Melatih dan Mencerahkan Jiwa

Dr. KH. Abduh Al-Manar, M.Ag.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah. Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

PAUD Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MI Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MTS Al-Iryadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Monday, February 24, 2020

Amalan Bulan Rajab

Tanggal 25 Februari 2020 sudah masuk tanggal 1 Rajab 1441, berikut ini adalah  keutamaan bulan Rajab, semoga bermanfaat .


*Sabda Rasulullah SAW :*

*روي عن النبي صلى الله عليه وسلم، أنه قال :*
Dari Nabi SAW, Beliau bersabda :

*ألا إن رجب شهر الله ،*
Ketahuilah bahwa bulan Rojab adalah Bulan Allah ,

*فمن صام منه يوما إيمانا واحتسابا استوجب عليه رضوان الله الا أكبر،*
Maka barangsiapa yg puasa sehari dari bulan Rojab dgn penuh keimanan & mencari keridhoan Allah SWT, maka dia berhak mendapat keridhaan Allah yg besar,

*ومن صام يومين لايصف الوصفون من أهل السماء والأرض ماله عند الله من الكرامة،*
Barangsiapa yg berpuasa dua hari dr bulan Rojab, maka siapapun dr penduduk langit & bumi, tidak akan dapat mensifati kemuliaan baginya yg ada di sisi Allah SWT,

*ومن صام ثلاثة أيام عوفي من كل بلاء الدنيا وعذاب الآخرة، والجنون، والجذام، والبرص، ومن فتنة الدجال،*
Dan barangsiapa berpuasa tiga hari dr bulan Rojab, maka diselamatkan dari setiap bencana dunia & azab akhirat, serta diselamatkan dr penyakit gila, kusta & lepra, serta dr fitnah dajjal,

*ومن صام سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم،*
Barangsiapa yang berpuasa tujuh hari dr bulan Rojab, maka tujuh pintu neraka jahannam ditutup baginya,

*ومن صام ثمانية أيام فتحت له ثمانية أبواب الجنة،*
Barangsiapa yang berpuasa delapan hari dr bulan Rojab, maka delapan pintu Syurga dibuka baginya,

*ومن صام عشرة أيام لم يسأل من الله إلا أعطاه إياه،*
Barangsiapa yang berpuasa sepuluh hari dr bulan Rojab, maka tidaklah dia minta sesuatu kepada Allah, pasti Allah akan memberikannya,

*ومن صام جمسة عشرة أيام غفر الله ذنوبه ما تقدم وبدله سيئاته حسنات،*
Barangsiapa yang berpuasa lima belas hari dr bulan Rojab, maka dosa-dosanya yg lalu, keburukan-keburukannya diganti dgn kebaikan-kebaikan,

*ومن زاد زاد الله أجره*
Dan barangsiapa berpuasa lebih dr bilangan itu, maka Allah SWT melebihkan pahala baginya.


_*TASBIH BULAN RAJAB*_

Tasbih ini dibaca setiap hari sebanyak 100x.

*- Dari tanggal 1 Rajab sampai tanggal 10 Rojab :*

*سبحان الله الحي القيوم*
(Subhanallahil Hayyil Qoyyum)

*- Dari tanggal 11 Rajab sampai tanggal 20 Rajab :*

*سبحان الله الأحد الصمد*
(Subhanallahil Ahadish Shomad)

*- Dari tanggal 21 Rajab sampai tanggal 30 Rajab :*

*سبحان الله الرؤف*
(Subhanallahir Roouuf)


_*ISTIGHFAR BULAN RAJAB*_

Dibaca setiap pagi & sore  dgn mengangkat kedua tangan, niscaya dia tidak akan tersentuh oleh api neraka.

*رب اغفرلي وارحمني وتب علي*
(Robbighfirliy Warhamniy Watub 'Alayya)

Dan setengah daripada kelebihan istighfar : "Barangsiapa membaca pada bulan Rajab, Sya'ban & Ramadhan pd tiap-tiap hari antara shalat ashar & Maghrib, yaitu :

*استغفرالله العظيم الذي لا اله إلا هو الحي القيوم، غفارالذنوب، وستار العيوب، واتوب إليه، توبة عبد، ظالم لنفسه، لا يملك ضرا ولا نفعا والاموات ولاحياة ولا نشورا*
(Astaghfirullahal 'Adziim, Alladziy Laa Ilaahailla Huwal Hayyul Qoyyuum, Ghogffarudz Dzunuubi, Wa Sattaarul 'Uyuubi, Wa Atuubu Ilayhi, Taubata 'Abdin, Zhoolimin Li Nafsihi, Laa Yamliku Dhorron Wa Laa Naf'an Wa Laa Mautan Wa Laa Hayaatan Wa Laa Nusyuuron).

Maka niscaya Allah memerintahkan kepada dua malaikat yg mencatat amal perbuatan, untuk merobek buku catatan dosanya & kesalahannya.


_*DO'A PADA TANGGAL 27 RAJAB*_

Barangsiapa membaca do'a ini pada tanggal 27 Rajab, dan berkehendak apa-apa yg dimaksud, niscaya Allah menerima akan permintaannya, (dibaca beberapa kali) :

*اللهم إني أسألك بمشاهدة اسرار المحبين، وبالخلوة التي خصصت بها سيدالمرسلين، حين أسريت به ليلة السابع والعشرين، أن ترحم قلبي الحزين، وتجيب الدعوة يااكرم الا كرمين*
(Allahumma Innii As Aluka Bimusyaahadati Asrooril Muhibbiin, Wabil Khulwatil Latiy Khoshshoshtu Bihaa Sayyidal Mursaliin, Hiina Asroyta Bihii Lailatas Saabi'i Wal 'Isyriin, An Tarhama Qolbiyal Haziin, Wa Tujiybad Da'wata Yaa Akromal Akromiin).


_*Faidah :*_
Barangsiapa yang membaca pada hari Jum'at terakhir dari bulan Rajab, saat Khatib berada di Mimbar, niscaya tidak putus uang dari tangannya di dalam tahun ini.

Ini do'anya :

*أحمد رسول الله، محمد رسول الله*
(Ahmadu Rosulullah, Muhammadur Rosulullah).
Share:

Saturday, February 22, 2020

Nabi Musa Ingin Melihat Allah


TAFSIR AL BAQARAH 55 56

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya".

Dan ingatlah ketika kalian berkata “Wahai Musa Kami tidak akan mempercayai bahwa perkataan yang kami dengar darimu adalah Firman Allah, hingga kami dapat melihat Allah dengan mata kami. Maka turunlah api halilintar dari langit yang kalian dapat melihatnya dengan mata kalian secara langsung, maka api itu membinasakan kalian akibat dosa dosa kalian dan kelancangan kalian terhadap Allah Azza wa Jalla.

Tafsir Al-Muyassar Al-Baqarah ayat 55. Dan ingatlah ketika leluhurmu dengan berani berbicara kepada Musa -'alaihissalām-, “Kami tidak akan beriman kepadamu sampai kami melihat Allah secara nyata tanpa ada penghalang sedikitpun.” Kemudian kalian disambar oleh api yang membakar dan membunuh kalian. Lalu kalian saling pandang satu sama lain.

