Melatih dan Mencerahkan Jiwa

Dr. KH. Abduh Al-Manar, M.Ag.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah. Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

PAUD Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MI Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MTS Al-Iryadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Saturday, August 15, 2020

Kisah Sehelai Rambut dan Semangkuk Madu

Pada suatu hari Rasulullah SAW, Sayyidina Abu Bakar  ra, Sayyidina Umar ra dan Sayyidina Utsman ra datang bertamu kerumah Sayyidina Ali ra.

Di sana mereka dijamu oleh Sayyidah Fathimah putri Rasulullah sekaligus istri dr Sayyidina Ali Ra. Sayyidah Fathimah menghidangkan utk mrk semangkuk madu Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mrk..

Rasulullah segera meminta para sahabatnya utk membuat perumpamaan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu :

MANGKUK YANG CANTIK, MADU, dan SEHELAI RAMBUT.

Sayyidina Abu Bakar yang mendapat giliran pertama segera berkata;

“IMAN itu lebih cantik dari MANGKUK YANG CANTIK ini, orang yang BERIMAN itu lebih manis dari MADU, dan mempertahankan IMAN itu lebih susah dari MENITI SEHELAI RAMBUT." Rasulullah tersenyum, lalu berikutnya Beliau menyuruh Sayyidina Umar.

Sayyidina Umar segera berkata;

“KERAJAAN itu lebih cantik dari MANGKUK YANG CANTIK ini.

RAJAnya lebih manis dari MADU, dan

Memerintah dengan ADIL itu lebih sulit dari MENITI SEHELAI RAMBUT." Rasulullah kembali tersenyum, lalu berpaling kepada Sayyidina Utsman ra.  seraya mempersilakannya untuk membuat perumpamaan tiga benda di hadapan mereka.

Sayyidina Utsman berkata;

“ILMU itu lebih cantik dari MANGKUK YANG CANTIK ini, orang yang menuntut ILMU itu lebih manis dari MADU, dan BERAMAL dengan ILMU yang dimiliki itu lebih sulit dari MENITI SEHELAI RAMBUT.” Seperti semula, Rasulullah kembali tersenyum kagum mendengar perumpamaan yang disebutkan para sahabatnya. Beliau pun segera mempersilakan Sayyidina Ali untuk mengungkapkan kata-katanya.

Sayyidina Ali berkata,

“TAMU itu lebih cantik dari MANGKUK YANG CANTIK ini, MENJAMU tamu itu lebih manis dari MADU, dan membuat TAMU SENANG sampai kembali pulang kerumahnya adalah lebih sulit dari MENITI SEHELAI RAMBUT.” Kemudian Rasulullah segera mempersilakan putrinya Sayyidah Fathimah untuk membuat perbandingan tiga benda di hadapan mereka. 

Sayyidah Fathimah berkata;

“Seorang WANITA itu lebih cantik dari sebuah MANGKUK YANG CANTIK, wanita yang MENGENAKAN purdah itu lebih manis dari MADU, dan mendapatkan seorang wanita yang TAK PERNAH DILIHAT orang lain kecuali mahramnya lebih sulit dari MENITI SEHELAI RAMBUT.” Setelah mendengarkan perumpamaan dari para sahabat

Rasulullah segera bersabda;

“Seorang yg mendapat TAUFIQ utk beramal lebih cantik dr MANGKUK YANG CANTIK ini

BERAMAL dgn perbuatan BAIK itu lebih manis dari MADU & Berbuat AMAL dgn IKHLAS, lebih sulit dari MENITI SEHELAI RAMBUT.” 

Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka pun tidak mau kalah; ya Nabiullah aku juga ingin memberi perumpamaan.

Rasulullah, “Silahkan ya Jibril”.

“Menegakkan PILAR PILAR AGAMA itu lebih cantik dari sebuah MANGKUK YANG CANTIK.

Menyerahkan DIRI, HARTA, dan WAKTU untuk agama lebih manis dari MADU, dan

Mempertahankan agama sampai AKHIR HAYAT lebih sulit dari MENITI SEHELAI RAMBUT.” Rasulullah pun tersenyum setelah mendengar perumpamaan dari Jibril as.

Allah pun membuat perumpamaan dgn

firman-NYA dalam hadits Qudsi,:

“SURGA-KU itu lebih cantik dari MANGKUK YANG CANTIK itu, NIKMAT surga-KU itu lebih manis dari MADU, dan JALAN MENUJU surga-KU lebih sulit dari MENITI SEHELAI RAMBUT.”

