Melatih dan Mencerahkan Jiwa

Dr. KH. Abduh Al-Manar, M.Ag.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah. Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

PAUD Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MI Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MTS Al-Iryadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Thursday, June 27, 2019

Allah Mengajarkan Taubat


Surat Al-Baqarah ayat 37
فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Di dalam Tafsir Ibn Katsir: Menurut suatu pendapat, ayat ini merupakan tafsir dan penjelasan dari ayat lainnya, yaitu firman-Nya:
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A'raaf: 23)

Hal ini diriwayatkan oleh Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Abul Aliyah, Ar-Rabi' ibnu Anas, Al-Hasan, Qatadah, Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, Khalid ibnu Ma'dan, Ata Al-Khurrasani, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.
Abu Ishaq As-Subai'i meriwayatkan dari seorang lelaki Bani Tamim yang menceritakan bahwa ia pernah datang kepada Ibnu Abbas, lalu bertanya kepadanya, "Kalimat-kalimat apakah yang diberikan kepada Adam oleh Tuhannya?" Ia menjawab, "Ilmu mengenai ibadah haji."

Sufyan M-Sauri meriwayatkan dari Abdul Aziz ibnu Raf i yang mengatakan bahwa ia telah menerima riwayat ini dari seorang yang pemah mendengar dari Ubaid ibnu Umair. Riwayat lain menyebutkan, telah menceritakan kepadaku Mujahid, dari Ubaid ibnu Umar yang mengatakan bahwa Adam berkata, "Wahai Tuhanku, dosa yang telah kulakukan itu merupakan suatu hal yang telah Engkau pastikan terhadap diriku sebelum Engkau menciptakan diriku, atau sesuatu yang aku buat-buat dari diriku sendiri." Allah berfirman, "Tidak, bahkan itu adalah sesuatu yang Aku takdirkan atas dirimu sebelum kamu diciptakan." Adam berkata, "Maka sebagaimana Engkau telah memastikannya atas diriku, karenanya ampunilah diriku ini." Ubaid ibnu Umair mengatakan bahwa yang demikian itulah makna dari firmanNya: Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. (Al-Baqarah: 37)

As-Saddi meriwayatkan dari orang yang menerimanya dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya. (Al-Baqarah: 37)
Disebutkan bahwa Adam a.s. berkata, "Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah menciptakan diriku dengan tangan kekuasaan-Mu sendiri?" Dikatakan kepadanya, "Memang benar." Adam berkata,
Engkau telah meniupkan sebagian dari roh (ciptaan)-Mu kepadaku?" Dikatakan kepadanya, "Memang benar." Adam berkata, "Dan ketika aku bersin, Engkau mengucapkan, "Semoga Allah merahmatimu.' Dan rahmat-Mu selalu mendahului murka-Mu?" Dikatakan kepadanya, "Memang benar." Adam berkata, "Dan Engkau telah memastikan terhadap diriku bahwa aku akan melakukan hal ini?" Dikatakan kepadanya, "Memang benar." Adam berkata, "Bagaimanakah pendapat-Mu jika aku bertobat? Apakah Engkau akan mengembalikan diriku ke dalam surga?" Allah menjawab, "Ya."
Hal yang semisal diriwayatkan pula oleh Al-Aufi, Sa'id ibnu Jubair, dan Sa'id ibnu Ma'bad, dari Ibnu Abbas. Mar ini diriwayatkan pula oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas. Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini berpredikat sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya. Demikian penafsiran As-Saddi dan Atiyyah Al-Aufi.

Ibnu Abu Hatim dalam bab ini telah meriwayatkan sebuah hadis yang serupa dengan hadis ini. Untuk itu dia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain ibnu Isykab, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Asim, dari Sa'id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Ubay ibnu Ka'b, bahwa Rasulullah Saw pemah bersabda:
Adam a.s. berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimanakah jika aku bertobat dan kembali? Apakah Engkau akan mengembalikan diriku ke surga?" Allah menjawab, "Ya." Yang demikian itulah makna firman-Nya, "Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya."
Hadis ini berpredikat garib ditinjau dari sanad ini, di dalamnya terdapat inqita.
Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan makna firman-Nya: Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. (Al-Baqarah: 37)

Disebutkan bahwa sesungguhnya setelah melakukan kesalahan, Adam berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimanakah jika aku bertobat dan memperbaiki diriku?" Allah berfirman, "Kalau begitu, Aku akan memasukkan kamu ke surga." Hal inilah yang dimaksudkan dengan pengertian `beberapa kalimat'. Termasuk ke dalam pengertian `beberapa kalimat' ialah perkataan Adam yang disitir oleh firman-Nya:
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri; dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (Al-A'raaf: 23)

Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid yang mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan `beberapa kalimat ialah seperti berikut:
Ya Allah, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau, Mahasuci Engkau dengan memuji kepada-Mu. Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka berilah ampun bagi diriku, sesungguhnya Engkau sebaik-baik penerima tobat. Ya Allah, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau, Mahasuci Engkau dengan memuji kepada-Mu. Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka rahmatilah diriku, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemberi rahmat. Ya Allah, tidak ada Tuhan yang wajib disembah se-lain Engkau, Mahasuci Engkau dengan memuji kepada-Mu, wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka berilah ampunan kepadaku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Firman Allah Swt.: Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 37)
Yakni sesungguhnya Dia menerima tobat orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Makna ayat ini sama dengan makna yang terdapat di dalam firman-Nya:
Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya. (At-Taubah: 104)
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian is mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nisaa: 110)
Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya. (Al-Furqaan: 71)

Dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Allah Swt. mengampuni semua dosa dan menerima tobat orang yang bertobat. Dcmikianlah sebagian dari kelembutan Allah kepada makhluk-Nya dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya; tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Dia Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Share:

Tuesday, June 25, 2019

Tergoda Syaitan



Surat Al-Baqarah  Ayat 36
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ
Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari Keadaan semula dan Kami berfirman : "Turunlah kamu sekalian! sebagian kamu sekalian menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu sekalian ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."
Awal ayat 36 :  فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا “Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu”. Maksudnya adalah Adam dan Hawa dengan tipu daya syaitan memakan buah pohon yang dilarang itu, mengakibatkan keduanya keluar dari surga, dan Allah menyuruh mereka turun ke dunia.
Artinya masuklah syaitan ke tempat Adam dan Hawa,  lalu merayu dan memperdayakan mereka, supaya mereka makan buah pohon yang terlarang itu, sampai syaitan mengatakan bahwa itulah pohon kekekalan   Syajaratulkhuldi (شَجَرَةِ الْخُلْدِ), siapa yang memakan buahnya akan kekal, tidak akan binasa, tidak akan mati-mati, seperti firman Allah :
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آَدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (kekal) dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS. Thaahaa : 120)
Karena pandainya syaitan merayu, sampai-sampai keduanya tergelincir, termakan juga akhirnya buah pohon terlarang itu. Setelah mereka makan buah pohon itu, keadaan mereka menjadi berubah, ternyata terbukalah aurat mereka. Perhatikan firman Allah surat Al-A'raaf  ayat 22 :
فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآَتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ
Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. kemudian Tuhan mereka menyeru mereka : "Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan aku katakan kepadamu : "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?"
Dlamir (kata ganti) عَنْهَا "Anhaa," dapat kembali pada kata الْجَنَّةَ “Al-Jannah” (Surga). Atas dasar ini, maka makna ayat adalah 'keduanya dijauhkan oleh setan dari Surga', demikianlah menurut bacaan Hamzah dan Ashim bin Bahdalah. Dan dapat juga dlamir (kata ganti)  عَنْهَا "Anhaa," kembali pada kata yang paling dekat dengannya, yaitu الشَّجَرَةَ “Asy-syajarah” (pohon). Dengan demikian, maka makna ayat seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan dan Qatadah adalah 'maka setan menggelincirkan keduanya disebabkan pohon tersebut'.[1]
Berapa lama Nabi Adam berada di surga?
-     Menurut Al-Hakim (dengan sanadnya) dari Ibnu Abbas, ia menceritakan : "Tidaklah Adam tinggal di dalam Surga melainkan hanya antara shalat Ashar sampai dengan terbenamnya matahari".
-     Menurut Abd bin Humaid mengatakan di dalam kitab tafsirnya, (dengan sanadnya) dari Al-Hasan bahwa, “Adam tinggal di dalam Surga hanya sesaat di siang hari”. “Satu saat tersebut lamanya sama dengan 130 tahun hari-hari dunia”. [2]
Tengah ayat 36 :  فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ  “dan dikeluarkan dari Keadaan semula”. Maksud keadaan semula ialah kenikmatan, kemewahan dan kemuliaan hidup dalam surga, seperti pakaian, tempat tinggal yang luas, rezeki yang berlimpah, dan kehidupan yang enak. [3]