Tafsir Al-Mukhtashar Al-Baqarah ayat 55. وَإِذْ قُلْتُمْ Yang berkata disini adalah 70 orang yang telah dipilih oleh Musa. جَهْرَةً Yakni melihat secara langsung dengan mata telanjang. فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ Yakni api dari langit yang menyambar mereka sehingga mereka meninggal. وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ Yakni melihatnya dengan mata telanjang . Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah Ingatlah ketika 70 orang yang dipilih Musa untuk menyaksikan wahyu dan mendapatkan Taurat di gunung Thur berkata: “Kami tidak akan membenarkan apa yang engkau datangkan kepada kami sampai kami melihat Allah dengan mata kepala kami sendiri”. Kemudian datang di atas mereka cahaya dari langit dan menghancurkan mereka dan kalian menganggap hal itu sebagai ujian. Penyebab peristiwa itu adalah permintaan mereka atas apa yang belum diizinkan oleh Allah berupa permintaan untuk melihatNya di dunia. Adapun di akhirat maka sesungguhnya hamba Allah dapat melihat Tuhannya sesuai dalil dari kumpulan hadits-hadits mutawatir

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili Jika seseorang mengucapkan suatu perkataan dan orang-orang yang mendengarkan ucapan itu tidak mengingkarinya, maka sesungguhnya itu adalah penguatan bagi semuanya, karena sikap itu merupakan dalil atas keridhoan mereka terhadapnya, dan ini adalah asas pada apa yang Allah katakan tentang Bani Israil yang hidup pada kenabian, ketika Allah menegur mereka atas perbuatan orang-orang terdahulu sebelum mereka, sebagaimana yang dituliskan dalam firman-Nya : { وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً } dan ayat lainnya, dan sebagaimana yang diketahui bahwasanya orang-orang yahudi yang hidup pada zaman kenabian bukanlah mereka yang mengatakan hal itu.

Makna kata : نَرَى ٱللَّهَ جَهۡرَةٗ Narollaha jahrotan : Kami melihat Allah dengan mata telanjang. ٱلصَّٰعِقَةُ Ash-Sho’iqoh : Kilat yang menyala bersama dengan awan yang menurunkan hujan dan petir. Makna ayat : Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan kejadian lain yaitu ketika Bani Israil menyembah patung anak sapi yang menyebabkan mereka murtad, Musa memilih (dengan perintah dari Allah) 70 orang lelaki pilihan yang tidak menyembah berhala, untuk pergi bersama Musa ke bukit Tursina meminta pengampunan kepada Allah Ta’ala karena perbuatan saudara-saudaranya menyembah berhala. Ketika sampai di sana, mereka berkata kepada Musa,”Mintalah kepada Rabbmu untuk memperdengarkan kalamNya”. Maka Allah berkata,”Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tidak ada sesembahan selainKu. Aku telah mengeluarkan kalian dari Mesir karena tangan besi Fir’aun, maka sembahlah Aku dan jangan beribadah kepada selainKu.” Ketika Musa memberitahukan kepada orang-orang yang dibawanya bahwa syarat diterima taubat dengan membunuh diri-diri mereka. Maka mereka berkata,”Kami tidak akan beriman kepadamu, yaitu tidak mengikuti ucapanmu bahwa kami membunuh satu sama lain sampai kami melihat Allah dengan mata kepala.” Ini adalah dosa yang amat besar mereka perbuat karena mendustakan rasulnya, maka Allah murka dan menurunkan adzabNya berupa kilat yang menyambar sehingga mencelakakan mereka. Pelajaran dari ayat : •     Kehidupan ini hakikatnya adalah untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala dengan beribadah hanya kepadaNya.
Aisarut Tafasir / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, pengajar di Masjid Nabawi Mereka tidak percaya bahwa perkataan yang disampaikan Musa dari Allah adalah firman Allah Ta'ala. Maksudnya: melihat Allah dengan mata kepala. Yang menjadikan mereka mati atau pingsan disebabkan dosa mereka itu dan lancangnya mereka terhadap Allah Ta'ala, karena permintaan semacam ini menunjukkan keingkaran dan ketakaburan mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai hukuman dari Allah. Kejadian itu disaksikan oleh mereka, di mana masing-masing mereka melihat kepada kawannya yang terkena sambaran itu.

Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Musa a.s. yang isinya mengatakan bahwa mereka yang tujuh puluh orang itu termasuk orang-orang yang menyembah anak lembu. Setelah itu Allah menghidupkan mereka; mereka bangkit dan hidup seorang demi seorang, sedangkan sebagian dari mereka melihat sebagian yang lain dalam keadaan dihidupkan. Yang demikian itu adalah makna yang terkandung di dalam firman-Nya:
Sesudah itu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mati, supaya kalian bersyukur. (Al-Baqarah: 56)
Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan bahwa kematian mereka itu merupakan hukuman bagi mereka, kemudian mereka dihidupkan kembali sesudah mati untuk menunaikan ajal (sisa umur)nya. Hal yang sama dikatakan pula oleh Qatadah.

Ibnu Jarir meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnul Fadl, dari Muhammad ibnu Ishaq yang mengatakan bahwa tatkala Musa kembali kepada kaumnya dan ia melihat apa yang mereka kerjakan, yaitu menyembah anak lembu, dan ia mengatakan apa yang telah dikatakannya kepada saudaranya (Harun), juga kepada Samiri, lalu ia membakar patting anak lembu itu dan menaburkan abunya ke laut, kemudian ia memilih tujuh puluh orang lelaki yang terbaik dari kalangan kaumnya. Ia berkata kepada mereka, "Berangkatlah kalian ke tempat yang telah dijanjikan oleh Allah, bertobatlah kalian kepada Allah atas apa yang telah kalian perbuat, dan mohonlah tobat kepadaNya atas orang-orang yang kalian tinggalkan di belakang kalian dari kalangan kaum kalian. Berpuasalah kalian, bersucilah, dan bersihkanlah pakaian kalian."

Kemudian Musa a.s. berangkat membawa mereka menuju Bukit Tursina pada waktu yang telah dijanjikan oleh Allah kepadanya. Musa tidak pernah datang kepada-Nya kecuali dengan seizin dan restu dari-Nya.
Menurut riwayat yang sampai kepadaku, ketujuh puluh orang itu di saat mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh Musa dan mereka berangkat untuk menjumpai Allah, mereka berkata kepada Musa, "Hai Musa, mohonkanlah bagi kami kepada Tuhanmu agar kami diperkenankan dapat mendengar kalam Tuhan kami." Musa menjawab "Baiklah."
Ketika Musa mendekati bukit tersebut, maka datanglah awan yang menaunginya hingga menutupi seluruh bukit, lalu Musa mendekat dan masuk ke dalam awan tersebut, setelah itu is berkata kepada kaumnya, "Mendekatlah kalian." Musa a.s. apabila diajak bicara oleh Allah, maka memancarlah dari keningnya nur yang cemerlang, tiada seorang pun dari Bani Adam yang mampu memandangnya; maka Allah membuat hijab (penutup) bagi nur tersebut. Lalu kaum pun mendekat. Ketika mereka masuk ke dalam awan tersebut, mereka menyungkur sujud dan mereka mendengar suara Allah yang sedang berbicara kepada Musa a.s. memerintah dan melarangnya dengan ucapan, "Lakukanlah," atau "Janganlah kamu lakukan."
Ketika Allah Swt. selesai berbicara kepada Musa, tersingkaplah awan tersebut, dan Musa menghadap ke arah mereka; temyata mereka berkata kepada Musa a.s., seperti yang disitir oleh firman-Nya:
Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang. (Al-Baqarah: 55)
Maka mereka tertimpa oleh gempa dahsyat —yaitu saa’iqah— hingga mereka mati semuanya. Lalu Musa a.s. bangkit meminta tolong kepada Tuhannya dan berdoa, memohon kepadanya seraya berkata, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini.    (Al A’raaf:155)