Share:

Friday, August 14, 2020

Kemerdekaan Hakiki

Islam membawa membawa misi utama mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT. Inilah kemerdekaan hakiki.  

Kemerdekaan hakiki terwujud ketika manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya.

Rasulullah SAW pernah menulis surat kepada penduduk Najran. Di antara isinya:

«... أما بعد فإني أدعوكم إلى عبادة الله من عبادة العباد وأدعوكم إلى ولاية الله من ولاية العباد  ... »

... Amma ba'du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba ... (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, v / 553).

Misi Islam mewujudkan kemerdekaan hakiki bagi seluruh umat manusia itu juga terungkap kuat dalam dialog Jenderal Rustum dari Persia dengan Mughirah bin Syu'bah yang diutus oleh Panglima Saad bin Abi Waqash ra. Pernyataan misi itu diulang lagi dalam dialog Jenderal Rustum dengan Rab'i bin 'Amir, Utusan Panglima Saad bin Abi Waqash ra. Ia diutus setelah Mughirah bin Syu'bah pada Perang Qadisiyah untuk membebaskan Persia. 

Jenderal Rustum bertanya kepada Rab'i bin 'Amir, “Apa yang kalian bawa?” Rab'i bin menjawab, “Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada sesama hamba (manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju kelapangannya; dan dari kezaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam… ”(Ath-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, II / 401). 

Allah SWT berfirman:

﴿اِتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ

Mereka (Bani Israil) menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah… (QS at-Taubah [9]: 31).

Ketika ayat ini dibacakan oleh Rasulullah SAW, Adi bin Hatim mengatakan bahwa Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) tidak menyembah para pendeta dan para rahib mereka. Saat Rasul SAW bersabda, “Akan tetapi, jika para rahib dan pendeta mereka menghalalkan sesuatu untuk mereka maka mereka pun menghalalkannya, dan jika para rahib dan pendeta mereka mengharamkan sesuatu atas mereka maka mereka pun mengharamkannya (Itulah wujud penyembahan mereka kepada para rahib dan pendeta mereka, red.) (HR at-Tirmidzi).

Islam datang untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan sekaligus manusia sekaligus mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT. Islam datang untuk membebaskan manusia dari kesempitan dunia penerapan aturan buatan manusia menuju kelapangan dunia (rahmatan lil alamin). Islam juga datang untuk membebaskan manusia dari kezaliman agama-agama dan sistem-sistem keadilan Islam menuju keadilan.  

Semua itu akan menjadi nyata jika umat manusia mengembalikan hak penetapan aturan hukum hanya kepada Allah SWT dan Rasul SAW. Caranya pun tak sulit. Cukup dengan memberlakukan syariah Islam secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. Tanpa itu, kemerdekaan hakiki, kelapangan dunia dan keadilan Islam tak akan pernah terwujud. 

Ingat, selama aturan, hukum dan sistem buatan manusia yang bersumber dari akal dan hawa nafsu terus diterapkan dan dipertahankan, maka selama itu pula akan terus terjadi penjajahan, kesempitan dunia dan kezaliman. 

Allah SWT berfirman: 

﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ﴾

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (QS Thaha [20]: 124).

Karena Allah SWT memerintahkan kita semua untuk menerapkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Penerapan hukum syariah Islam itu menjadi bukti kebenaran dan kesempurnaan klaim keimanan dan penghambaan mereka kepada Allah SWT. Pada saat yang sama, Allah SWT mewajibkan penguasa untuk memerintah dengan menggunakan hukum-hukum syariah. Bahkan Allah SWT menyifati penguasa yang tidak memerintah dengan menggunakan hukum-hukum syariah sebagai kafir (QS al-Maidah [5]: 44), fasik (QS al-Maidah [5]: 47) atau zalim (QS al-Maidah [5] : 45).  

Semoga Allah SWT memberikan hidayah dan taufik kepada bangsa Indonesia agar setahap demi setahap sadar dapat menjalankan Syariat Islam baik secara individu berkeluarga dan bermasyarakat.

Share:

Wednesday, August 12, 2020

Yahudi Bertawasul Kepada Rasulullah SAW

Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam kitab
Mafahim Yajibu An Tushahhah menjelaskan tentang hakikat tawassul. 

Pertama, Tawassul merupakan salah satu cara untuk Berdoa serta juga sebagai media untuk menuju Allah SWT dan tujuan utamanya adalah Allah bukan yang lainnya.

