, tetapi Tuhan ternyata tidak datang. Musa menjadi sangat malu dan tidak tahu harus berkata apa kepada para pengikutnya. 

Keesokan harinya, Musa pergi ke Gunung Sinai dan berkata, “Tuhan, apa yang Kau lakukan kepadaku? Aku berusaha meyakinkan setiap orang bahwa Kau ada. Kau katakan akan datang ke jamuan kami, tapi kau ternyata tidak muncul. Sekarang tidak ada yanag akan mempercayai aku lagi !”

Tuhan menjawab, “Aku datang. Jika saja kau memberi makan kepada hamba-Ku yang miskin, kau telah memberi makan Kepada-Ku.” Tuhan berkata, “Aku, yang tidak boleh dimasukkan ke seluruh semesta, boleh dimasukkan ke dalam hati hamba-Ku yang beriman.”

Ketika kita berkhidmat kepada hamba Tuhan, kita telah berkhidmat kepada-Nya. Ketika kita mengabdi kepada makhluk, sesungguhnya kita juga mengabdi kepada Sang Khalik. 

Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa semua makhluk Tuhan harus kita layani dengan sebaik mungkin apapun rupanya dan siapapun orangnya, semua harus mendapat perlakuan yang sama. 

Sumber Gambar Ilustrasi:

http://akuislam.id
Share:

Tuesday, December 26, 2017

Kisah Thalut dan Tentaranya


Allah SWT menceritakan kisah Thalut dan bala tentaranya di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 249 : ”Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini akan bertemu Allah berkata:”Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Kisah ini menggugah kita bahwa tidak ada suatu perjuangan tanpa adanya ujian. Ujian sebagai bunga rampai kehidupan harus dijalani setiap insan yang ingin sukses. Kesuksesan bukan suatu pemberian Tuhan begitu saja bagai mendapat durian runtuh. Kesuksesan harus diperjuangkan dengan darah dan air mata. Demikian juga dengan kisah Thalut dan bala tentaranya. Allah menguji mereka dengan kesenangan dunia yang dilambangkan dengan sungai sebagai sumber kehidupan. Kita boleh menikmati sumber kehidupan tetapi tidak boleh berlebihan. Sebab, bila kita terlalu banyak menikmati air sungai kehidupan dunia fana ini, maka perjuangan untuk mereguk air sungai kehidupan abadi tak akan pernah kita nikmati nanti. 


Sebagian besar tentara Thalut tidak lulus dalam menghadapi ujian Tuhan. Mereka lebih senang menikmati kehidupan fatamorgana. Akhirnya perjuangan mereka melawan Jalut dan bala tentaranya tidak mampu lagi dilanjutkan. Hanya sebagian kecil saja yang masih disiplin mematuhi Thalut dan mampu lulus menghadapi ujian Tuhan. Mereka yakin walaupun secara kuantitatif jumlah mereka sedikit, tetapi dengan kualitas keimanan mereka kepada Tuhan dapat meruntuhkan kekuasaan Jalut dan tentaranya.

Memang fakta dan realitas kehidupan, banyak umat manusia seperti sebagian besar tentara Thalut yang telah terlena oleh kenikmatan dunia sesaat. Hanya sebagian kecil saja di antara kita yang masih yakin dan iman pada kekuatan Tuhan. Padahal fakta historis selalu memberikan pelajaran berharga pada kita bahwa kelompok yang sedikit sering kali menang dalam pertempuran di medan perang dan sukses dalam perjuangan hidup melawan hawa nafsu. Kunci sukses mereka adalah iman. Iman menjadi sumber energi besar yang mendorong mereka untuk selalu menang karena yakin akan selalu datang pertolongan Tuhan. 

Sumber Gambar Ilustrasi:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiw6XYDwKbNyh8qJvJQP3FDexeEg9UE5jQ8WOEVR2znxbBNnWPOgU1N3Cz8sMyXhSSboCHOw9eutWW7dof0A_2pqjxC4gfYCuJsjpLFMZUy50Bn6-86FavkWFxlM0YEkUENW8fZnTF4swMh/s1600/perang.jpg
Share:

KH. Maimoen Zubair, Sarang Rembang


Nama beliau adalah KH. MAIMOEN ZUBAIR, biasa dipanggil MBAH MOEN oleh santri-santri-nya. Beliau lahir di daerah Sarang Kabupaten Rembang – Jawa Tengah, pada tanggal 28 Oktober 1928 Masehi*.

