Melatih dan Mencerahkan Jiwa

Dr. KH. Abduh Al-Manar, M.Ag.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah. Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

PAUD Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MI Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MTS Al-Iryadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Saturday, March 9, 2019

Islam dan Lingkungan Hidup


     Istilah lingkungan hidup secara baku baik dari aspek ajaran maupun tradisi keilmuan Islam tidak terdapat dalam konsep yang konkrit, seperti konsep lingkungan yang disodorkan dalam kerangka definisi, batasan dan pengertian ilmuan.

    Aturan-aturan subtantif syari’at (hukum Islam) yang berkaitan dengan lingkungan dapat di temukan dalam kitab-kitab fiqh, terutama cabang ilmu mu’amalat atau perniagaan, di bawah topik-topik seperti menghidupkan lahan kosong (ihya’ al-mawat), kawasan dilindungi (hima), penggunaan air untuk irigasi dan sumber pangan (shirb), sewa lahan (ijarah), pemeliharaan (nafaqah), hukum memburu dan menyembelih (sayd dan dhaba’ih), harta dan benda (milk dan maal), transaksi ekonomi (buyu’), perdamaian (sulh), pemberitaan (awqaf) dan zakat serta pajak (zakat, sadaqa, ushr, dan kharaj). 
     Semuanya dibahas dalam bidang mu’amalat dan ibadat. Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan penggunaan tanah juga ditemukan di cabang-cabang hukum yang berhubungan dengan kebijakan umum dan pemerintah (siyasah) dan dalam cabang yang menyangkut kejahatan pidana dan perdata (jinayah dan uqubah), di bawah ganti rugi (ghasb) dan kerugian (talaf).
     Energi setiap makhluk hidup dibutuhkan oleh makhluk hidup lain yang menyebabkan terjadinya kelangsungan hidup. Dalam Islam saling keterkaitan ini merupakan salah satu tujuan penciptaan Allah. Sebab Allah menciptakan sesuatu dengan tidak sia-sia (dengan suatu tujuan), seperti yang termakstub dalam surat Ash-Shad ayat 27 :
وَمَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا بَٰطِلٗاۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنَ ٱلنَّارِ 
“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu Karena mereka akan masuk neraka.”
Surat al-A’raf ayat 10:
وَلَقَدۡ مَكَّنَّٰكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَجَعَلۡنَا لَكُمۡ فِيهَا مَعَٰيِشَۗ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ 
“Sesungguhnya kami Telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. amat sedikitlah kamu bersyukur.”
     Persepsi al Qur’an ini sebagai isyarat adanya keteraturan yang harus dijaga oleh setiap makhluk hidup dalam suatu sistem, yang apabila sistem itu terganggu menyebabkan porak-porandanya makhluk hidup yang kokoh dan tergantung pada ekosistem. Para pakar cenderung memberikan penngertian lingkungan hidup sebagai suatu upaya melihat peranan manusia dalam lingkungan hidup.
     Dengan demikian manusia mempunyai peran dan tanggung jawab menjaga dan melestarikan lingkungan hidup yang telah tertata sedemikian rupa untuk kebaikan manusia.



Share:

Friday, March 8, 2019

Bulan Rajab


Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadal Akhiroh dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36).
Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202)
Mengenai empat bulan yang dimaksud disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679). Jadi, empat bulan suci tersebut adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.
Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:
Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Masiir, tafsir surat At Taubah ayat 36)
Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya.
Marilah kita Ingin memperbanyak membaca istigfar Rajab inilah doanya :

اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيْمَ ،اَلَّذِيْ لآاِلَهَ اِلاَّ هُوَاْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ مِنْ جَمِيْعِ اْلمَعَاصِيْ وَالذُّنُوْبِ، وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ مِنْ جَمِيْعِ مَاكَرِهَ اللهُ قَوْلاً وَفِعْلاً وَسَمْعًا وَبَصَرًا وَّحَاصِرًا، اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ لِمَا قَدَّمْتُ وَمَااَخَرْتُ وَمَااَسْرَفْتُ وَمَااَسْرَرْتُ وَمَااَعْلَنْتُ وَمَااَنْتَ اَعْلَمُ بِهِ مَنِّيْ اَنْتَ اْلمُقَدِّمُ وَاَنْتَ اْلمُؤَخِّرُ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ، اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ تُبْتُ اِلَيْكَ مِنْهُ ثُمَّ عُدْتُ فِيْهِ، اَسْتَغْفِرُكَ بِمَااَرَدْتُ بِه وَجْهَكَ اْلكَرِيْمَ فَخَالَطْتُهُ بِمَالَيْسَ لَكَ بِه رِضًى، وَاَسْتَغْفِرُكَ بِمَا وَعَدْتُكَ بِه نَفْسِيْ ثُمَّ اَخْلَفْتُكَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ بِمَادَعَالِيْ اِلَيْهِ اْلهَوَى مِنْ قَبْلِ اْلرُّخَصِ مِمَّااشْتَبَهَ عَلَيَّ وَهَوَعِنْدَكَ مَحْظُوْرٌ، وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنَ النِّعَمِ الَّتِيْ اَنْعَمْتَ بِهَاعَلَيَّ فَصَرَفْتُهَا وَتَقَوَّيْتُ بِهَاعَلَى اْلمَعَاصِيْ، وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذُّنُوْبِ الَّتِيْ لاَيَغْفِرُهَا غَيْرُكَ وَلاَيَطَّلِعُ عَلَيْهَااَحَدٌ سِوَاكَ وَلاَيَسَعُهَا اِلاَّ رَحْمَتُكَ وَحِلْمُكَ وَلاَيُنْجِيْ مِنْهَااِلاَّ عَفْوُكَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ يَمِيْنِ حَلَفْتُ بِهَا فَحَنَثْتُ فِيْهَا وَاَنَاعِنْدَكَ مَأْخُوْذٌ بِهَا، وَاَسْتَغْفِرُكَ يَالاَاِلهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ يَالاَاِلهَ اِلاَّ اَنْتَ عَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مِنْ كُلِّ شَيِّئَةٍ عَمِلْتُهَا فِى بَيَاضِ النَّهَارِوَسَوَادِ الَّيْلِ فِى اْلمَلاَءٍ وَّخَلاَءٍ وَسِرٍّ وَعَلاَنِيَةٍ اِلَيَّ وَاظِرٌ اِذَاارْتَكَبْتُهَا تَرَى مَآاَتَيْتُه مِنَ اْلعِصْيَانِ بِهِ عَمَدًا اَوْ خَطَأً اَوْنِسِيَانًا يَاحَلِيْمُ يَاكَرِيْمُ، وَاَسْتَغْفِرُكَ يَالاَاِلهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ فَرِيْضَةٍ وَجَبَتْ عَلَيَّ فِى آنَآءِ اللَّيْلِ وَاَطْرَافِ النَّهَارِ فَتَرَكْتُهَا عَمَدًا اَوْ خَطَأً اَوْنِسِيَانًا اَوْ تَهَاوُنًا وَاَنَا مَسْئُوْلٌ بِهَا وَمِنْ كُلِّ سُنَّةٍ مِنْ سُنَنِ سَيَّدِاْلمُرْسَلِيْنَ وَخَاتَمِ النَّبِيَّيْنَ مُحَمَّدٍ وَصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرَكْتُهَا غَفْلَةً اَوْسَهْوًا اَوْ جَهْلاً اَوْ تَهَاوُنًا قَلَّتْ اَوْكَثُرَتْ وَاَنَا عَائِدٌ بِهَا، وَاَسْتَغْفِرُكَ يَالاَاِلهَ اِلاَّ اَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ سُبْحَانَكَ رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ لَكَ اْلمُلْكُ وَلَكَ اْلحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ وَاَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ نِعْمَ اْلمَوْلى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ، وَلاَحَوْلَ وَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
Share:

Wednesday, March 6, 2019

Istiqamah Dalam Hidup


Agama adalah tiang kehidupan dan menjadi pegangan bagi setiap manusia dalam menjalani kehidupannya. Tanpa agama, manusia akan sulit menentukan arah hidupnya dengan jelas. Sebagai umat yang memeluk agama Islam, kita perlu untuk selalu mempertebal dan memupuk keimanan serta keyakinan terhadap ajaran agama agar bisa menjadi pribadi yang istiqomah dalam menjalankan segala perintah agama.