Tengah ayat 36 : وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ “dan Kami berfirman : "Turunlah kamu sekalian! sebagian kamu sekalian menjadi musuh bagi yang lain”. Maka Allah mengetahui bahwa larangan-Nya telah dilanggar, sehingga Dia memerintahkan, “Turunlah kamu sekalian!". Ada tiga pribadi yang dimaksud oleh ayat ini, yaitu Adam dan Hawa dan Syaitan yang menggelincirkan keduanya itu. Semua disuruh turun dari tempat yang mulia itu, tidak boleh tinggal di sana lagi; yang berdua karena melanggar larangan, yang satu lagi karena tipu daya yang dilakukan untuk memperdayakan orangi. Pihak yang melakukan pelanggaran dan pihak yang menjadi sebab terjadinya pelanggaran, semuanya mendapatkan sanksi atau hukuman.  
Dan selanjutnya Allah menegaskan : بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ (sebagian kamu sekalian menjadi musuh bagi yang lain). Karena dasar permusuhan sudah nampak sejak dahulu kala, si Iblis atau syaitan tidak mau melakukan sujud penghormatan karena sombongnya, merasa diri lebih, tetapi menanam dendam dalam batin untuk mencelakakan manusia. Rupanya sudah ditakdirkan Allah-lah bahwa permusuhan ini akan terus menerus dibawa kemuka bumi.
Dimana Nabi Adam diturunkan?
Terdapat beberapa pendapat, yaitu :
-     As-Saddi mengatakan, bahwasanya Adam turun di India dengan membawa Hajar Aswad dan segenggam dedaunan Surga, lalu ia menaburkannya di India, maka tumbuhlah pepohonan yang wangi baunya. Itulah asal mula wewangian India itu adalah dari segenggam dedaunan Surga yang ikut dibawa turun oleh Adam. Dan Adam menggenggamnya hanya terdorong oleh rasa penyesalannya karena dikeluarkan dari Surga.
-     ‘Imran bin ‘Uyaynah (dengan sanadnya) dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adam diturunkan di Dahna, salah satu wilayah di India.
-     Ibnu Abu Hatim (dengan sanadnya) dari Abbas, ia berkata : Adam  Adam diturunkan di suatu daerah yang dikenal dengan nama Dahna, terletak di antara Mekah dan Thaif.
-     Juga menurut Ibnu Abu Hatim (dengan sanadnya) dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Adam  diturunkan di Shafa, dan Hawa diturunkan di Marwah.
-     Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa Adam diturunkan di India, sedangkan Siti Hawa di Jeddah, dan iblis di Dustamisan yang terletak beberapa mil dari kota Bashrah.
Bagaimana keadaan Nabi Adam saat diturunkan?
-     Raja bin Salamah mengatakan bahwa Nabi Adam diturunkan, sedangkan kedua tangannya diletakkan pada kedua lututnya seraya menundukkan kepalanya. Sedangkan Iblis diturunkan,  jari jemari tangannya ia satukan dengan yang lainnya seraya mengangkat kepalanya ke langit.
-     Dari Abu Musa, ia berkata : Sesungguhnya Allah ketika menurunkan Adam dari Surga ke bumi, terlebih dahulu Dia mengajarkan kepadanya membuat segala sesuatu dan membekalinya dengan buah-buahan Surga. Maka buah-buahan kalian ini berasal dari buah-buahan Surga, hanya bedanya buah-buahan yang ini berubah, sedangkan buah-buahan Surga tidak berubah.
Kapan Nabi Adam diturunkan?
-     Az-Zuhri (dengan sanadnya) dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda : Sebaik-baik hari yang terbit matahari padanya adalah hari Jumat. Pada hari Jum’at Adam diciptakan, pada hari Jum’at pula ia dimasukkan ke dalam Surga, dan pada hari Jum’at pula ia dikeluarkan darinya." (HR. Muslim dan  An-Nasai)
Akhir ayat 36 : وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ  “dan bagi kalian ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan" . Disuruhnya mereka, semuanya, ketiganya, meninggalkan tempat itu, surga yang penuh kenikmatan, pindah ke bumi. Di bumilah ditentukan tempat kediaman mereka,  rezeki mereka, dan ajal mereka; tetapi hanya buat sementara, tidak akan kekal disana. Di bumi itulah mereka menyediakan bekal yang akan mereka bawa kembali menghadap Allah apabila waktu yang tertentu, waktu yang terbatas dan yang telah ditentukan bagi hidup itu sudah habis, kemudian terjadilah kiamat.
Faedah yang terkadung dalam ayat
-     Fakhruddin berkata : Sepengetahuanku di dalam ayat ini terkandung makna peringatan dan ancaman yang besar terhadap semua perbuatan maksiat bila ditinjau dari berbagai segi. Antara lain ialah penggambaran kejadian yang dialami oleh Nabi Adam hingga ia dikeluarkan dari Surga, hanya disebabkan kekeliruan yang kecil, yang ini membuatnya menjadi sangat malu terhadap perbuatan maksiat yang dilakukannya. [4]
BAHAN BACAAN
[1]. Baca tafsir Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz 1, hal. 235 - 236
[2]. Baca tafsir Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz 1, hal. 236 - 237
[3]. Baca tafsir Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz 1, hal. 236
[4]. Baca tafsir Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz 1, hal. 237 - 238