Beliau adalah putra pertama dari KH. ZUBAIR DAHLAN, seorang ulama alim yang juga merupakan murid dari Ulama besar dari Kota Makkah yaitu Syaikh Saíd al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky.

Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.

Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah gambaran dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri.

Pendidikan

Sejak kecil, Beliau mendapat gemblengan langsung dari ayahandanya sendiri dengan berbagai ilmu agama seperti Nahwu, Shorof, Fiqih, Balaghoh, serta ilmu-ilmu agama yang lain. Dengan didikan ayahandanya secara langsung itulah yang menjadikan Beliau tumbuh menjadi seorang yang alim di usianya yang masih remaja, Bahkan beliau sudah hafal beberapa kitab diantaranya kitab Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, dan lain-lain.

Menginjak remaja Beliau kemudian melanjutkan pendidikan agamanya ke pondok pesantren Lirboyo Kediri yang pada saat itu diasuh oleh KH. Mahrus Aly dan KH. Marzuky.

Ketika menginjak usia 21 tahun, Kyai Maimoen bersama Kyai Ahmad bin Syuaib dan putra-putranya berangkat ke Makkah Almukarromah dengan biaya ditanggung oleh Kyai Ahmad bin Syuaib. Di sanalah Beliau dan KH. Abdur Rohim bin Ahmad tinggal dan belajar di bawah bimbingan para ulama Haramain. Selama kurang lebih 2 tahun berkutat dengan ilmu-ilmu agama didalam bimbingan Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa Al-Fadani dan masih banyak lagi.

Sekembalinya dari Tanah suci, beliau dengan semangat masih menimba ilmu dan memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada ulama-ulama besar tanah air seperti seperti KH. Baidlowi Lasem (mertua beliau), KH. Ma’shum Lasem, KH. Ali Ma’shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Sayikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abul Fadhol, Senori.

Dekat dengan Tokoh Nasional

Mbah Maimoen dikenal sebagai seorang ulama yang dekat dengan tokoh-tokoh nasional seperti Bapak Prabowo, Amin Ra’is, Hamzah Haz, Susilo Bambang Yudoyono, Joko Widodo, serta tokoh nasional lainnya. Namun itu tidak menjadikannya seseorang yang mengharapkan jabatan maupun materi duniawi. Banyak dari mereka yang sowan ke kediaman beliau baik sebelum menjadi presiden maupun setelah menjadi presiden. Seperti Bapak SBY misalnya pernah sowan di kediaman beliau ketika menjabat sebagai presiden, atau Bapak Jokowi yang pernah sowan setika akan mencalonkan diri sebagai presiden.

Beliau juga pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhir masa tugasnya, beliau mulai berkonsentrasi mengurus pondoknya yang saat itu baru berdiri selama sekitar 7 atau 8 tahun. Tapi rupanya tenaga dan pikiran beliau masih dibutuhkan oleh negara sehingga beliau diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jateng selama tiga periode. 

Berkhidmat pada Agama

Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya Pondok Pesantren yang berada di sisi kediaman beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.

Dari sinilah Pondok Pesantren Al Anwar mulai membuka kesempatan bagi para calon santri dari seluruh kepulauan di Nusantara untuk menimba ilmu langsung dengan beliau. Hingga kini telah ribuan santri yang lulus. Diantara mereka telah ada yang menjadi tokoh-tokoh besar di berbagai sektor di negeri ini.

Kemudian sekitar tahun 2008 beliau kembali mengibarkan sayapnya dengan mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar 2 di Gondan Sarang Rembang, yang kemudian oleh beliau dipasrahkan kepada putranya KH. Ubab Maimoen.

Istri dan Putra-putri Mbah Maimoen

KH. Maimoen Zubair mempunyai 2 istri, yang pertama yaitu Hj. Fahimah putri KH. Baidhowi Lasem, dari sini beliau dikaruniai 7 anak, empat diantaranya meninggal pada waktu masih kecil. Sedangkan 3 yang lainnya yaitu :
  1. KH Abdullah Ubab
  2. KH Muhammad Najih
  3. Neng Shobihah
Setelah istri pertama meninggal beliau memutuskan untuk menikah lagi, kali ini beliau memperistri Nyai Masthi'ah Putri KH. Idris asal cepu Blora. Dan dari sini beliau dikaruniai 6 anak putra, dan 2 anak putri.