Istiqomah artinya menempuh jalan dalam ajaran agama yang lurus, dan tidak menyimpang ke arah manapun selain menuju arah yang lurus. Ini berarti, istiqomah adalah segala bentuk ketaatan terhadap Allah dan meninggalkan semua larangan – Nya.

Dalam salah satu ayat Al – Qur’an Allah telah berfirman sebagai berikut:

“Sesungguhnya orang – orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta. Sebagai ganjaran bagimu dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Fushshilat 41: 30-32)

Dengan demikian keutamaan bersikap istiqomah dalam beribadah telah ditegaskan dalam Al – Qur’an itu sendiri. Agar bisa mencapai keadaan yang istiqomah dalam beribadah, kita harus memupuknya dengan baik. Lakukanlah langkah – langkah Cara Agar Tetap Istiqomah seperti berikut ini:

1. Memperdalam pemahaman mengenai dua kalimat syahadat

Dua kalimat syahadat adalah ikrar seseorang yang memeluk keyakinan agama Islam. Ini adalah cara kita sebagai umat Islam untuk mengamalkan rukun Islam yang pertama, yaitu ketika mengucap kalimat syahadat berarti kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan – Nya. Maka dengan mengucapkan kalimat itu kita berjanji tidak akan menyembah yang lain selain Allah SWT, taat kepada ajaran Allah serta Nabi Muhammad SAW.

2. Memperdalam pengetahuan mengenai Al Qur’an

Salah satu alasan kitab suci umat Islam ini diturunkan adalah untuk memperteguh keyakinan orang – orang yang sudah beriman dengan menjadi petunjuk bagi kehidupan mereka. Sebagaimana tercantum dalam salah satu surat yaitu:

“Katakanlah: Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Rabb-mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang – orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang – orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Surat An – Nahl : 102)

Kurangnya sifat istiqomah seseorang dalam agama Islam biasanya disebabkan karena mereka kurang memperdalam pengetahuan tentang kitab suci ini dan lebih banyak tercebur dalam kehidupan yang diluar agama. Perbanyaklah waktu untuk mempelajari isi Al Qur’an agar ilmu agama semakin kaya dan menjadikannya sebagai tuntunan hidup agar bisa tetap istiqomah dalam beribadah. Salah satu manfaat mempelajari Al Qur’an dengan benar adalah kita jadi mengetahui adab terhadap orang tua yang benar, cara mengabdi kepada suami menurut Islam, dan kedudukan serta peran wanita dalam Islam.

3. Mulai belajar istiqomah dengan beramal

Untuk menjadi seseorang yang bersifat istiqomah dalam beragama, bisa dimulai dari hal – hal yang mendasar terlebih dulu seperti belajar untuk beramal shaleh. Membiasakan diri beramal seperti bersedekah walaupun sedikit adalah langkah awal yang bagus menuju pribadi yang istiqomah. Begitu juga dengan menjalankan shalat sunat, membantu sesama umat Muslim yang sedang dalam kesulitan, mengembangkan ciri – ciri teman yang baik dan tulus pada diri sendiri dan lain – lain. Hal – hal ini adalah cara menjadi pribadi yang baik bagi kita. Kelak amalan – amalan ini dapat ditingkatkan menjadi semakin besar lagi manfaatnya. Beramal juga bisa menjadi cara menghilangkan sifat egois seseorang.