Kedua, orang yang melakukan tawassul membuktikan cintanya kepada Allah dengan mencintai para kekasih-Nya.

Ketiga, orang yang bertawassul kepada seseorang tak meyakini ia mampu memberi manfaat atau mudharat, tetapi Allah yang memberikan segalanya.

Para Nabi terdahulu juga bertawassul, misalnya Nabi Adam Bertawassul kepada Nabi Muhammad sebelum beliau diutus ke bumi ini.

Nabi terdahulu juga Bertawassul, misalnya Nabi Adam Bertawassul kepada Nabi Muhammad sebelum beliau diutus ke dunia ini.

Umat ​​Yahudi juga Bertawassul kepada Nabi akhir zaman yang bersifat Ummi (tak mampu membaca dan menulis) yaitu Nabi Muhammad SAW.

Hal ini seperti dalam Al-Qur'an, Surat Al-Baqarah ayat 89 artinya:

“Dan setelah sampai kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar. ”

Menurut Imam Thabari dalam   Tafsirnya menjelaskan bahwa Al-Qur'an yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan Injil, orang Yahudi mengingkari kebenarannya Al-Qur'an.

Menurut Imam ar-Razi dalam   Tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan tentang orang-orang Yahudi sebelum Nabi Muhammad diutus dan turunnya Al-Qur'an, mereka meminta pertolongan agar mempersembahkan kemenangan dengan berdoa memakai tawassul kepada Nabi yang berbunyi:

اللهم افتح علينا وانصرنا بالنبي الأمي

Ya Allah berikanlah kemenangan untuk kami, dan tolonglah kami dengan berkahnya Nabi Yang Ummi yaitu Nabi Muhammad.

Ayat ini memberi gambaran kepada kita bahwa Umat terdahulu juga melakukan tawassul kepada Nabi Muhammad sebelum beliau diutus ke dunia ini. Sayangnya sebagian orang Islam ada yang menyalahkan orang yang Bertawassul pada Nabi dengan perbuatan musyrik, yang menjadi pertanyaan adalah dimana letak kemusrikannya? Kita tidak menganggap Nabi Muhammad sebagai Tuhan, Namun kita mencintai orang yang paling disayang oleh Allah. Kecintaan kita kepada Nabi sebagai sarana untuk menuju Allah dengan mengikuti prilakunya sebatas kemampuan kita. Hal itu sebagai sebuah perintah Agama.

Share:

Tuesday, August 11, 2020

Hati Yang Tertutup

Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 88 artinya: Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.

Mengenai firman Allah  Ta'ala , Î وَقَـالُوا قُلُـوبُنَا غُلْـفٌ Ï dari Ibnu Abbas, Muhammad bin Ishak mengatakan, “Artinya berada di tempat tertutup.”

Masih mengenai ayat yang sama, dari Ibnu Abbas, Ali bin Abi Thalhah mengatakan, “Artinya hati mereka itu tidak dapat memahami”.

Î بَل لَّعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ Ï  “Namun sebenarnya Allah melaknat mereka karena kekafiran mereka.”  Artinya, Allah  Ta'ala  mengusir dan menjauhkan mereka dari segala macam macam. Î فَقَلِيلاً مَّا يُؤْمِنُونَÏ “Maka sedikit sekali di antara mereka yang beriman.” Qatadah mengatakan, “Artinya, tidak ada dari mereka yang beriman tidak sedikit sekali.”

Para mufassir masih berbeda pendapat mengenai firman Allah  Ta'ala , Î فَقَلِيـلاً مَّايُؤْمِنُونَÏ dan firman-Nya, Î فَلاَ يُؤْمِنُونَ إِلاَّ قَلِيـلاً. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Hanya sedikit sekali dari mereka yang beriman.” Tetapi ada juga yang mengartikan, sangat sedikit sekali iman mereka, dengan pengertian, mereka beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Musa  'alaihissalaam  berkenaan dengan hari kebangkitan, pahala, dan adzab, tetapi keimanan mereka tidak memberikan manfaat kepada mereka, karena keimanannya itu telah tertutup oleh kekufuran mereka terhadap apa yang dibawa Muhammad  Shalallahu 'alaihi wa sallam .

Share:

Kitab Allah Sebagai Pelajaran

Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 87: Dan sebenarnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan Kami telah memberikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami mengurusnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? 