Mereka benar-benar tidak mengerti, apakah Engkau membinasakan orang-orang yang berada di belakangku dari kalangan Bani Israil karena perbuatan orang-orang yang bodoh dari kalangan kami? Dengan kata lain, sesungguhnya hal ini merupakan kebinasaan bagi mereka. Aku memilih tujuh puluh orang terbaik dari kalangan mereka agar aku kembali nanti bersama mereka, sedangkan sekarang tiada seorang pun dari mereka yang tersisa. Apakah yang menjadi bukti bagiku buat mereka agar mereka mau percaya kepadaku dan beriman kepadaku sesudah peristiwa ini? Sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau.

Musa a.s. terus-menerus memohon kepada Tuhannya dan meminta hingga Allah mengembalikan roh mereka kepada mereka, lalu Musa a.s. memohon kepada Allah ampunan dan tobat bagi Bani Israil yang telah menyembah anak sapi. Maka Allah berfirman, "Tidak, kecuali jika mereka membunuh diri mereka sendiri." Demikianlah menurut konteks (lafaz) yang diketengahkan oleh Muhammad ibnu Ishaq.

Ismail ibnu Abdur Rahman As-Saddi Al-Kabir mengatakan, "Setelah kaum Bani Israil tobat dari menyembah anak lembu dan Allah menerima tobat mereka dengan cara sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepada mereka, lalu Allah memerintahkan kepada Musa agar datang membawa semua orang dari kalangan Bani Israil untuk memohon maaf kepada Allah atas penyembahan mereka terhadap anak lembu. Musa a.s. mengadakan suatu perjanjian dengan mereka, lalu memilih tujuh puluh orang dan kalangan mereka, yaitu orang-orang yang ditunjuknya secara tertentu. Kemudian ia berangkat bersama mereka untuk meminta maaf kepada Allah. Hingga akhir hadis." Konteks hadis ini memberikan pengertian bahwa khitab yang terdapat di dalam firman berikut ditujukan kepada Bani Israil, yaitu:

Dan (ingatlah) ketika kalian berkata, "Hai Musa, kami tidak akan beriman sebelum kami melihat Allah dengan terang." (Al Baqarah: 55)

Makna yang dimaksud ialah, mereka yang tujuh puluh orang tersebut yaitu yang dipilih oleh Musa a.s. dari kalangan mereka. Kebanyakan ulama tafsir tidak meriwayatkan kisah ini selain dari Ismail ibnu Abdur Rahman sendiri.
Ar-Razi di dalam kitab tafsirnya menilai garib kisah yang menceritakan perihal ketujuh puluh orang tersebut, yaitu setelah mereka dihidupkan kembali oleh Allah, mereka berkata, "Hai Musa, sesungguhnya kamu tidak sekali-kali meminta sesuatu kepada Allah melainkan Dia memberimu, maka doakanlah semoga Allah menjadikan kami sebagai nabi-nabi-Nya." Kemudian Musa a.s. berdoa memohon hal itu kepada Allah, dan Allah memperkenankan doanya.

Riwayat ini sangat garib (asing), mengingat di masa Nabi Musa tidak ada nabi lain kecuali Harun, kemudian Yusya' ibnu Nun. Kaum ahli kitab keliru pula dalam dakwaan mereka yang mengatakan bahwa mereka yang tujuh puluh orang itu telah melihat Allah Swt. dengan terang-terangan. Karena sesungguhnya Musa yang diajak bicara oleh Allah Swi sendiri pemah meminta hal tersebut, tetapi ditolak, mana mungkin hal tersebut diperkenankan bagi mereka.

Pendapat kedua mengenai makna ayat ini disebutkan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam dalam tafsir ayat, ini, bahwa tatkala Musa kembali dari sisi Tuhannya kepada kaumnya dengan membawa yang padanya termaktub kitab Taurat, maka ia menjumpai mereka sedang menyembah anak lembu. Maka ia memerintahkan kepada mereka agar membunuh diri mereka sendiri dan mereka melakukannya, lalu Allah menerima tobat mereka. Musa berkata kepada mereka, "Sesungguhnya lembaran-lembaran ini berisikan Kitabullah, di dalamnya terkandung urusan kalian yang diperintahkan oleh Allah dan larangan-Nya yang hams kalian jauhi." Mereka bertanya, "Siapakah yang mau percaya kepada omonganmu itu? Tidak, demi Allah, kecuali jika kami dapat melihat Allah dengan terang hingga Allah sendirilah yang menyerahkannya kepada kami, lalu Dia berfirman, `Inilah Kitab-Ku, maka ambillah oleh kalian!' Maka mengapa Allah tidak mau berbicara kepada kami sebagaimana Dia berbicara kepadamu, hai Musa?" Abdur Rahman ibnu Zaid membacakan firman-Nya:

Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang. (Al-Baqarah: 55)
dan melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Allah murka, lalu terjadilah halilintar sesudah tobat mereka, kemudian mereka disambar oleh halilintar itu hingga semuanya mati. Setelah itu Allah menghidupkan mereka kembali. Abdur Rahman Ibnu Zaid membacakan firman-Nya:

Setelah itu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mad, supaya kalian bersyukur. (Al-Baqarah: 56)
Musa a.s. berkata kepada mereka, "Ambillah Kitabullah ini!" Mereka menjawab, "Tidak." Musa a.s. berkata, "Apakah yang telah menimpa kalian?" Mereka menjawab, "Kami mengalami mati, kemudian kami dihidupkan kembali." Musa a.s. berkata, "Terimalah Kitabullah ini." Mereka menjawab, "Tidak." Maka Allah mengirimkan malaikat, lalu malaikat mencabut bukit dan mengangkatnya di atas mereka. Konteks riwayat ini menunjukkan bahwa mereka dikenakan taklif (paksaan) untuk mengamalkan kitab itu sesudah mereka dihidupkan kembali.

Al-Mawardi meriwayatkan dua pendapat sehubungan dengan masalah ini: Pertama, taklif (paksaan) tersebut tidak ada, mengingat mereka telah menyaksikan perkara tersebut secara terang-terangan, sehingga terpaksa mereka mempercayainya. Kedua, mereka dikenakan taklif agar tiada seorang pun yang berakal melainkan terkena. Al-Qurtubi mengatakan bahwa pendapat yang kedua inilah yang benar, karena kesaksian mereka terhadap perkara-perkara yang menakjubkan bukan berarti menggugurkan taklif dari pundak mereka, mengingat kaum Bani Israil memang telah menyaksikan banyak perkara besar yang bertentangan dengan hukum alam. Akan tetapi, sekalipun demikian mereka tetap dikenakan taklif dalam hal tersebut.