Share:

Adam dan Istrinya di Surga

Tafsir Qs. Al Baqarah, ayat 35
َوقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَداً حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim( QS Al Baqarah : 35 )

Di dalam ayat di atas ada beberapa pelajaran diantaranya adalah :

( 1 ) APAKAH  MAKSUD DARI  PERINTAH ALLAH  KEPADA ADAM UNTUK TINGGAL DI DALAM  SYURGA .

            Kalimat    “ Uskun “ yang artinya “ tinggallah “ , di dalam bahasa Arab mengandung makna “ ketenangan “ , karena orang yang tinggal di dalam rumah ( maskan )  akan merasakan ketenangan. Kata  “ Sikkin “ yang artinya pisau, berfungsi untuk menenangkan  binatang yang akan disembelih  sehingga tidak bergerak lagi setelah disembelih.  Begitu juga kata “ Miskin “ yang berarti orang yang tidak punya, karena dia tidak  banyak bergerak dan  beramal. [1]

            Kalimat    “ Uskun “  berarti juga  “ tinggallah sementara “ . Artinya  perintah Allah di atas kepada Adam untuk tinggal di syurga bersifat sementara. Karena perintah “ tinggal-lah “  tidak berarti terus memiliki tempat tersebut dan  tinggal selamanya. . [2]

( 2 )             KAPAN DAN BAGAIMANA SITI HAWA DICIPTAKAN

            Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas bahwasanya ketika Adam tinggal di dalam syurga sendiri, dia merasa kesepian, ketika dia sedang tidur, diciptakanlah Siti Hawa dari tulak rusuknya yang pendek dari pinggang kirinya , agar Adam bisa merasa tenang berada di samping Siti Hawa.  Inilah arti firman Allah swt :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya ( qs Al A’raf : 189 )

Di dalam hadist Abu Hurairah ra bahwa Rosulullah saw bersabda : “ Sesungguhnya perempuanitu diciptakan dari tulak rusuk , “ di dalam riwayat lain disebutkan : “ sesungguhnya bagian yang bengkok dari tulang rusuk terdapat disebelah atas,  maka jika kalian bersenang-senang denganya akan kalian dapatkan sesuatu yang masih bengkok, dan jika anda ingin meluruskannya  hanyalah bisa dengan mematahkannya, yaitu dengan mencerainya . “[3]

Akan tetapi kalau kita melihat bunyi ayat secara seksama seakan-akan menunjukkan bahwa siti Hawa diciptakan sebelum Adam masuk syurga. Inilah yang dinyatakan oleh sebagian ulama dan dipilih oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. [4]

( 3 ) SYURGA YANG DITEMPATI NABI ADAM BERADA DI LANGIT ATAU DI BUMI.

            Mayoritas Ulama berpendapat bahwa syurga yang ditempati nabi Adam setelah diciptakan Allah adalah syurga yang ada di langit. [5] Mereka merujuk kepada dalil-dalil di bawah ini :

1./ Allah menyebutkan syurga pada ayat di atas dengan menggunakan «  alif lam «  yang berarti bahwa syurga yang ditempati Adam pada waktu itu adalah syurga yang sudah diketahui orang banyak, yaitu syurga yang berada di langit.

2/ Syurga ini , secara umum , jika  seseorang masuk ke dalamnya setelah hari kiamat, niscaya dia tidak akan keluar lagi darinya. Akan tetapi , jika ia masuk sebelum hari kiamat, kemungkinan  dia bisa keluar lagi, seperti yang terjadi pada diri nabi Adam, dan juga terjadi pada diri nabi Muhammad saw pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

3/ Di sana ada beberapa makhluk yang dikehendaki Allah bisa masuk syurga dan keluar lagi, seperti para malaikat . [6]

