Melatih dan Mencerahkan Jiwa

Dr. KH. Abduh Al-Manar, M.Ag.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah. Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

PAUD Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MI Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MTS Al-Iryadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Tuesday, April 6, 2021

Allah Menghapus Dosa Melalui Penyakit


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam surat Asy-Syura ayat 30 yang berbunyi:


 وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ


* _ "Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)." _ *


Setiap orang pasti mendapat musibah atau malapetaka. Seperti kematian orang yang dicintai, Kehilangan kerabat, terguncangnya ekonomi finansial, kesusahan fisik, demam, semua jenis rasa sakit, penderitaan.


Wahai Saudaraku dan Sahabatku .....


Ketahuilah bahwa sebenarnya penyakit itu adalah sebagai berkah yang tersembunyi dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala ...


Suatu saat Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wasallam mengunjungi orang sakit yang menderita demam, dia berkata: * _ “Saya punya kabar baik untuk anda. Karena Tuhanku telah mengatakan kepadaku demam adalah hukumanku yang aku berikan kepada orang-orang yang beriman agar mereka tidak perlu di neraka. ”_ *


Ini adalah pemberian yang Allah berikan agar anda selamat dari larangan kehidupan selanjutnya. _Berarti menderita suatu penyakit merupakan berkah terselubung._


Suatu ketika Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wasallam mengunjungi seorang teman wanita, Umm Sa'ib. Dia juga menderita demam dan bolak-balik, Rasulullah bertanya ada apa. Lalu dia menjawab, _ “Saya demam tinggi. Semoga Allah mengutuknya. ”_ Kemudian Rasulullah bersabda, * _“ Jangan mengutuk demam, karena sebenarnya itu mengampuni dosa seperti tungku membersihkan kotoran pada besi. ”_ * (HR Muslim).


Saat Anda memasukkan besi ke dalam tungku, itu dipenuhi dengan kotoran. Namun, ketika Anda mengeluarkannya, akan menjadi 100 persen murni. Jadi, Rasulullah membandingkan demam dengan tungku yang perbandingan sangat baik karena terbakar.


Dalam kejadian lain, itu akan menyebabkan dosa-dosamu seperti pohon di musim gugur. Saat anda menggoyangkan semuanya, daunnya akan jatuh. _Begitu juga penyakit akan meningkatkan dosa-dosamu._


Setiap bencana adalah untuk mendapatkan kita semua.


Ini adalah sesuatu yang berlaku untuk setiap bencana dan kemalangan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: * _ “Bahkan jika duri menusuk salah satu dari anda, itu akan menebus sebagian dari dosa anda.” _ * (HR Al-Bukhari dan Muslim).


Hadist lainnya yang terkenal Rasulullah berkata, * _ “Luar biasa orang beriman, karena segala sesuatu yang terjadi padanya untuk diberitakannya. Jika sesuatu yang baik terjadi dan dia bahagia, dia bersyukur kepada Allah, dan itu baik-baik saja. Dan jika sesuatu yang buruk terjadi, maka dia bersabar, dan Allah kesalahannya atas kesabaran itu. ”_ * (HR Al-Bukhari dan Muslim).


Wahai Saudaraku dan Sahabatku .....


_Ketahuilah bahwa orang beriman selalu menjadi pemenang, mereka tidak pernah menjadi pecundang. Tidak peduli bencana apa yang menimpanya, mereka akan selalu berada di atas angin dan menang karena mereka memiliki Allah di sisinya._


Kita tidak ingin sakit, kita tidak menginginkan bencana, tetapi setiap dari kita akan jatuh sakit dan akan menghadapi malapetaka. Ketika itu terjadi, maka *_kita bangkit dan menghadapinya. Seraya dengan memperbaharui iman kita kepada Allah, merendahkan diri, serta menyerahkan diri kepada-Nya._* Melalui semua ini, kita menghargai berkah bahkan saat jatuh sakit dan mengalami musibah.