Makna kata:

{ مُوسَى} Musa: Beliau Musa bin Imran, seorang nabi yang diutus kepada Bani Israil { ٱلۡكِتَٰبَ} al-Kitab: Taurat { قَفَّيۡنَا} qoffainaa: Kami utus mereka, sebagian berada di belakang yang lain. Yaitu satu persatu berurutan. { الرسل} ar-Rusul: Bentuk jamak dari rasul, yaitu seorang lelaki dari kalangan Bani Adam yang diberikan wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya. { ٱلۡبَيِّنَٰتِ} al-Bayyinaat: Mukjizat dan ayat-ayat Allah dalam kitab Injil. { رُوحِ ٱلۡقُدُسِ } ruuhul qudus: Jibril 'alaihissalam

Makna ayat:

Masih saja ayat-ayat ini memberitakan tentang nikmat yang Allah berikan kepada Bani Israil, dan penyebutan aib-aib serta kesalahan mereka. Semoga dengan peringatan itu dapat membawa mereka untuk beriman dan mensyukuri nikmat, dan penyebutan aib-aib mereka dapat membawanya untuk memperbaiki diri dan bertaubat. Pada ayat 87 Allah Ta’ala menyebutkan nikmatNya dengan menurunkan Taurat kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dan mengutus rasul-rasul setelahnya secara berurutan. Kemudian memberikan mukjizat dan bukti-bukti kepada Nabi Isa ‘alaihissalam serta menguatkannya dengan Jibril ‘alaihissalam. Walaupun begitu Bani Israil masih saja belum sadar, bahkan mereka membunuh para nabi dan mendustakan mereka. Maka Allah mencelanya dalam firmanNya : أَفَكُلَّمَا جَآءَكُمۡ رَسُولُۢ بِمَا لَا تَهۡوَىٰٓ أَنفُسُكُمُ ٱسۡتَكۡبَرۡتُمۡ فَفَرِيقٗا كَذَّبۡتُمۡ وَفَرِيقٗا تَقۡتُلُونَ ٨٧ “Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?”

Pelajaran dari ayat : • Kewajiban terhadap nikmat adalah mensyukurinya sedangkan kewajiban terhadap dosa adalah bertaubat darinya. • Buruknya menolak kebenaran karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya. • Besarnya dosa pembunuhan dan mendustakan kebenaran.
[Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H ].

Share:

Monday, August 10, 2020

Doa Sebagai Obat Mujarab

Saudaraku semua, jika anda ingin tahu obat yang paling mujarab untuk merawat segala penyakit, baik yang bersifat lahir maupun batin maka jawabnya adalah "DOA". Doa adalah obat yang paling mujarab dan sekaligus bencana bencana.


Doa dalam menghadapi musibah ada tiga tingkatan: * Pertama *: Doa lebih kuat dari musibah, maka dia dapat mengusirnya. * Kedua *: Doa lebih lemah dari musibah, maka musibah dapat mengalahkannya sehingga seorang hamba tertimpa musibah, tetapi bisa jadi doa dapat meringankannya walaupun doanya lemah. * Ketiga *: Keduanya saling bertikai, satu sama lain saling mencegah terjadi pada orang tersebut.


Doa akan memperbaiki, mengobati, mencegah, dan menghilangkan, mengurangi bencana yang menimpa. Do'a merupakan senajta kaum Mukminin. Hal ini yang diriwayatkan oleh Al Hakim dalam shahiih-nya, dari Ali bin Abi Tholib Rodhiallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah Sholallahu' alaihi wassalam bersabda: "Do'a adalah senjata kaum mukminin dan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi” 


Al Hakim meriwayatkan dalam shahiih-nya dari 'Aisyah rodhiallahu' anha, ia mengatakan bahwa Rasulullah Sholallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Sikap menolak tidak mampu menolak takdir. Do'a akan memberikan manfaat hal - hal yang telah terjadi dan yang terjadi. Pada saat musibah itu turun, do'a segera menghadapinya. Keduanya saling kebetulan datangnya hari kiamat ".

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاء


“Sesungguhnya doa bermanfaat terhadap apa yang sudah diturunkan dan yang belum diturunkan. Hendaklah kalian berdoa wahai hamba. ” (HR. Tirmizi, no. 3548.) 


Dari Tsauban radhiyallahu'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan menolak takdir kecuali dengan doa, dan pertambahan umur kecuali dengan kebajikan, dan benar-benar seseorang itu diharamkan rizkinya denga sebab dosa yang dia kerjakan,” (Riwayat al- Hakim) 

Share:

Konsultasi dengan Gus Abduh

Data Kunjungan