[1] Lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 205

[2] Lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 205

[3] Lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 205

[4] Tafsir Ibnu Katsir : 1/ 126

[5] Kelompok Mu’tazilah dan Qadariyah  berpendapat bahwa syurga yang ditempati nabi Adam pada waktu penciptaannya adalah syurga di bumi, tempatnya di daerah Adan, Yaman.  Mereka berdalil bahwa syuga yang dilangit, jika seseoang sudah masuk di dalamnya,niscaya dia tidak akan keluar lagi. Begitu juga di dalamnya tidak ada kebohongan dan tidak ada pula kemaksiatan, sedang Iblis di di alam syurga tersebut telah berbuat maksiat  dan berbohong kepada Adam  ( Tafsir Qurtubi : 1/ 207 ) Di dalam “ Kitab Muqaddas, di bab : Penciptaan : 7: 2-16  “ kitab suci orang  Kristen disebutkan juga  bahwa syurga nabi Adam tersebut berada di bumi . Oleh karenanya setiap negara mengaku bahwa daerahnya adalah syurga yang dahulu ditempati Adam as, sebagai contoh orang-orang Afrika mengaku bahwa syurga tersebut berada di daerah garis katulistiwa antara Tanzania dan Kenya, Orang Etopia mengaku syurga tersebut di daerah “ Habasyah “,  orang Yaman mengaku bahwa ia berada di daerah Adan, Orang Indian di Amerika Selatan mengaku ia di pegunungan Klorado, Orang Lebanon mengaku bahwa ia di kota Ihdan, begitu juga orang Iraq. Sebagian pendeta Kristen ,setelah mengamati secara seksama ayat-ayatyangada di “ Kitab Muqaddas “ cenderung untuk memilih bahwa syurga Adam tersebut berada di Timur Pelestina dekat dengan Iraq .
Untuk mengetahui masalah ini bisa dirujuk  Ibnu Qayyim “ Mifta dar As Sa’adah “ ,  dan  “ Hadi Al Arwah “ , hlm : 46 , Ibnu Katsir “ Bidayah wa Nihayah “ hlm :  69-71, Tafsir Ibnu Katsir :  1/ 126 , Ibnu Taimiyah “ Nubuwat “ : 2/ 705  , Majmu’ Fatawa  :  4/ 347 , Sidiq Khan, “  Yaqdho Ulil I’tibar, , hlm : 45,  Umar Al Asyqar , Al Janna wa Annar, hlm : 21
[6] Lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 208
Share:

Thursday, May 30, 2019

Buah Ramadhan

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.
 وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
 اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،
 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ،
 اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى :
﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumulLâh ...

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Hanya dengan takwa kita akan menggapai keberkahan hidup, terhindar dari berbagai kesempitan, dan disayang oleh Zat Yang Maha Penyayang.

Tanpa terasa kita sudah di penghujung Ramadhan. Bulan yang agung ini sebentar lagi akan meninggalkan kita. Kita tidak tahu, apakah kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan? Lalu, sudahkah kita memanfaatkan momentum Ramadhan ini dengan maksimal? Sudahkah ketakwaan kita bertambah melalui puasa Ramadhan kali ini? Ingat, buah Ramadhan adalah ketakwaan.

Karena sesuai firman Allah SWT:

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).

Seharusnya, setelah ditempa selama hampir sebulan puasa, kita sudah berubah menjadi hamba Allah yang lebih bertakwa.

Menarik apa yang disampaikan Umar bin Abdul Aziz rahimahulLâh, sebagaimana dikutip Imam as-Suyuthi dalam Ad-Durr al-Mantsûr, berkata:

لَيْسَ تَقْوَى اللَهِ بِصِيَامِ النَّهَارِ وَلاَ بِقِيَامِ اللّيْلِ والتَّخْلِيْطِ فِيْمَا بَيْنَ ذَلِكَ، وَلَكِنْ تَقْوَى اللَّهِ تَرْكُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَأَدَاءُ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ

Takwa kepada Allah itu bukanlah berpuasa pada siang hari, shalat pada malam hari dan memadukan keduanya. Namun, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang telah Allah haramkan dan menunaikan apa saja yang telah Allah wajibkan.

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumulLâh ...

Perlu kiranya kita memahami bagaimana hakikat takwa ini. Imam Ali ra menjelaskan hakikat takwa ini, dan prasyaratnya. Takwa adalah:

الخوف من الجليل والعمل بالتنزيل والإستعداد ليوم الرحيل

“Takut kepada Rabb yang Maha Agung. Menjalankan apa yang diturunkan Allah. Bersiap diri menghadapi Hari Kiamat.”