Oleh karena itu perbanyaklah berdzikir :


*_"Laa Ilaha illallah...."_*

*_"Astagfirullah....."_*


Dan ketika bencana atau penyakit menimpa, ucapkanlah :


*_"Alhamdulillah alaa kulli hal."_*

Semoga bermanfaat.

Share:

Thursday, April 1, 2021

Nabi Ibrahim AS Menjadi Imam



Tafsir surat Al Baqarah ayat 124:

وإذ ٱبتلى إبرهم ربه بكلمت فأتمهن قال إني جاعلك للناس إماما قال ومن ذريتي قال لا ينال عهدي ٱلظلمين

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia." Ibrahim berkata, "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku." Allah berfirman, "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim."

 

Firman-Nya ( وإذ بتلى إبراهيم ربه بكلمات) artinya, wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang Musyrik dan Ahlul Kitab yang mengaku sebagai pengatur agama Ibrahim, padahal mereka tidak mengikuti agama itu. Bahwa sebenarnya yang berada pada agama Ibrahim dan tegak di atasnya adalah engkau dan orang-orang mukmin yang bersamamu, maka ceritakanlah kepada mereka ujian yang ditimpakan Allah Ta'ala kepada Ibrahim berupa berbagai perintah dan larangan.

 

Firman-Nya ( بكلمات) yaitu dengan seluruh syariat (ketetapan), perintah dan larangan-Nya. Karena kalimat, bisa dimaksudkan kalimat qadariyyah (kalimat Allah Ta’ala yang berupa ketetapan takdir-Nya) sebagaimana firman-Nya dalam Surah At-Tahrim ayat 12 yang artinya: “Dan dia (Maryam) membenarkan kalimat-kalimat Rabb-nya dan kitab-kitab-Nya, dan adalah ia termasuk orang-orang yang taat.” Yang dimaksud dengan kaliamt pada ayat ini adalah kalimat syar’iyyah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-An’am ayat 115 yang artinya: “Sempurna sudah kalimat Rabbmu (Alquran), sebagai kalimat yang benar dan adil.” Maksudnya adalah kalimat-kalimat (ketentuan-ketentuan) Allah Ta’ala yang bersifat syariat, dan itu bisa berupa berita yang benar maupun perintah untuk berbuat adil, jika itu berupa perintah atau larangan sebagaimana pada ayat ini. Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kalimat-kalimat yang diujikan Allah Ta’ala kepada Ibrahim ‘alaihi as-salam. Mengenai hal itu telah terdapat beberapa riwayat dari Ibnu Abbas.

 

Abd Ar-Razzaq menceritakan dari Mu'ammar, dari Qatadah, Ibnu Abbas mengucapkan, artinya: “Allah Ta'ala mengujinya dengan manasik haji”. Ia juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: “Allah Ta'ala mengujinya dengan thaharah, yaitu lima hal di bagian kepala, dan lima lagi di bagian badan. Kepala bagian itu adalah pemotongan kumis, berkumur, menghirup udara ke dalam hidung, bersiwak dan menyela-nyelai janggut (dengan udara). Dan lima hal di bagian badan adalah memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, khitan, mencabut bulu ketiak, serta mencuci bekas buang air besar dan bekas buang air kecil dengan udara. ” Berkenaan dengan hal tersebut, Ibnu Katsir katakan, yang hampir sama dengan pendapat ini adalah apa yang terdapat dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia bercerita,

 

" عشر من الفطرة: قص الشارب, وإعفاء اللحية, والسواك, واستنشاق الماء, وقص الأظفار, وغسل البراجم, ونتف الإبط, وحلق العانة, وانتقاص الماء" [قال مصعب] ونسيت العاشرة إلا أن تكون المضمضة. قَالَ وَكِيع: انْتِقَاصُ الْمَاءِ ، يَعْنِي: الِاسْتِنْجَاءُ"

 