4. Banyak berdoa

Tidak hanya berusaha melakukan berbagai hal agar bisa menjadi pribadi yang istiqomah dalam beragama, doa juga tidak kalah penting. Selalu berdoa agar tetap diberikan petunjuk dalam jalan yang benar akan memperkuat keyakinan terhadap Allah SWT dan ajaran – Nya. Untuk menjadi orang yang selalu tekun beribadah mungkin perlu ada cara merubah sifat yang buruk menjadi lebih baik. Berdoalah agar selalu bisa menjalankan perintah – Nya dan menjauhi semua larangan – Nya. Selalu memanjatkan doa dan meminta petunjuk bisa menjadi cara bersikap sabar dan cara bersikap tenang saat sedang ditimpa masalah.

5. Sering bercermin kepada kisah – kisah Islami

Telah banyak kisah – kisah teladan dalam Islam yang menunjukkan keberanian, kesabaran dan keteguhan hati para tokohnya. Misalnya kisah anak berbakti kepada orang tua dan cerita anak durhaka kepada ibunya yang menggambarkan keutamaan berbakti kepada orang tua yang bisa kita ambil hikmahnya. Dengan mengambil hikmah dari setiap cerita yang kita ketahui, akan dapat menambah keyakinan dan keimanan dalam beragama, serta akan menjadi jalan menjadi pribadi yang istiqomah. Melalui kisah – kisah ini juga kita akan dapat menjadi yakin akan adanya balasan bagi setiap perbuatan dan niat yang baik.

6. Mencari kawan yang sejalan

Meningkatkan pribadi menjadi istiqomah bisa dimulai dari menempatkan diri pada lingkungan yang dipenuhi orang – orang yang bertujuan sama. Orang – orang yang saleh dan mempunyai ciri – ciri orang baik hati adalah tempat yang baik bagi kita untuk mengembangkan sifat istiqomah dalam beragama. Seperti tercantum dalam ayat – ayat berikut ini:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang – orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud (12) : 113)

“Hai orang – orang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang – orang yang benar.”(QS. At – Taubah 119)

Bergaul dengan orang – orang soleh akan bisa mendorong motivasi kita untuk selalu berusaha istiqomah dalam beragama dan menjadi cara merubah diri menjadi lebih baik. Kita memerlukan teman yang bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan bukannya keburukan.

7. Bersikap konsisten dalam beribadah

Amalan yang disukai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus dan berlanjut daripada amalan yang dilakukan secara tanggung atau tidak berkelanjutan. Hal ini tercantum dalam salah satu hadits dari Aisyah RA yaitu:

“Amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amalan yang berkelanjutan walaupun itu hanya sedikit.”

Walaupun sedikit, amalan yang rutin dilakukan lebih baik daripada yang cuma dilakukan sekali – sekali saja. Amalan yang dilakukan secara berkelanjutan akan menjadi ladang pahala dan menjadi perantara dalam mendekatkan diri kepada Allah, juga akan memperbesar ketaatan terhadap segala perintah Allah.

Tujuan hidup menurut Islam adalah untuk beribadah kepada Allah. Bersikap istiqomah dalam beribadah bisa memperbesar peluang untuk mendapatkan pahala, mendekatkan diri kepada Allah dan masuk surga. Karena itulah kita sebagai pemeluk agama Islam perlu memupuknya agar dalam diri kita tumbuh sifat yang istiqomah dan menjadi pribadi yang taat beragama dan beribadah kepada Allah.

Share:

Monday, March 4, 2019

Syekh Sulaiman Ar-Rasuli


SYEKH SULAIMAN AR-RASULI

“Teroeskan membina Tarbijah Islamijah sesoeai dengan peladjaran jang koeberikan..! Tjandoeng, 26 Djuli 1970, Sjech Soelaiman Ar-Rasoeli”.

Begitulah pesan terakhir ulama besar ini yang tertulis pada makamnya, di halaman pesantren salafiyah Madrasah Tarbiyah Islamiyah, Candung. Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli al-Minangkabawi atau Inyiak Canduang -begitu ia dijuluki- lahir di Desa Candung, sekitar 10 km sebelah timur kota Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 1287 H/1871 M.