Maka tanda orang yang bertakwa, Pertama, dia hanya takut kepada Allah. Dia yakin bahwa Allah Maha Melihat, Allah Maha Tahu dan Maha segalanya. Dia pun yakin terhadap yang ghaib lainnya yang dikabarkan oleh Allah melalui Rasul-Nya: adanya malaikat yang selalu mengawasinya 24 jam penuh tanpa jeda, merekam semua aktivitas manusia tanpa kecualinya.

Yang kedua, orang yang bertakwa adalah amalu bi tanzil yakni melaksanakan ketaatan kepada Allah, dalam kondisi suka maupun berat hati.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al Ahzab: 36)

Ketika Allah memanggil mereka untuk melaksanakan shalat, mereka akan bergegas shalat karena mereka menyadari itu adalah perintah Allah. Ketika Allah perintahkan membayar zakar, mereka keluarkan zakat itu. Ketika Allah perintahkan berbuat baik kepada orang tuanya, dengan senang hati mereka membahagiakan orang tuanya. Dan ketika Allah perintahkan menerapkan syariah-Nya, mereka berada di garda terdepan mendakwahkan dan memperjuangkan Islam.

Sebaliknya, ketika Allah melarang riba, mereka tak berani mengambilnya meski hanya sedikit. Ketika Allah melarang mengambil harta orang lain, mereka tak berani korupsi, mengurangi timbangan, mencuri, dan menipu. Ketika Allah larang menyakiti sesama Muslim, mereka sayangi sesama Muslim dan tak berani menyakiti, mengkriminalisasi, bahkan menerornya.

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumulLâh ...

Semua itu dilakukan karena orang yang bertakwa senantiasa mengingat datangnya Hari Perhitungan yakni hidup setelah mati. Itulah tanda orang bertakwa yang ketiga.

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ
“dan sesungguhnya Hari Kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (QS Al Hajj: 7)

Di sanalah kita akan ditimbang amal kita. Siapa yang amal baiknya lebih berat timbangannya daripada amal buruknya, maka surga balasannya. Sebaliknya, jika amal buruknya lebih berat, neraka adalah yang paling pantas baginya.

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumulLâh ....

Lalu sudahkah di hari-hari terakhir Ramadhan ini kita sudah mencapai derajat takwa tersebut? Tanya diri kita masing-masing, apakah Ramadhan ini mengukirkan pada diri kita ketakutan hanya kepada Allah semata? Sudahkah nafsu berhasil kita tundukkan sehingga kita rela dengan seluruh perintah dan larangan Allah? Sudahkah kita ridha untuk melaksanakan ketaatan tanpa dalih-dalih lagi?

Kalau belum, di sisa waktu Ramadhan ini mari kita tingkatkan lagi amaliyah kita seraya memahami makna takwa yang hakiki. Jangan sia-siakan waktu yang ada.  Semoga, ketika Ramadhan meninggalkan kita, kita telah berubah menjadi manusia baru. Manusia yang bertakwa, manusia yang taat kepada Allah dan menjadi manusia yang dibanggakan oleh Rasulullah SAW.  Aamiin

 []
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِن الآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ المسبحة بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ


Share:

Monday, May 20, 2019

Pemimpin Akhir Zaman

Marilah kita berhati-hati jika sudah diberikan amanat berupa jabatan, karena apapun kebijakannya akan berpengaruh besar kepada orang banyak yang berada di bawah naungannya, akan pentingnya hal ini, marilah kita renungkan sabda Nabi saw:
سيأتى زمان علي امتي سلاطينهم كالاسد ووزراءهم كالذئب وقضئهم كالكلب وسائر الناس كالاغنام فكيف يعيش الغنام من الاسد والذئب والكلب ؟

Akan tiba satu waktu kepada umatku penguasanya seperti singa, para menterinya seperti serigala, dan hakim-hakimnya seperti anjing. Sementara itu umat kebanyakan bagaikan kambing. Bagaimana bisa kambing hidup diantara singa, serigala dan anjing?

Entah prediksi itu kapan terjadi, mungkinkah saat ini sudah terjadi?? Mungkinkah dengan maraknya kasus korupsi yang notabenenya adalah bagian dari kedhaliman besar bagi orang banyak merupakan kategori kedhaliman seorang penguasa?? Wallahu a’lam. Yang pasti dalam khutbah tersebut nampak sekali bahwa kambing tak mungkin bisa bertahan hidup lebih lama.