Artinya: “Ada sepuluh perkara yang termasuk fitrah, yaitu mencukur kumis, dibiarkan janggut, siwak, menyedot udara dengan hidung (istinsyaq), memotong kuku, membasuh semua persendian tulang, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan, dan hemat memakai air. (Perawi mengatakan) aku lupa yang kesepuluhnya, tetapi aku yakin bahwa yang kesepuluh itu adalah berkumur. ” (HR. Muslim)

 

Sedangkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 

" الْفِطْرَةُ خَمْسٌ: الْخِتَانُ ، وَالِاسْتِحْدَادُ ، وَقَصُّ الشَّارِبِ ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ َ وَنَتف"

 

Artinya: “Fitrah itu ada lima perkara, yaitu khitan, istihdad (belasungkawa), mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah, ia menceritakan, Al-Hasan Al-Bashri pernah menuturkan: “Demi Allah, Allah telah menguji Ibrahim dengan suatu masalah, lalu ia bersabar atasnya. Diuji dengan bintang, matahari dan bulan, dan ia mampu melampauinya dengan baik. Ia tahu bahwa Rabbnya tidak akan pernah lenyap, kemudian dia mengarahkan wajahnya kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan dia bukan dari golongan orang-orang musyrik. Setelah itu, Allah mengujinya dengan hijrah, di mana ia pergi dari negeri dan kaumnya dengan niat hijrah karena Allah Ta’ala, hingga dia pun sampai ke Syam. Kemudian dia diuji dengan api (yaitu dibakar) sebelum hijrah, dia pun menghadapinya dengan penuh kesabaran. Selain itu, Allah memerintahkan menyembelih putranya (Ismail), dan berkhitan, lalu ia pun bersabar atasnya.”

 

Imam Al-Qurthubiy mengatakan, di dalam Kitab Al-Muwattha’ dan juga kitab-kitab lainnya, dari Yahya bin Sa’id, bahwa ia pernah mendengar Sa’id bin Musayyab berkata: “Ibrahim ‘alaihi as-salam adalah orang yang pertama kali berhitan, menjamu tamu, memotong kuku, mencukur kumis dan yang pertama kali beruban rambutnya. Dan ketika melihat uban di rambutnya, maka ia pun bertanya: ‘Apa ini?’ Ia pun berkata: ‘Ini adalah kewibawaan.’ ‘Ya Rabb, tambahkanlah ubanku,’ ujar Ibrahim.” Abu Ja’far bin Jarir mengatakan: “Kesimpulannya, dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan kalimat-kalimat itu adalah seluruh apa yang disebutkan atau boleh juga sebagian darinya. Tetapi tidak boleh memastikan bagian tertentu darinya kecuali berdasarkan hadis atau ijma’. Dalam hal ini, tidak ada penjelasan sahih yang dinukil baik oleh satu ahli hadis ataupun oleh beberapa ahli hadis.”

 

Firman-Nya (فأتمهن) maksudnya, maka Nabi Ibrahim ‘alaihi as-salam pun menjalankan semuanya itu, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surah An-Najm ayat 37 yang artinya: “Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?” maksudnya Nabi Ibrahim melaksanakan setiap apa yang dibebankan kepadanya.

 

Firman-Nya (إني جاعلك للناس إماما) yaitu sebagai balasan atas apa yang telah dikerjakannya. Karena ia telah menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya, maka Allah Ta’ala menjadikannya sebagai panutan dan imam bagi manusia yang selalu diikuti jejaknya.

 

Firman-Nya (قال ومن ذريتي), ketika Allah Ta'ala menjadikan Nabi Ibrahim sebagai imam, dia pun memohon kepada Allah Ta'ala agar para imam sepeninggalnya berasal dari keturunannya. Maka permohonannya dikabulkan dan Allah Ta'ala memberitahukan bahwa di antara keturunannya itu akan ada orang-orang yang zalim, dan mereka ini tidak termasuk dalam janji-Nya dan tidak akan menjadi imam (pemimpin) sepeninggalnya yang patut dijadikan teladan. Dalil yang menjadi dasar dikabulkannya permohonan ini adalah firman-Nya dalam Surah Al-'Ankabut ayat 27 yang artinya: “Dan Kami berikan kenabian dan Al-Kitab kepada keturunannya.” Dengan demikian, setiap nabi yang diutus oleh Allah Ta'ala sepeninggalnya adalah berasal dari keturunan Ibrahim, dan setiap kitab yang diturunkan-Nya akan diturunkan pada keturunannya pula.