Berikut putra-putri Beliau dari Ibu Masthi`ah :
  1. KH Majid Kamil
  2. Gus Ghofur
  3. Gus Ro'uf
  4. Gus Wafi
  5. Gus Yasin
  6. Gus Idror
  7. Neng Shobihah (meninggal)
  8. Neng Rodhiyah
Demikian sedikit coretan Biografi KH. Maimoen Zubair Pengasuh Pondok Pesantren AL ANWAR Karangmsangu – Sarang – Rembang – Jawa Tengah.

Catatan:
Tanggal lahir beliau yang banyak diyakini mayoritas orang adalah tanggal 28 Oktober 1928. Tapi Beliau pernah ngendikan (Ind : berkata) bahwa tanggal 28 Oktober 1928 itu sebenarnya hanyalah perkiraan saja. Dan Beliau (dengan yakin) juga pernah ngendikan bahwa Beliau lahir hari kamis legi bulan sya’ban

Karena penasaran saya pun mencoba menkonversi dengan menggunakan metode ilmu falaq ke penanggalan hirjiyyah dan ternyata benar hasilnya tidak bertepatan dengan bulan sya’ban justru ketemu di tanggal 26 Jumadal ula 1347 H.

Menurut riset yang pernah dilakukan oleh Ustadz Najib Buchori di situs resminya ppalanwar.com mengatakan bahwa Hari Kamis Legi bulan Rojab Tahun 1347H betepatan dengan tanggal 7 Februari 1929 M. dengan menggunakan metode ilmu Hisab Ephimeris dengan markaz atau epoch Sarang yaitu: 6' 44' LS dan 111' 36', serta batas minimal imakanur ru'yah 2'.
Jadi kesimpulan yang in sya'Allah lebih mendekati kebenaran adalah beliau lahir pada hari Kamis Legi, 7 februari 1929 M. bertepatan dengan 27 Sya'ban 1347 H. Semoga bermanfaat

Daftar Pustaka:

Source:
http://kholil-putratunggal.blogspot.co.id/2016/12/biografi-kh-maimoen-zubair-sarang.html 
Share:

Friday, December 22, 2017

Membeli Surga


Imam Ali bin Abi Thalib, tidak seperti biasanya, hari itu ia pulang lebih awal menjelang sholat ashar. Fatimah putri Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari penuh mencari karunia Allah dengan penuh harapan siapa tahu Ali membawa uang yang banyak untuk keperluan di rumah yang makin besar. Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah :”Maaf sayangku, hari ini aku tidak membawa uang sedikitpun”. Fatimah menyahut sambil tersenyum, “Memang yang mengatur rizki tidak duduk di pasar, bukan ? Yang memiliki kuasa itu Allah SWT. “Terima kasih,” jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal keperluan dapur sudah habis sama sekali. Walaupun begitu Fatimah tidak menunjukkan sikap kecewa atau sedih.

Ali lalu berangkat ke masjid menjalankan sholat berjamaah. Sepulang dari sholat, di jalan ia diberhentikan seorang tua. “Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abi Thalib ?” “Ya betul. Ada apa, Tuan?” jawab Ali setengah heran. Orang tua itu berkata : “Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit, Aku belum sempat membayar upahnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.” Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Tentu saja Farimah sangat senang memperoleh rizki yang tidak disangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakan semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.

Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau menghutangkan hartanya karena Allah, bersedekahlah Kepada saya, seorang musafir kehabisan bekal perjalanan.” Tanpa berpikir panjang, Ali memberikan seluruh uangnya Kepada orang itu.

Pada waktu Ali pulang, Fatimah heran melihat suaminya yang tidak membawa apa-apa. Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, “Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta karena Allah daripada bakhil yang dimurkaiNya, dan yang menutup pintu surga untuk kita.

Apa yang dicontohkan oleh Imam Ali dan istrinya, dapat kita katakan, membeli surga dengan amal sedekah.

Sumber Gambar Ilustrasi:

http://www.cahayaislam.id

Share:

Konsultasi dengan Gus Abduh

Data Kunjungan