Ia adalah seorang tokoh ulama dari golongan Kaum Tuo (golongan ulama yang tetap mengikuti salah satu dari empat mazhab fikih) yang gigih mempertahankan ajaran ahl al-sunnah dalam masalah akidah dan fikih. Ayahnya bernama Angku Mudo Muhammad Rasul, adalah seorang ulama yang disegani di daerahnya, sedangkan ibunya, Siti Buliah, seorang wanita yang taat beragama.

Ia yang dikenal oleh para muridnya dengan nama Maulana Syeikh Sulaiman, memperoleh pendidikan awal sejak kecil; terutama pendidikan agama langsung dari ayahnya. Selanjutnya ia belajar di pesantren Tuanku Sami’ Ilmiyah di Desa Baso, tidak jauh dari desanya. Setelah itu ia belajar kepada Syeikh Muhammad Thaib Umar di daerah Sungayang. Pada masa itu masyarakat Minang masih menggunakan sistem pengajian surau atau sistem Salafiyah sebagai sarana transfer pengetahuan keagamaan. Kemudian ia belajar kepada Syeikh Muhammad Thaib Umar dan kepada Syeikh Abdullah Halaban.

Sebelum berangkat ke Mekah pada tahun 1903 M dengan misi tafaqquh fî al-dîn, ia sempat belajar kepada Syeikh Yahya al-Khalidi, Bukittinggi. Ketika tinggal di Mekah, selain kepada Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif al-Minangkabawi, ia juga belajar kepada para ulama lain, di antaranya: Syeikh Wan Ali Abdur Rahman al-Kalantani, Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani, Syeikh Muhammad Zain al-Fathani, Syeikh Ali Kutan al-Kelantani, Syeikh Mukhtar al-Tharid, Syeikh Nawawi al-Bantani, Sayyid Umar Bajened dan Syeikh Sayyid Abbas al-Yamani.

Adapun ulama yang seangkatan dengan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli ketika di Mekah antara lain adalah Syeikh Utsman Serawak  (w.1921 M), Tok Kenali (w.1933 M), Syeikh Hasan Maksum, Sumatera Utara (w.1936 M), KH. Hasyim Asy’ari (w.1947 M), Syeikh Muhammad Zein Simabur, Mufti Kerajaan Perak Tahun 1955 (w.1957 M), Syeikh Abdul Lathif al-Syakur al-Minangkabawi (w.1963 M). Adapun ulama yang terakhir ini, Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli bertemu dengannya di Mekkah tidak berapa lama, yaitu pada pertengahan tahun 1903. Karena Syeikh Abdul Lathif al-Syakur kembali ke tanah air pada akhir tahun 1903 setelah belajar di Mekkah selama 13 tahun.

Baca Juga :  Mengenal Syekh Salim Bin Sumair, Pengarang Kitab "Safinah"
Sekembalinya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli dari Mekkah pada tahun 1907 M, ia mulai mengajar berdasarkan sistem pondok yaitu dengan halaqah. Tetapi sesuai dengan perubahan yang terjadi di Minangkabau, pengajian sistem pondok berubah menjadi sistem sekolah, yaitu duduk di bangku pada tahun 1928 dan menggunakan sistem kelas. Walaupun demikian kitab-kitab yang diajarkan tidak pernah diubah sampai saat ini, baik kitab-kitab akidah, tasawuf dan fikih.