 

Firman-Nya ( قال لاينال عهدي الظالمين) para ulama masih berbeda pendapat. Khashif meriwayatkan dari Mujahid, ia mengemukakan, Allah Ta'ala menyampaikan bahwasanya akan ada di antara keturunanmu itu orang-orang yang zalim. Ibnu Abi Nujaih meriwayatkan dari Mujahid, artinya Allah Ta'ala mengatakan Dia tidak memiliki pemimpin yang zalim, dan dalam sebuah riwayat hidup, “Aku tidak akan menjadikan pemimpin yang zalim untuk mengikuti.” Sa'id bin Jubair mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa orang musyrik itu tidak akan menjadi pemimpin.” Sedangkan Rabi 'bin Anas menyebut: “Janji Allah Ta'ala yang diikatkan kepada hamba-hamba-Nya adalah agama-Nya. Artinya, agama-Nya tidak akan mengenai orang-orang zalim. Tidakkah anda mendengar Dia telah berfirman dalam Surah Ash-Shaffat ayat 113 yang artinya: “Kami limpahkan keberkatan atasnya dan alas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang peduli baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. ” Artinya, Hai Ibrahim, tidak semua keturunanmu itu berada dalam kebenaran. Demikian juga yang diriwayatkan dari Abu Al-Aliyah, Atha 'dan Muqatil bin Hayyan bahwa As-Suddi mengatakan (عهدي) berarti janji-Ku yang artinya kenabian dari-Ku.

 

Ibnu Jarir memilih berpendapat bahwasanya ayat ini meskipun secara lahiriyah merupakan berita bahwa janji Allah Ta'ala untuk mengangkat pemimpin, tidak akan mencakup orang yang zalim, namun ayat itu juga mengandung pemberitahuan dari Allah Ta'ala bagi Ibrahim 'alaihi as-salam bahwasanya akan ada di antara keturunannya itu orang yang zalim kepada dirinya sendiri, yang dikemukakan sebelumnya dari Mujahid dan lain-lain. Ibnu Khudaiw Mindad Al-Maliki mengatakan: “Orang yang zalim tidak patut menjadi khalifah, hakim, mufti, saksi dan tidak juga perawi hadis.” 

Share:

Al Qur'an 30 Juz Tanpa Harus Mengunduh




Tinggal di play saja dan bisa bermain dalam posisi mati (Tinggal di posisi).