Share:

Monday, February 10, 2020

Akhlak Pelajar

Akhlak Pelajar pada dirinya sendiri



Etika pelajar terhadap dirinya sendiri ada sepuluh macam, yaitu: 

Pertama,Harus mensucikan hatinya dari setiap sesuatu yang mempunyai unsur menipu, kotor, penuh rasa dendam, hasud, keyakinan yang tidak baik, dan budi pekerti yang tidak baik, hal itu dilakukan supaya ia pantas untuk menerima ilmu, menghafalkannya, meninjau kedalaman maknanya dan memahami makna yang tersirat”. 

Kedua, Harus memperbaiki niat dalam mencari ilmu, dengan tujuan untuk mencari ridha Allah SWT, serta mampu mengamalkannya, menghidupkan syari’at, untuk menerangi hati, menghiasi batin dan mendekatakn diri kepada Allah SWT. Tidak bertujuan untuk memperoleh tujuan-tujuan duniawi, misalnya menjadi pimpinan, jabatan, harta benda, mengalahkan temansaingan, biar dihormati masyarakat dan sebagainya. 

Ketiga, Harus berusaha sesegera mungkin memperoleh ilmu diwaktu masih belia dan memanfaatkan sisa umurnya.Jangan sampai tertipu dengan menunda-nunda belajar dan terlalu banyak berangan-angan, karena setiap jam akan melewati umurnya yang tidak mungkin diganti ataupun ditukar”. Seorang pelajar harus memutuskan urusan-urusan yang merepotkan yang mampu ia lakukan, juga perkara-perkara yangbisa menghalangi kesempurnaan mencari ilmu, serta mengerahkan segenap kemampuan dan bersungguh-sungguh dalam menggapai keberhasilan.Maka sesungguhnya hal itu akanmenjadi pemutus jalan proses belajar. 

Keempat, Harus menerima apa adanya (qana’ah) berupa segala sesuatu yang mudah ia dapat, baik itu berupa makanan atau pakaian dan sabar atas kehudipan yang berada dibawah garis kemiskinan yang ia alami ketika dalam tahap proses mencari ilmu, serta mengumpulkan morat-maritnyahati akibat terlalu banyaknya angan-angan dan keinginan, sehingga sumber-sumber hikmah akan mengalir kedalam hati. 

Imam Al Syafi’i telah berkata: “Orang yang mencari ilmu tidak akan bisa merasa bahagia, apabila ketika mencari ilmu disertai dengan hati yang luhur dan kehidupan yang serba cukup, akan tetapi orang-orang yang mencari ilmu dengan perasaan hina, rendah hati, kehidupan yang serba sulit dan menjadi pelayan para ulama’, dialah orang yang bisa merasakan kebahagiaan. 

Kelima, Harus bisa membagi seluruh waktu dan menggunakannya setiap kesempatan dari umurnya, sebab umur yang tersisa itu tidak ada nilainya. 

Waktu yang paling ideal dan baik digunakan oleh para pelajar:Waktu sahur digunakan untuk menghafalkan. Waktu pagi digunakan untuk membahas pelajaran. Waktu tengah hari digunakan untuk menulis. Waktu malam digunakan untuk meninjau ulangdan mengingat pelajaran. 

Sedangkan tampat yang paling baik digunakan untuk menghafalkan adalah di dalam kamar dan setiap tempat yang jauh dari perkara yang bisa membuat lupa. Tidak baik menghafalkan pelajaran didepan tumbuh-tumbuhan, tanaman-tanaman yang hijau, di tepi sungai dan ditempat-tempat yang ramai. 

Keenam, Harus mempersedikit makan dan minum, karena apabila perut dalam keadaan kenyang maka akan menghalangi semangat ibadah dan badan menjadi berat. 

Salah satu faedah mempersedikit makan adalah badan menjadi sehat dan mencegah penyakit tubuh. Karena penyebab hinggapnya penyakit adalah terlalu banyak makan dan minum, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair: 

Sesungguhnya penyakit yang kau saksikan itu kebanyakan # 

Timbul dari makanan dan minuman 

Sedangkan sehatnya hati itu terhindar dari perbuatan lacur, melampaui batas dan sombong, dan tidak tampak seorangpun dari para kekasih Allah, para pemimpin ummat dan para ulama’ yang terpilih yang bersifat atau mempunyai ciri seperti itu; banyak makan dan tidak akan terpuji karenanya. Banyak makan akan menjadihanya pada binatang yang tidak berakal dan dipersiapkan untuk bekerja. 

Ketujuh, Harusmengambil tindakan terhadap dirinya sendiri dengan sifat wira’i (menjaga diri dari perbuatan yang bisa merusak harga diri) serta berhati-hati dalam setiap keadaan, memperhatikan kehalalan makanannya, baik itu berupa makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal dan setiap sesuatu yang ia butuhkan, agar hatinya terang dan pantas untuk menerima ilmu, cahaya ilmu dan mengambil kemanfaatan ilmu. Seyogyanya pencari ilmu juga menggunakan kemudahan kemudahan padatempatnya ketika dibutuhkan dan adanya sebab–sebabnya, karena Allah menyukai kemurahan –kemurahannya dilaksanakan sebagaimana Dia menyukai ketetapan-ketetapanNya dilaksanakan. 

Kedelapan,Harus mempersedikit makan yang merupakan salah satu sebab tumpulnya otak (dedel: Jawa), lemahnya panca indra, seperti buah apel yang masam, kacang sayur, minum cuka’, begitu juga makanan yang menimbulkan banyak dahak, yang dapat mempertumpul akal fikiran dan memperberat badan, seperti terlalu banyak minum susu, makan ikan dan yang lain sebagainyaSeyogianya juga ia menjauhkan diri dari hal-hal yang menyebabkan lupa secara khusus seperti memakan makanan yang telah dimakan tikus, membaca tulisan di maesan (pathok pekuburan), masuk di antara dua ekor unta yang ditarik dan menjatuhkan kutu dalam keadaan hidup. 

Kesembilan, Harus berusaha untuk mengurangi tidur selama tidak menimbulkan bahaya pada tubuh dan akal pikirannya. Jam tidur tidak boleh melebihi dari delapan jam dalam sehari semalam. Dan itu sepertiga dari waktu satu hari (dua puluh empat jam). Jika keadaannya memungkinkan untuk beristirahat kurang dari sepertiganya waktu dalam sehari semalam maka ia dipersilahkan untuk melakukannya.Apabila ia merasa terlalu lelah, maka tidak ada masalah untuk memberikan kesempatan beristirahat terhadap dirinya, hatinya dan penglihatannya dengan cara mencari hiburan, bersantai ke tempat-tempat hiburan sekiranya pulih kembai dan tidak menyia-nyiakan waktu. 