Agaknya penguasa yang tidak amanah akan membuat sengsara rakyatnya, kesengsaraan bak kesengsaraan kambing yang hidup di tengahtengah kawanan singa dan srigala. Mungkin juga ada kisah yang serupa dengan hadits di atas, Alkisah, Seorang penguasa dhalim di sebuah negara memanggil penasehatnya, ketika seorang penasehat itu datang kemudian sang penguasa bertanya, "Berikan aku nasihat. Amal apa yang paling utama untuk aku lakukan sebagai bekalku ke akhirat nanti?" Sang penasehat berkata, "Amal terbaik untuk sang raja adalah tidur." Raja itu keheranan, "Mengapa?" "Karena ketika tidur," jawab sufi itu, "baginda berhenti menzalimi rakyat. Ketika baginda tidur, rakyat dapat beristirahat dari kezaliman."

Betapa hinanya seorang penguasa yang dhalim, ,tidur yang menjadi aktifitas mati justru menjadi kebaikan tingkat tinggi baginya, karena tidak ada lagi kebaikan bagi seorang penguasa yang dhalim. Kebalikan dari penguasa dhalim adalah penguasa yang amanah mengemban kepercayaan orang banya dan memerintah dengan adil. Tak butuh modal besar untuk berbuat adil dan hampir semua penguasa mengerti bagaiman cara menerapkan keadilan dalam pemerintahannya, tetapi banyak yang enggan untuk melakukannya. Nabi Daud diperintah oleh Allah berbuat adil, dengan modal berbuat adil tersebut negerinya gemah ripah oh jinawi. Allah berfirman :QS. as-shad ayat 26:

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ.

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

Singa digambarkan sebagai hewan pemenang dalam kerakusannya, sementara srigala adalah hewan pemburu yang gesit dalam membidik mangsanya, adapun anjing adalah hewan penjilat. Dibalik jinaknya terhadap tuannya ia adalah hewan yang pandai menyimpan kebuasannya. Amat mengerikan orang orang yang hidup dalam era seperti itu. Kapankah era itu datang, sudahkan??? Atau Belum? Jawabnya ada pada benak kita masing-masing
Share:

Saturday, May 4, 2019

Welcome Ramadhan


Welcome Ramadhan, marhaban ya Ramadhan, bulan Ramadhan, bulan puasa, bulan seribu bulan datang lagi menjumpai kita. Mari kita sambut dengan suka cita, riang gembira. Berikut ini hal-hal yang berkaitan dengan Ramadhan:

Keutamaan Berpuasa Ramadhan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Semua amal anak Adam untuknya selain puasa, puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.” (sampai di sinilah hadits qudsinya). Puasa itu perisai, maka jika kamu sedang berpuasa, janganlah berkata kotor dan berteriak-teriak. Jika ada yang memaki atau mengajak bertengkar, katakanlah, “Saya sedang puasa”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi (Allah) yang nyawa Muhammad di Tangan-Nya, sungguh bau mulut  orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wangi kesturi. Bagi orang  yang berpuasa ada dua kegembiraan; kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya dengan puasanya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafaz ini adalah lafaz Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, Muslim, dll)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْهِ لَيْلَةٌ هِيَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, di mana Allah mewajibkan puasa di bulan itu kepada kamu. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan durhaka dibelenggu. Di bulan itu terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa dihalangi mendapatkan kebaikannya, maka ia telah terhalangi.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 55)
Tentang dibelenggu setan-setan, Al Mundziriy dalam At Targhib wat Tarhib berkata, “Bisa maksudnya bahwa para setan tidak bisa mengacaukan manusia secara murni, tidak seperti  di bulan lainnya karena kaum muslimin sibuk berpuasa yang dapat mengalahkan syahwat, demikian juga sibuk membaca Alquran dan menjalankan ibadah lainnya.”
Ancaman Meninggalkan Puasa Ramadhan
Abu Umamah Al Bahiliy radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أَتَانِيْ رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبُعِيْ فَأَتَيَا بِي جَبَلًا وَعْرًا فَقَالاَ اِصْعَدْ فَقُلْتُ إِنِّيْ لاَ أُطِيْقُهُ فَقَالاَ إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِي سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا بِأَصْوَاتٍ شَدِيْدَةٍ قُلْتُ مَا هَذِهِ اْلأَصْوَاتُ قَالُوْا هَذَا عَوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ثُمَّ انْطَلَقَ بِيْ فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلِّقِيْنَ بِعَرَاقِيْبِهِمْ مُشَقَّقَّةً أَشْدَاقُهُمْ تَسِيْلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ مَنْ هَؤُلاَءِ قَالاَ الَّذِيْنَ يُفْطِرُوْنَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ
“Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua orang yang menghampiriku dan memegang  lenganku, kemudian membawaku ke sebuah gunung yang sulit didaki. Keduanya berkata, “Naiklah” aku berkata, “Aku tidak sanggup mendaki.” Keduanya berkata, “Kami akan memudahkannya untukmu.” Maka aku pun naik. Ketika aku telah berada di tengah gunung tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya, “Suara apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah longlongan penghuni neraka.” Lalu aku diajak berjalan, tiba-tiba aku bertemu dengan beberapa orang yang menggantungkan urat kakinya, sedangkan rahang mereka robek mengucurkan darah. Aku pun bertanya, “Siapakah mereka?” Keduanya menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum tiba waktunya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kedua shahihnya, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihut Targhib no. 1005)
Ancaman maksiat di Bulan Ramadhan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لمَ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْس للهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak mau meninggalkan kata-kata dusta dan beramal dengannya, maka Allah tidak lagi butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Makan Sahur
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً » .
“Bersahurlah, karena dalam makan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari-Muslim)
اَلسَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَ لَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ  .
“Makan sahur itu berkah, maka jangan kamu tinggalkan meskipun hanya meminum seteguk air, karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh  Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 3683)
Amr bin Maimun berkata, “Para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan menunda makan sahur.” (HR. Baihaqi dengan sanad yang sahih)