Juz 1 ⇨ http://j.mp/2b8SiNO

Juz 2 ⇨ http://j.mp/2b8RJmQ

Juz 3 ⇨ http://j.mp/2bFSrtF

Juz 4 ⇨ http://j.mp/2b8SXi3

Juz 5 ⇨ http://j.mp/2b8RZm3

Juz 6 ⇨ http://j.mp/28MBohs

Juz 7 ⇨ http://j.mp/2bFRIZC

Juz 8 ⇨ http://j.mp/2bufF7o

Juz 9 ⇨ http://j.mp/2byr1bu

Juz 10 ⇨ http://j.mp/2bHfyUH

Juz 11 ⇨ http://j.mp/2bHf80y

Juz 12 ⇨ http://j.mp/2bWnTby

Juz 13 ⇨ http://j.mp/2bFTiKQ

Juz 14 ⇨ http://j.mp/2b8SUTA

Juz 15 ⇨ http://j.mp/2bFRQIM

Juz 16 ⇨ http://j.mp/2b8SegG

Juz 17 ⇨ http://j.mp/2brHsFz

Juz 18 ⇨ http://j.mp/2b8SCfc

Juz 19 ⇨ http://j.mp/2bFSq95

Juz 20 ⇨ http://j.mp/2brI1zc

Juz 21 ⇨ http://j.mp/2b8VcBO

Juz 22 ⇨ http://j.mp/2bFRxNP

Juz 23 ⇨ http://j.mp/2brItxm

Juz 24 ⇨ http://j.mp/2brHKw5

Juz 25 ⇨ http://j.mp/2brImlf

Juz 26 ⇨ http://j.mp/2bFRHF2

Juz 27 ⇨ http://j.mp/2bFRXno

Juz 28 ⇨ http://j.mp/2brI3ai

Juz 29 ⇨ http://j.mp/2bFRyBF

Juz 30 ⇨ http://j.mp/2bFREcc


Silakan disebar luaskan Semoga menjadi amal jariyah bagi kita semua 


Sama-sama kita dengar bacaan Al Quran

Share:

Tuesday, March 30, 2021

Rasulullah SAW Mengajarkan Kepada Kita Jangan Pilih Kasih




Banyak orangtua yg tanpa sadar bersikap tidak adil pada anak2nya. Pilih kasih atau memiliki 'anak favorit'. Kondisi sebenarnya tak boleh dibiarkan dan Islam sangat melarang hal tsb.


Sikap orangtua yg pilih kasih dan membeda2kan anak bisa menimbulkan permusuhan. Hubungan kakak beradik jadi tidak baik, anak akan kehilangan rasa kasih sayang antar saudara dan berdampak pada sikap tidak menghormati orangtuanya.


Sebagaimana sebuah hadits yg diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari kisah An-Nu’man bin Basyir, bahwasanya ayahnya datang membawanya kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata:


"Sungguh aku telah memberi pemberian berupa seorang budak milikku kepada anakku ini.” Kemudian Rasulullah SAW. bersabda: “ Apakah semua anakmu kau beri seperti (anakmu) ini?”

Dia menjawab: “ Tidak.” Maka Rasulullah SAW. bertanya : “ Apakah engkau senang apabila mereka (anak2mu) semuanya berbakti kepadamu dengan sama?” Dia menjawab: “ Aku mau (wahai Rasulullah).” Lalu Rasulullah SAW. bersabda: “ Kalau begitu, jangan kau lakukan (pilih kasih).”


(HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)


Maksud dari hadits di atas adalah hibah harus diberikan secara adil atau sama rata. Boleh membedakannya jika ada alasan tertentu, akan tetapi, apabila salah satu dari anak2 itu mempunyai suatu kebutuhan yg lebih dari lainnya lantaran sebab yg diperbolehkan sedangkan yg lainnya tidak membutuhkannya, maka seperti ini boleh dilebihkan menurut kebutuhan masing2.


Syaikh Abdul Ghani Al-Nablisi berkata : “Pilih kasih orang tua terhadap anaknya akan menimbulkan permusuhan, kedengkian dan kebencian diantara sesama anak-anak itu sendiri, kemudian akibat selanjutnya akan terjadilah pemutusan hubungan keluarga yg disebabkan oleh sikap pilih kasih orang tua mereka.”


Untuk itu orangtua, selalu berusaha untuk bersikap adil kepada anak2. Rasulullah SAW sampai berwasiat dan mengulangnya hingga tiga kali, beliau bersabda:


“Adillah kepada anakmu, adillah kepada anakmu, adillah kepada anakmu!” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Hibban)

Share:

Monday, March 29, 2021

Orang Beriman Harus Selalu Menjaga Diri

 


TAFSIR SURAT AL BAQARAH AYAT 122 123 :

يبني إسرءيل ٱذكروا نعمتي ٱلتي أنعمت عليكم وأني فضلتكم على ٱلعلمين وٱتقوا يوما لا تجزي نفس عن نفس شئٗا وَلَا يُقۡبَلُ مِنۡهَا عَدۡلٞ وَلَا تَنفَعُهَا شَفَٰعَةٞ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ 

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melabihkan kamu atas segala umat.

Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima seseorang yang tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu yang kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.

 

122.  Ayat ini mengingatkan lagi kepada Bani Israil akan nikmat yang pernah diberikan Allah kepada nenek moyang mereka. Allah telah melebihkan mereka dari bangsa-bangsa lain yang semasa dengan mereka.

Nikmat yang diberikan Allah itu adalah karena mereka selain berpegang kepada ajaran Allah, kepada keadilan dan kebenaran, mereka mempunyai sifat-sifat dan cita-cita yang mulia dan menjauhi sifat yang buruk dan mengekang keinginan dan hawa nafsu.

 

123.  Bani Israil diperingatkan agar selalu mengikuti agama Allah. Hendaklah mereka ingat akan kedatangan suatu hari, yang pada hari itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menolong kecuali Allah.

Pada hari itu seseorang tidak dapat menolong orang lain menghindari diri dari azab Allah, tiap-tiap orang bertanggung jawab atas segala perbuatan yang pernah dilakukannya. Seseorang tidak dapat menebus dosanya dengan harta apa pun, dan seseorang tidak dapat menggantikan orang lain memikul azab. )

Ayat ini memperingatkan orang-orang yang beriman agar selalu menjaga diri dari azab hari Kiamat dengan melaksanakan semua perintah dan menghentikan larangan Allah.

 

Share:

Sunday, March 28, 2021

Malam Nishfu Sya'ban


Ada beberapa dalil tentang keutamaan malam Nishfu Sya'ban, di antaranya: 


1. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها (رواه ابن ماجه في السنن والبيهقي في شعب الإيمان)   


Maknanya: “Apabila tiba malam nisfu Sya'ban, maka hidupkan malamnya dan berpuasalah di siang harinya” (HR Ibnu Majah dalam as-Sunan dan al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman) 

Yakni bangunlah di sebagian besar malam itu dan isilah dengan shalat, surat Yasin atau surat-surat lainnya di dalam Al-Qur'an, dzikir, doa dan peringatan yang lain. Pertengahan malam, lebih-lebih di sepertiga malam terakhir adalah ibadah yang agung dan lebih tidak dikabulkan oleh Allah. 


2. Dalam hadits yang lain Rasulullaah _shallallaahu 'alaihi wasallam_ bersabda:  


 إذا كان ليلة النصف من شعبان نادى مناد هل من مستغفر فأغفر له, هل من سائل فأعطيه (رواه البيهقي في شعب)


Maknanya: “Apabila tiba malam nisfu Sya'ban, maka malaikat berseru menyampaikan dari Allah: adakah orang yang memohon ampun maka aku ampuni, adakah orang yang meminta sesuatu maka aku memberikan permintaannya” (HR al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman).


3. Imam Syafi'i menyebutkan dalam kitab _al-Umm: _


وبلغنا أنه كان يقال إن الدعاء يستجاب في خمس ليال في ليلة الجمعة وليلة الأضحى وليلة الفطر وأول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان 

Telah sampai berita kepada kami bahwa dulu dikatakan: sebenarnya doa dikabulkan pada lima malam: malam jum'at, malam hari raya idul adha, malam idul fitri, malam satu Rajab dan malam nisfu Sya'ban. ” 🌃


🌸4. Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam _al-Fatawa al-Kubra_ mengatakan:   

 

 والحاصل أن لهذه الليلة فضلا وأنه يقع فيها مغفرة مخصوصة واستجابة مخصوصة ومن ثم قال قال قال الشافاج


“Kesimpulannya bahwa malam

nisfu Sya'ban memiliki keutamaan, dan terjadi pengampunan dosa secara khusus serta pengabulan secara khusus. Dari sini-lah Imam Syafi'i mengatakan bahwa doa dikabulkan di malam hari nisfu Sya'ban. ” 🌑 


Share:

Konsultasi dengan Gus Abduh

Data Kunjungan