Kesepuluh, Harus meninggalkan pergaulan, karena meninggalkannya itu lebih penting dilakukan bagi pencari ilmu, apalagi bergaul dengan lawan jeniskhususnyajika terlalu banyak bermain dan sedikit menggunakan akal fikiran, karena watak dari manusia adalah banyak mencuri kesempatan (nyolongan).Bahaya dari pergaulan adalah menyia-nyiakan umur tanpa guna dan berakibat hilangnya agama, apabila bergaul bersama orang yang tidak beragama.Jika ia membutuhkan orang yang bisa menemaninya, maka orang itu harus shaleh, kuat agamanya, takut kepada Allah, wira’i, bersih hatinya, banyak berbuat kebaikan, sedikit berbuat kejelekan, memilki harga diri yang baik, sedikit perselisihannya (tidak ngeyelan).Jika ia lupa, maka temannya mengingatkan, dan bila ia ingat, maka berarti temannya telah menolongnya.
Share:

Saturday, January 18, 2020

4 Macam Hati

Ada empat macam hati :
1. Qalbun ajrad (hati yang murni)

Adapun hati yang murni yaitu hati yang terlepas dan selamat dari selain Allah Azza wajalla dan rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam, maka hati itu telah terlepas serta selamat dari apa-apa selain kebenaran (selamat dari kesesatan dan penyimpangan). Padanya ada lentera yang menerangi, itulah lentera keimanan. Disebut kemurnian menuju keselamatan dari berbagai macam syubuhat (kerancuan-kerancuan) kebathilan dan syahwat yang jahat. Juga di dalam hati tersebut terdapat lentera yang bercahaya terang dengan cahaya ilmu dan keimanan.

2. Qalbun aghlaf (hati yang tertutup)

Disebut hati yang tertutup sebagai hati yang dimiliki orang kafir, karena hati orang kafir masuk ke dalam tutupan. Maka tidak akan sampai kepadanya cahaya ilmu dan keimanan. Sebagaimana Allah Ta’ala menceritakan tentang orang-orang Yahudi,

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلا مَا يُؤْمِنُونَ

“Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah melaknat mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (Al Baqarah: 88)

Ghulf adalah jamak dari aghlaf, makna aghlaf adalah yang masuk ke dalam tutupannya, maka hati yang ghulf artinya hati yang masuk ke dalam tutupannya.

Dan tutupan ini disebut juga dengan al akinnah yang Allah Azza wajalla telah letakkan di atas hati-hati mereka sebagai hukuman akibat bagi mereka yang menolak kebenaran dan sombong dari menerima kebenaran. Maka menjadilah hukuman itu sebagai penutup atas hatinya dan sebagai penutup atas pendengarannya, dan sebagai penutup atas penglihatannya. Inilah tabir penutup yang tidak terlihat oleh mata-mata kita.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا. وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا

“Dan apabila kamu membaca Al Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.” (Al Israa’: 45-46)

Apabila disebutkan perkara memurnikan tauhid dan mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam maka orang-orang yang memiliki hati ini akan berpaling ke belakang.

3. Qalbun mankus (hati yang terbalik)

Disebut hati yang terbalik kepada hatinya orang-orang munafik sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? (An Nisaa’: 88)

Allah Subhanahu wata’ala telah membalikkan mereka dan mengembalikan mereka kepada kebathilan yang dahulu mereka pernah di dalamnya. Itu semua disebabkan upaya mereka dan amalan mereka yang bathil.
Ini adalah hati yang paling jelek dan paling keji, karena dia meyakini yang bathil itu sebagai kebenaran dan berloyalitas kepada pengikutnya, dan menganggap kebenaran sebagai sesuatu yang bathil kemudian memusuhi orang-orang yang mengikuti kebenaran. Allahul musta’an.

4. Qalbun tamaduhu ma datan (hati yang memiliki dua unsur)

Disebut hati yang padanya memiliki dua unsur kepada hati yang keimanannya belum mantap dan lenteranya belum bersinar di mana dia belum bisa memurnikan dri untuk kebenaran yang Allah Ta’ala utus dengannya rasul-Nya bahkan dalam hati itu hanya ada sebagian unsur keimanan dan ada pula unsur yang menyelisihinya. Terkadang dia lebih dekat kepada kekufuran daripada keimanan dan terkadang dia lebih dekat kepada keimanan daripada kekufuran dan hukum itu kembali kepada mana yang lebih mendominasi.

[Disalin dari kitab Ighatsatul Lahafan min Mashaidisy Syaithan, Karya Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah]
Share:

Friday, January 10, 2020

Jangan Menuduh Allah

Al-Hikam Pasal 29

طلبُكَ منهُ اِتـِّهامٌ لهُ وطلَبُكَ لهُ غيْبَة ٌمنكَ عنـْهُ وطلبكَ لغيرِهِ لقِلَّةِ حياءـكَ منهُ وطلَبُكَ من غيرهِ لِوُجُودِ بُعْدِكَ عَنْهُ
"Permintaanmu dari Alloh mengandung pengertian menuduh Alloh, khawatir tidak memberimu. Dan engkau memohon kepada Alloh supaya mendekatkan dirimu kepada-Nya, berarti engkau masih merasa jauh dari pada-Nya".
Syarah
Dan engkau memohon kepada Alloh untuk mencapai kedudukan dunia dan akhirat, membuktikan tiada malunya engkau kepada-Nya, dan permohonanmu kepada sesuatu selain dari Alloh menunjukkan engkau jauh dari pada-Nya. Permohonan seorang hamba kepada Alloh terbagi dalam empat macam, dan kemudian kesemuanya itu tidak tepat bila diteliti dengan seksama dan mendalam. Permintaan kepada Alloh mempunyai pengertian menuduh, sebab sekiranya ia percaya bahwa Alloh akan memberi tanpa minta, ia tidak akan minta, disebabkan karena khawatir tidak diberi apa yang dibutuhkannya menurut pendapatnya, atau menyangka Alloh melupakannya, dan lebih jahat lagi bila ia merasa berhak, tetapi oleh Alloh belum juga diberi. Dan permintaanmu untuk taqarrub, menunjukkan bahwa engkau merasa ghaib dari pada-Nya. Sedang permintaanmu sesuatu dari kepentingan-kepentingan duniawi membuktikan tiada malunya engkau dari pada-Nya, sebab sekiranya engkau malu dari Alloh tentu tidak merasa ada kepentingan bagimu selain mendekat kepada-Nya. Sedang bila engkau minta dari sesuatu selain Alloh, membuktikan jauhmu dari pada-Nya, sebab sekiranya engkau mengetahui bahwa Alloh dekat kepadamu, tentu engkau tidak akan meminta selain kepada-Nya. Kecuali permintaan yang semata-mata untuk menurut perintah Alloh, karena hanya inilah yang benar.
Share:

Sunday, January 5, 2020

Keutamaan Ilmu dan Ulama

Allah berfirman :


يرفع الله الذين أمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات 

“ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara engkau dan orang –orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat “ (Q.S. Al-Mujadalah : 11). 

Artinya Allah akan mengangkat derajat para ‘ulama (orang yang ahli dalam bidang keilmuan), sebab mereka sanggup memadukanantara ilmu pengetahuan dan pengamalannya 

Ibnu Abbas telah berkata ra.: “Derajat ulama’ itu jauh diatas orang mukmin dengan selisih tujuh ratus derajat, sedangkan jarak antara dua derajat kira-kira perjalanan lima ratus tahun”. 