Perjuangan

Selain aktif di dunia pendidikan agama, ia juga aktif di kancah politik dan organisasi. Sejak tahun 1921, ia dengan teman akrabnya, Syeikh Abbas dan Syeikh Muhammad Jamil, serta sejumlah ulama Kaum Tuo Minangkabau, membentuk organisasi bernama Ittihâdu Ulamâ Sumatra (Persatuan Ulama Sumatera) yang bertujuan untuk membela dan mengembangkan paham Ahl al-Sunnah wa al-Jamâah. Di samping itu, ia juga gigih mempertahankan ajaran ­Tarekat Naqsyabandiyyah yang sesuai dengan manhaj Ahl al-Sunnah wa al-Jamâah. Sejarah perjuangan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli adalah dalam mengembangkan sumber daya masyarakat. Secara faktual ada beberapa basis yang dibangun olehnya, sehingga menjadi piranti bagi perjuangan rakyat Sumatera Tengah (mencakup Sumatra Barat, Riau dan Jambi).

Pertama, reformasi sistem pendidikan agama sebagai modal perjuangan rakyat dalam meningkatkan sumber daya manusia. Siklus dari reformasi yang dilakoni Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli ialah membentuk Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI). Proses berdirinya MTI ini didahului dengan musyawarah antara ulama-ulama yang dilaksanakan di Candung pada tanggal 5 Mei 1928. Di antara ulama yang menghadiri rapat ini ialah: Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli, Syeikh Abbas Al-Qadhi dari Ladang Laweh Bukittinggi, Syeikh Ahmad dari Suliki, Syeikh Jamil Jaho dari Padang Panjang, Syeikh Abdul Wahid Ash-Shaleh dari Tabek Gadang, Syeikh Muhammad Arifin dari Batu Hampar, Syeikh Alwi dari Koto Nan Ampek Payakumbuh, Syeikh Jalaluddin dari Sicincin Pariaman, Syeikh Abdul Madjid dari Koto Nan Gadang Payakumbuh. Secara genetik, MTI yang ia dirikan merupakan poros dari eksistensi MTI-MTI yang tersebar di Nusantara, tercatat sampai sekarang ada sekitar 216 MTI yang eksis di Sumatera Barat.

Kedua, pada tanggal 28 Mei 1930 ia memprakarsai berdirinya PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) yang berfungsi sebagai pengelola MTI-MTI yang berada di bawah naungannya. Namun disebabkan gejolak reformasi pada tahun 1946, PERTI yang khittah-nya bergerak sebagai organisasi sosial keagamaan beralih fungsi menjadi partai politik. Peralihan fungsi PERTI ini menjadi partai politik disebabkan argumen KH. Sirajuddin Abbas muridnya “Agama juga harus memberi arah pada perjuangan politik bangsa”. Namun pada tanggal 1 Mei 1969 ia mengeluarkan dekrit agar PERTI kembali kepada khittah-nya sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial dan keagamaan.

Pengaruh

Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli adalah seorang ulama besar yang berpengaruh terhadap kawan maupun lawan. Sejak zaman pemerintahan Belanda, ia sering dikunjungi pemimpin-pemimpin bangsa. Bahkan sebelum Soekarno menjadi presiden hingga berkuasa, sering berkunjung ke rumahnya. Pada zaman kemerdekaan ia sempat diamanatkan oleh Soekarno sebagai anggota Konstituante RI, dan ditempatkan sebagai Dewan Kehormatan dengan menjadi pemimpin sidang pada sidang-sidang Konstituante tersebut. Pada tahun 1947 ia juga diamanatkan oleh Sutan Muhammad Rasyid sebagai kepala Mahkamah Syar’iyyah propinsi Sumatera Tengah. Tugasnya adalah mengurus problematika syar’iyyah dan sekaligus ulama yang berperan sebagai pengobar semangat perjuangan rakyat dalam rangka mempertahankan kemerdekaan negara.

Pada masa itu juga, sebagaimana dituturkan oleh salah seorang muridnya, Abuya Amilizar Amir, bahwa Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli pernah akan ditangkap oleh tentara Belanda. Namun pada saat mengajar, ia berfirasat akan ditangkap. Ketika menyadari hal itu, yang biasanya berada di tempat pengajaran, ia keluar dan berjalan di jalan desanya bukan untuk melarikan diri. Silang beberapa saat, kendaraan yang membawa tentara Belanda yang bertujuan untuk menangkapnya lewat. Tepat dihadapannya tentara Belanda berhenti, ia pun langsung bertanya, “Hendak kemana tuan-tuan semuanya?”