Catatan:
Batas akhir makan sahur adalah sampai terbit fajar, bukan dengan imsak (lihat surat Al Baqarah: 187).
Berdoa Ketika Berpuasa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ  :  دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَ دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
“Ada tiga doa mustajab: doa orang yang berpuasa, doa orang yang dianiaya dan doa musafir.” (HR. Al ‘Uqaili dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 3030)
Makan dan Minum Karena Lupa Saat Berpuasa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَكَلَ نَاسِياً وَهْوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ
“Barangsiapa makan karena lupa, sedangkan ia dalam keadaan puasa, maka lanjutkanlah puasanya, karena sesungguhnya Allah memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari)
Menyegerakan Berbuka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ » .
“Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berbuka Dengan Kurma, atau Dengan Air
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلْيُفْطِرْ عَلَى التَّمْرِ فَإِنْ لَمْ يَجِدِ
>التَّمْرَ فَعَلَى الْمَاءِ فَإِنَّ الْمَاءَ طَهُوْرٌ
“Jika salah seorang di antara kamu berpuasa, maka berbukalah dengan kurma. Jika tidak mendapatkan kurma, maka dengan air, karena air itu pembersih.” (HR. Abu Dawud, Hakim dan Baihaqi, Shahihul Jaami’ no. 746)
Doa Berbuka Puasa
Ibnu Umar berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka mengucapkan:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ اْبتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلاَ جْرُ اِنْ شَاء اللهُ
“Telah hilang rasa haus, telah basah tenggorokan dan semoga pahala tetap didapat Insya Allah.” (Hasan, HR. Abu Dawud dan Nasa’i)
Keutamaan Shalat Tarawih

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ اْلِإمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Sesungguhnya Barangsiapa melakukan qiyamullail bersama imam hingga selesai, maka akan dicatat shalat semalam suntuk.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, Shahihul Jaami’ no. 2417)
Bersedekah dan Memperbanyak Membaca Alquran
Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Kedermawanan Beliau lebih nampak lagi di bulan Ramadhan ketika ditemui oleh Jibril. Jibril biasa menemui Beliau di setiap malam bulan Ramadhan lalu Beliau bertadarus Alquran dengannya. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan terhadap kebaikan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُنْقَصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa memberi makan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang berpuasa itu tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala orang yuang berpuasa itu.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dll. Shahihul Jaami’ no. 6415)
Keutamaan berumrah di bulan Ramadhan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang wanita Anshar:
فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِى فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً
“Ketika tiba bulan Ramadhan berumrahlah, karena berumrah di bulan Ramadhan sama seperti hajji.” (HR. Bukhari-Muslim)
Meningkatkan Ibadah Akhir Ramadhan
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ .
Dari Aisyah  radhiyallahu ‘anha ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh (terakhir bulan Ramadhan), menghidupkan malamnya, membangungkan keluarganya, serius beribadah dan mengencangkan sarungnya.” (HR., Muslim)
Anjuran Beri’tikaf di Bulan Ramadhan
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ : كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْماً .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf selama sepuluh hari pada setiap bulan Ramadhan. Namun pada tahun di mana Beliau akan wafat, Beliau melakukannya selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari).

Sumber : Fiqhus Sunnah (Syaikh Sayyid Saabiq), Al Adzkaar (Imam Nawawi),


Share:

Konsultasi dengan Gus Abduh

Data Kunjungan