Allah berfirman: 

شهد الله أنه لا إله إلا هو و الملائكة وأولو العلم …الاية 

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah memulai firmannya dengan menyebutDzatnya sendiri, kedua kalinya menyebut malaikat dan ketiga kalinya menyebutorang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. 

Cukuplah bagimu berpegang teguh pada ketiga hal ini untuk memperoleh untuk memperoleh kemulyaan, keutamaan dan keagungan. 

Allah berfirman: 

إنما يخشى الله من عباده العلماء 

“ sesungguhnya dari hamba-hamba Allah yang takut kepada Allah adalah para ‘ulama”.(Q. S. Al-Fathir : 28) 

Dan Allah juga berfirman: 

- إن الذبن أمنوا وعملوا الصالحات أولئك هم خير البرية 

- جزاؤهم عند ربهم جنات عدن تجري من تحتهاالانهار خالدين فيها أبدا رضي الله عنهم ورضوا عنه ذالك لمن خشي ربه 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baiknya makhluq“. 

“Balasan mereka disisi Tuhan mereka adalah surga and yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhanya” ( Q.S. Al Bayyinah:7-8 ). 

Dua ayat diatas menetapkan bahwa para ulama’ adalah orang-orang merasa takut kepada Allah.Orang yang merasa takut kepada Allah adalah termasuk sebaik-baik makhluq. Dengan demikian dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluq. 

Rasulullah bersabda: 

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين 

“Barang siapa yang dikehendaki baik oileh Allah , maka allahakan memberikan kefahaman terhadap ilmu fiqh” . 

Rasulullah juga bersabda: 

ألعلماء ورثة الأنبياء , وحسبك بهذه الدرجات مجدا وفخرا وبهذه الرتبة شرفا وذكرا, وإذا كان لا رتبة فوق النبوة فلا شرف فوق شرف الوراثة لتلك الرتبة 

”‘Ulama’ adalah pewaris para Nabi, cukuplah bagimu dengan derajat ini untuk memperoleh sebuah keagunaan dan kebanggaan diri.Dan (cukuplah bagimu) dengan tingkatan ini untuk memperoleh kemuliaan dan panggilan yang agung. Ketika sudah tidak ada lagi tingkatan di atas tingkat kenabian, maka tidak ada satupun kemuliaan yang melebihi kemuliaan warisantingkatan tersebu”t. 

Ujung dari sebuah ilmu adalah pengamalan, karena pengamalanitu adalah buah dari ilmu itu sendiri, fungsi dari pada umur dan bekal untuk akherat nanti. 

Barang siapa yang memperoleh ilmu, maka ia akan bahagia.Barang siapa yang tidak memperolehnya, maka ia termasuk golongan orang–orang yang merugi. 

Suatu ketika di samping Rasulullah disebutkan ada dua orang laki-laki, yang pertama adalah orang yang ahli ibadah dan yang kedua adalah orang yang ahli ilmu. Kemudian Rasulullah berkata: “Keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan orang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku melebihi kalian semua”. 

Rasulullah SAW bersabda : 

طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة,و طالب العلم يستغفر له كل شيء حتى الحوت في البحر 

“Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang Islam laki-laki danperempuan.Orang yang mencari ilmu itu akan dimintakan ampun oleh setiap sesuatu yang ada dimuka bumi ini sampai ikan-ikan yang berada di lautan”. 

Rasulullah SAW bersabda: 

من غدا لطلب العلم صلت عليه الملائكة وبورك له في معيشته 

“Barang siapa berangkat pergi di pagi hari dengan tujuan mencari ilmu, maka para malaikat akan mendo’akannya dan diberkahi kehidupannya“. 

Rasulullah SAW bersabda: 

من غدا إلى المسجد لا يريد إلا أن يتعلم خيرا أو يعلمه كان له كاجر حج تام 

“Barang siapa yang berangkat pergi di pagi hari untuk kemasjid, sementara dia tidak menghendaki sesuatu kecuali untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarkan kebaikan, maka berhak memperoleh pahala seperti pahalanya orang yang melakukan ibadah haji secara sempurna”. 

Rasulullah SAW bersabda: 

ألعالم وا لمتعلم كهذه من هذه وجمع بين المسبحة والتي تليها شريكان في الاجر ولا خير في سائر الناس بعد 

“Orang yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan orang yang mempelajarinya seperti ini dari ini.Nabi mengumpulkan antara dua jari telunjuk, jari yang berdampingan merupakan dua jari yang saling bersekutu dalam hal kebaikan, dan tidak ada satupun kebaikan di kalangan seluruh manusia setelah proses belajar dan mengajar. 

Rasulullah S.A.W bersabda : 

أغدعالما أومتعلما أو مستمعا أو محبا لذلك ولا تكن الخامس فتهلك 

“Jadilah engkaupengajar atau pelajar atau pendengar atau pecinta terhadap ilmu pengetahuan.Dan janganlah engkaujadi orang kelima, karena hal itulah engkau akan binasa. 

Rasulullah SAW bersabda : 

تعلمواالعلم وعلموه الناس 

“Pelajarilah ilmu pengetahuan dan amalkanlah ilmu itu kepada manusia lainnya”. 

Rasulullah SAW bersabda: 

إذا رأيتم رياض الجنة فارتعوا فقيل يا رسول الله وما رياض الجنة, حلق الذكر 

“Apabila kalian semua melihat taman-taman surga, maka tempatilah!.Kemudian dikatakan, “WahaiRasulullah? apa yang dimaksud dengan taman surga itu?”.Beliau menjawab: “Taman surga itu adalah taman yang digunakan untuk diskusi atau pertukaran ilmu”. 

Imam Atha’ berkata: “Yang dimaksud taman surga itu adalah majlis-majlis yang digunakan untuk membahas masalah halal dan haram; bagaimana cara engkau melakukan jual beli, bagaimana cara engkau melakukan shalat, bagaimana cara engkau mengeluarkan zakat, bagaimana cara engkau melakukan ibadah haji yang sempurna, bagaimana cara engkau melakukan pernikahan, bagaimana cara engkau mencerai isteri dan lain sebagainya”. 

Rasulullah SAW bersabda: 

تعلموا العلم واعلمول به 

“Pelajarilah ilmu pengetahuan dan amalkanlah ilmu itu”. 

Rasulullah SAW bersabda: 

تعلموا العلم وكونوا من أهله 

“Pelajarilah ilmu pengetahuan dan jadilah kalian sebagai ahlinya “. 

Rasulullah SAW bersabda: 

يوزن يوم القيامة مداد العلماء ودم الشهداء 

“Pada hari kiamat nanti akan ditimbang tinta-tinta (karya-karya) para ulama’ dan darah orang yang mati syahid” 

Rasulullah SAW bersabda: 

ما عبد الله بشيء أفضل من فقه في الدين , ولفقيه واحد أشد على الشيطان من ألف عابد 

“Allah tidak akan disembah dengan sesuatu yang lebih utama dari pada faham dalam ilmu fiqih (agama), karena sesungguhnya satu orang yang ahli dalam bidang ilmu fiqh itu lebih berat bagi setan dari pada seribu orang yang ahli ibadah (tanpa ilmu fiqh)“. 

Rasulullah SAW bersabda: 

يشفع يوم القيامة ثلاثة الأنبياء ثم العلماء ثم لشهداء 

“Ada tiga orang yang berhak memberikan syafa’at kepada orang lain nanti pada hari kiamat, yaitu: para nabi, para ulama dan para syuhada”. 

Dan diriwayatkan, bahwa para ulama’ nanti pada hari kiamat berdiri diatas mimbar yang terbuat dari cahaya (nur)”. 

Imam Al Qadli Husain mencuplik (sebuah hadits) dalam permulaan catatan kakinya, sesungguhnya Rasulullah telah bersabda: “Barang siapa yang mencintai ilmu dan para ulama’, maka semua kesalahanya tidak akan ditulis selama hidupnya”. 

Ia juga mengatakan, telah diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: 

من صلى خلف عالم فكأنما صلى خلف نبي, فمن صلى خلف نبي فقد غفر له 

“Barang siapa yang melakukan shalat dibelakang orang alim, maka seakan-akan ia melakukan shalat dibelakang Nabi.Dan barang siapa yang melakukan shalat dibelakang Nabi, maka dosa-dosanya diampuni oleh Allah”. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abi Dzar ra, disebutkan bahwa menghadiri tempat-tempat yang digunakan untuk diskusi ilmiah itu lebih utama dari pada melakukan shalat seribu rakaat (tanpa ilmu), menyaksikan seribu jenazah dan menjenguk seribu orang sakit. 

Umar Ibn Al Khattab ra. telah berkata: “Bahwa seorang laki-laki tentunya akan keluar dari rumahnya,sementara dia mempunyai banyak dosa yang menyamai besarnya gunung Tihamah.Ketika ia mendengar orang alim, maka iamerasa takut dan ia kemudian bertaubat dari perbuatan dosanya, kemudian ia kembali kerumahnya dalam keadaan besih dari dosa, oleh karena itu janganlah kalian berpisah dari tempat–tempat para ulama’, karena sesungguhnya Allah menciptakan sejengkal tanahpun di muka bumi ini yang lebih mulia dibandingkan dengan tempat yang digunakan diskusi para alim ulama. 

Imam Al Syarmasahy Al Maliki mencuplik sebuah hadits dalam pengantar kitabnya “Nazdm Al Dlurar”:”Diriwayatkan dari nabi SAW, beliau bersabda: “Barang siapa yang mengagungkan orang alim, maka sesungguhnya ia telah mengagungkan Allah SWT, dan barang siapa yang telah meremehkan orang alim, maka berarti ia telah meremehkan Allah dan RasulNya. 

Sahabat Ali Karramhullah wajhah telah berkata: “Cukuplah dengan ilmu kemulyaan dapat diperoleh, walaupun yang mengakui seseorang yang tidak pernah melaksanaknnya. Dan cukuplah dengan kebodohan kehinaan itu diperoleh, walaupun seseorang berusaha membebaskan diri dari kebodohan itu”. Kemudian beliau menyanyikan sebuah lagu: 

Cukuplah kemuliaan diperoleh dengan ilmuwalaupun yang mengakui (hanyalah) orang bodoh# 

Dan ia akan gembira jika suatu saat di nisbatkan paada ilmu. 

Dan cukuplah kehinaan diperoleh dengan kebodohan, tetapi aku # 

Dijaga bila aku dinisbatkan kepadanya. Dan aku akan marah 

Ibnu Al Zubair pernah berkata: “Bahwasanya Abu Bakar pernah mengirimkan surat kepadaku, ketika itu aku sedang berada di Iraq. Isi dari surat tersebut adalah sebagai berikut: “Wahai anakku bergegang teguhlah pada ilmu pengetahuan, karena ketika engkau menjadi orang miskin maka ilmu itu akan menjadi harta, dan ketika engkau menjadi orang kaya, maka ilmu itu akan menjadi perhiasan”. 

Wahb bin Munabbah berkata: “Sesuatu yang diperoleh dari ilmu itu bermacam-macam; 

1. Kemuliaan, walaupun orang yang memilikinya itu orang yang rendahan. 

2. Keluhuran derajat, walaupun ia diremehkan. 

3. Dekat (di hati ummat), walaupun ia berada di daerah jauh. 

4. Kekayaan, walaupun ia miskin harta. 

5. Kewibawaan, walaupun ia orang yang rendah diri. 

Kemudian ia menyanyikan sebuah lagu dalam memaknainya: 

Ilmu itu akan mengantarkan suatu kaum pada puncak kemulyaan # 

Orang yang mempunyai lmu itu akan terjaga dari kerusakan. 

Hai orang yang mempunyai ilmu bersahajalah!, janganlan engkau mengotorinya # 

Dengan perbuatan-perbuatan yang merusak,karena tidak ada pengganti terhadap sebuah ilmu. 

Ilmu itu mengangkat sebuah rumahyang tak bertiang # 

Bodoh itu merobohkan sebuah rumah keluhuran dan kemulyaan. 

Abu Muslim Al Khaulani ra. berkata: “Para ulama’ dibumi itu seperti bintang-gemintang yang bergelantungan di atas langit.Jika bintang-gemintang itu tampak bagi manusia, maka mereka mendapatkan petunjuk karenanya.Tetapi jika bintang-gemintang itu tampak suram, maka mereka kebingungan karenanya. 

Kemudian ia menyaikan sebuah syair lagu dalam memaknainya: 

Tempuhlah ilmu di manapun ilmu itu berada # 

Dari ilmu, bukalah setiap orang yang mempunyai pemahaman terhadap ilmu 

Ilmu berguna untuk menerangi hati dari kebutaan # 

Dan menolong agama, di mana perintah menolong adalah kewajiban. 

Pergaulilah para periwayat ilmu, dan temanilah para pilihan mereka # 

Maka, persahabatan dengan mereka adalah sebuah hiasan, dan bercampur dengan mereka adalah sebuah keberuntungan. 

Janganlah engkau palingkan kedua pandanganmu dari mereka, sesungguhnya mereka # 

Ibarat bintang-gemintang yang menjadi petunjuk, bila satu bintang hilang, maka muncul bintang yang lain. 

Demi Allah, seandainya ilmu tidak ada, niscaya hidayah tak akan tampak # 

Dan tak tampak pula tanda-tanda perkara yang ghaib 

Ka’ab Al Akhbar berkata: “Seandainya pahala tempat diskusi tampak pada manusia, niscaya mereka akan saling membunuh berebut pahala, sehingga para pemimpin meninggalkan pemerintahannya dan para Bos pasar akan meninggalkan pasarnya. 

Sebagian ulama’ salaf berkata: “Sebaik-baik pemberian adalah akal, sedangkan sejelek-jelek musibah adalah kebodohan. 

Sebagian ulama’ salaf yang lain juga berkata: “Ilmu itu sebagai pengaman dari tipu daya setan,juga sebagai benteng dari tipu daya orang yang dengki dan sebagai petunjuk akal”. 

Kemudian ia menyanyikan sebuah syair lagu tentang maknanya: 

Alangkah bagusnya akal dan alangkah terpujinya orang yang berakal# 

Alangkah jeleknya kebodohan dan alangkah tercelanya orang bodoh. 

Tak ada ucapan seseorang yang pantas dalam suatu perdebatan # 

Kebodohan itulah yang akan merusaknya pada hari nanti ketika ia ditanya. 

Ilmu adalah sesuatu yang paling mulia yang diperoleh seseorang # 

Orang yang tidak berilmu , maka ia bukanlah laki-laki. 

Wahai saudara kecilku ! Pelajarilah ilmu dan amalkanlah # 

Ilmu itu merupakan sebuah perhiasan bagi orang yang benar-benartelah mengamalkannya. 

Diriwayatkan dari Muadz Bin Jabal ra. ia berkata: “Pelajarilah ilmu pengetahuan, karenamempelajarinya adalah suatu kebajikan, mencarinya adalah suatu ibadah, mendiskusikannya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, menyerahkannya adalah upaya pendekatan diri kepada Allah SWT dan mengajarkannya kepada orang yang tidak berilmu adalah shadaqah. 

Fuzdail bin ‘Iyadl ra. telah berkata: “Orang yang alim yang mengajarkan ilmunya kepada orang lain, maka ia akan diundang dikerajaan langit sebagai orang besar”. 

Sufyan bin ‘Uyainah telah berkata: “Kedudukan manusia yang paling tinggi disisi Allah adalah orang yang berada di antara Allah dan di antara hamba-hambaNya.Mereka itulah para nabi dan para ulama’”. 

Ia juga mengakatan: “Di dunia ini seseorang tidak akan diberi sesuatu yang lebih utama dari pada derajat kenabian dan tidak ada sesuatupun setelah derajat kenabian yang lebih utama dari pada ilmu pengetahuan dan ilmu fiqh”. Kemudian ia ditanya:”Dari siapa perkataan ini?”.Ia menjawab:”Dari seluruhpara ahli fiqh”. 

Imam Al Syafi’i ra. telah berkata: “Seandainya para ahli fiqh yang selalu mengamalkan ilmunyabukan sebagai kekasih Allah, niscaya Allah tidak akan mempunyai seorang wali”. 

Ibnu al Mubarak ra. berkata:”Seseorang itu masih dianggappandai selama iamencari ilmu.Apabila ada seseorang menganggap bahwa dirinya pandai, maka ia benar-benar telah bodoh”. 

Imam Waqi’ berkata: “Seorang laki-laki tidak akan dikatakan orang alim, sehingga ia mau mendengarkan orang yang lebih tua, mau mendengar orang yang sebanding dengannya, dan mau mendengar orang yang lebih muda darinya. 

Sufyan Al Tsauri berkata : “Keajaiban-keajaiban itu merata ada dimana-mana.Pada akhir zaman seperti sekarang ini lebih merata lagi, bencana yang menimpa manusia banyak.Sedangkan musibah masalah keagamaan sekarang ini lebih banyak lagi. Bencana-bencana itu merupakan peristiwa yang besar, namun kematian para ‘ulama merupakan peristiwa yang lebih besar. Sesungguhnya hidup orang alim itu adalah rahmat bagi umat, sedangkan kematiannya agama Islam menyebabkan suatu cacat”. 

Dalamkitab Shahih Al Bukhari dan Al Muslim ad sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah Ibn Amr Ibn al ‘Ash ra. ia berkata: “Aku mendengar dari Rasulullah, beliau besabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabut ilmu tersebut dari manusia, akan tetapi Allah mencabut ilmu dari muka bumiini dengan cara mencabut nyawa orang-orang yang para ulama’, sehingga jika seorang alim sudah tak tersisa, masyarakat mengangkat para pemimpin yang bodoh. Maka ditanyalah pemimpin-pemimpin itu(tentang masalah keagamaan), kemudian mereka memberikan fatwa tanpa berlandaskan ilmu pengetahuan, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain”. 

FASHAL 

Semua hal yang telah disebutkan diatas; yakni keutamaan ilmu dan orang yang memiliki ilmu, hanyalah hak ulama yang mengamalkan ilmunya, berkepribadian baik dan bertakwa yang bertujuan untuk memperoleh keridhaan Allah SWT, dekat dihadapanNyadenganmendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan.Bukanlah orangyang ilmunya dimaksudan untuk tujuan-tujuan duniawi, yakni jabatan, harta benda atau berlomba-lomba memperbanyak pengikut. 

Telah diriwayatkan dari Nabi SAW: “Barang siapa mencari ilmu untuk menjatuhkan para ulama’, atau berdebat dengan para ahli fiqh atau bertujuan untuk memalingkan pandangan manusia, maka Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka” (H.R. Al Turmudzi ). 

Dan diriwayatkan dari Nabi SAW: “Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari hanya karena Dzat Allah, tetapi bia tidak mempelajarinya kecuali untuk memperoleh tujuan-tujuan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkanaroma surgawi”. 

Juga diriwayatkan beliau: “Barang siapa yang mecari ilmu karena selain Allah atau menghendaki Dzat Allah maka, tempatilah tempat duduknya dari api neraka. 

Juga diriwayatkan beliau; “Pada hari kiamatnanti akan didatangkan seorang alim, kemudian ia dilemparkan kedalam api neraka sehingga ususnya terburai keluar dari perutnya, kemudian ia berputar-putar didalam neraka laksana keledeiyang berputar sambil membawa alat penggiling. Kemudian penduduk ahli neraka mengerumuninya sambil bertanya: “Apa yang menyebabkanmu seperti ini?.Ia menjawab: “Aku memerintahkan orang lain agar melakukan kebaikan, tetapiakusendiri tidak melakukannya dan aku melarang orang lain agar tidak melakukan perbuatan yang buruk, sementaraaku sendiri melakukannya”. 

Diriwayatkan dari Bisyr ra.: “Allah memberikan wahyu kepada Nabi Dawud as.:”Janganlah engkau jadikan antara aku dan engkauada seorang yang alim yang terfitnah, sehingga sifat takkaburnya (sombong) menjauhkan dirimu untuk mencintai aku. Mereka itu adalah orang yang pekerjaanya menghadang hamba-hambaku ditengah jalan”. 

Sufyan Al Tsauri ra. berkata: “Ilmu itu dipelajari hanyalah untuk bertaqwa.Kelebihan ilmu atas ilmu yang lain hanya karena ilmu digunakan bertaqwa kepadaAllah SWT. Jika tujuan ini menjadi cacat dan niat orang yang mencari ilmu menjadi rusak, dengan pengertian bahwa ilmu itu digunakanuntuk mencapai perolehanhal-hal duniawi; berupa harta atau jabatan, maka pahala orang yang mencari ilmu itu benar-benar telah terhapus dan ia benar-benar telah dengan kerugian yang amat sangat. 

Al Fudlail bin ‘Iyadl telah berkata:”Para ulama’ yang fasiqdan orang–orang yang hafal Al-Qur’an telah mendatangi aku dan nanti pada hari kiamat mereka akan disiksa terlebih dahulu sebelum disiksanya orang yang menyembah berhala”. 

Al Hasan al Basri telah berkata: ”Siksaan ilmu pengetahuan adalah hati yang mati, kemudian ia ditanya: “Apa yang dimaksud dengan hati yang mati?.Ia menjawab: “Matinya hati adalah mencari harta dunia dengan menggunakan perbuatan-perbuatan akhirat”.
Share:

Konsultasi dengan Gus Abduh

Data Kunjungan