Ketika itu tentara Belanda tidak mengenal wajah Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli. Namun mereka berpatokan kepada siapa yang sedang mengajar di MTI itulah Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli. Dan memang pada hari itu satu-satunya yang mengajar di MTI adalah beliau. Oleh karenanya mereka menjawab, “Kami hendak bertemu dan menangkap Syeikh Sulaiman”. Malah ia menawarkan mereka singgah untuk beristirahat di rumahnya sembari mengatakan, “Alangkah baiknya tuan-tuan singgah terlebih dahulu di rumah saya, karena tuan-tuan pasti akan bertemu dengan orang yang tuan-tuan cari”.

Setelah beristirahat dan berbincang-bincang dengannya, lalu mereka bertanya, “Mana Syeikh Sulaiman yang tuan katakan itu”? Ia menjawab, “Syeikh Sulaiman yang tuan-tuan cari itu adalah saya sendiri”. Mereka merasa terkejut ketika mendengarkan pengakuannya. Tetapi anehnya, mereka mengurungkan niat untuk menangkap tanpa alasan yang jelas. Bahkan, mereka langsung meminta maaf. Inilah di antara bentuk perlindungan Allah Swt kepada seorang ulama.

Karya-karya

Sebagai seorang ulama dan ahli adat, Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli telah melahirkan beberapa karya yang di antaranya banyak dipelajari oleh pelajar Muslim Sumatera dan beberapa kawasan Nusantara lainnya. Di antara karya-karyanya:

Dhiyâ’ al-Sirâj fî al-Isrâ’ wa al-Mi’râj
Tsamarah al-Ihsân fî Wilâdah Sayyid al-Insân
Dawâ’ al-Qulûb fî Qishshah Yusuf wa Ya’qûb
Risâlah al-Aqwâl al-Wasithah fî al-Dzikr wa al-Râbithah
Qaul al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’ân
Al-Jawâhir al-Kalâmiyyah
Al-Aqwâl al-Mardhiyyah
Sabîlu al-Salâmah fî Wird Sayyid al-Ummah
Aujaz al-Kalâm fî Arkân al-Shiyâm
Perdamaian Adat dan Syara’
Pengangkatan Penghulu di Minangkabau
Kisah Muhammad Arif dan belasan karya tulis lainnya.

Ia wafat pada 29 Jumadil Awal 1390 H/ 1 Agustus 1970 M. Pada hari pemakamannya, diperkirakan ada tiga puluh ribu umat Islam hadir. Termasuk para pemimpin dari dalam negeri, bahkan dari Malaysia. Bendera Merah-Putih dikibarkan setengah tiang selama 3 hari berturut-turut. Kepergiannya meninggalkan duka yang dalam bagi rakyat Indonesia, karena hilangnya salah seorang ulama yang kharismatik. Jasanya sebagai perintis kemerdekaan dan pengemban agama Islam tidak dapat dinilai hanya dengan penghargaan Oranye Van Nassau dari pemerintah Belanda, Bintang Sakura dari pemerintah Jepang, serta penobatan sebagai pahlawan perintis kemerdekaan dan dianugerahi tanda penghargaan sebagai ulama pendidik. Namun yang lebih penting adalah bagaimana semua komponen masyarakat mengintegrasikan nilai-nilai perjuangan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

Share:

Saturday, March 2, 2019

Manusia Sebagai Khilafah


SURAT AL BAQARAH 30
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
            Sebutkan -wahai Rasul- kepada manusia  ketika Allah ta'ala berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menjadikan di muka bumi sekumpulan makhluk yang sebagian mereka akan menggantikan sebagian lainnya untuk memakmurkannya.” Para malaikat berkata: “wahai Tuhan kami beritahukanlah kepada kami dan Tunjukilah kami apa hikmah dibalik penciptaan mereka itu, sedangkan karakter mereka itu melakukan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah secara dzolim dan sewenang-wenang, sementara Kami selalu taat terhadap perintah-Mu, kami menyucikan-Mu dengan penyucian yang sesuai dengan sifat-sifat-Mu yang terpuji dan kebesaran-Mu, dan kami  mengagungkan-Mu dengan seluruh sifat kesempurnaan dan keagungan?”. Allah menjawab  mereka dengan firman-Nya: “Sesungguhnya aku lebih mengetahui hal-hal yang tidak kalian ketahui dari apa  yang mengandung kemaslahatan besar pada penciptaan mereka.”
            Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 30. إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً (Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”). Makna dari (الخليفة) adalah penerus bagi para pendahulu (malaikat); dan yang dimaksud dengan khalifah dalam ayat ini adalah Nabi Adam. Kalimat ini ditujukan oleh Allah kepada pada malaikat bukan bertujuan untuk bermusyawarah atau meminta pendapat akan tetapi untuk mengeluarkan apa yang ada dalam diri mereka. أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا (“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya) Yakni dengan melakukan kesyirikan dan kemaksiatan. Para ulama berpendapat bahwa perkataan ini berasal dari ilmu yang diajarkan oleh Allah kepada malaikat. Karena mereka pada dasarnya tidak mengetahui hal yang ghaib. وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ(dan menumpahkan darah) Yakni dengan menyakiti dan membunuh. وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ (padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”) Yakni kami senantiasa memuji Engkau dan mensucikan Engkau dari apa yang tidak layak untuk dinisbahkan kepada-Mu. قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ(Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”) Qatadah berpendapat dalam tafsir ayat ini bahwa : Allah mengetahui bahwa akan ada diantara khalifah ini yang akan menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul, orang-orang sholeh, dan penghuni surga.
            Zubdatut Tafsir / Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris ilmu tafsir Univ Islam Madinah Dan ingatkanlah kaummu wahai Muhammad ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi, yaitu Adam. Aku mewakilkan kepadanya urusan pemakmuran bumi dan pelaksanaan hukum-hukumKu”. Lalu para malaikat berkata dalam diri mereka sendiri: “Bukankah Engkau akan menciptakan di dalamnya seseorang yang kelak akan melakukan kerusakan dengan berbuat kemusyrikan dan kemaksiatan?”. Sungguh mereka telah mengetahui hal itu karena telah diajarkan oleh Allah dengan suatu cara tertentu. Maksud ucapan mereka adalah “Apakah Engkau hendak menciptakan di dalamnya orang yang mengalirkan darah yang haram dengan saling membunuh, menyakiti dan bertikai, sedangkan kami adalah ciptaan-ciptaan yang selalu bersyukur, memujiMu dan mensucikanMu dari hal-hal yang tidak sesuai denganMu?”. Kemudian Allah berfirman: “Aku lebih mengetahui tentang sesuatu yang tidak kalian ketahui, yaitu akan ada di antara para khalifah itu, para nabi dan orang-orang shalih.
             Tafsir Al-Wajiz / Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili Makna kata : Al-Malaaikah : Bentuk plural (jamak) dari Mal’akun dan dijadikan ringan menjadi malakun. Mereka adalah makhluk yang berada di alam ghaib, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberitakan bahwa Allah menciptakan mereka dari cahaya. Al-Kholiifah     : Orang yang menggantikan selainnya, dan yang dimaksud dalam ayat di sini adalah Nabi Adam ‘alaihissalam يُفۡسِدُ فِيهَا (Yufsidu fiihaa) : Bentuk kerusakan di muka bumi adalah dengan perbuatan kufur dan melakukan kemaksiatan. يَسۡفِكُ (Yasfiku) : Artinya adalah mengalirkan darah dengan membunuh atau melukai. نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ (Nusabbihu bihamdika) : Kami mengatakan “Subhanallah wabihamdihi” Maha Suci Allah dengan segala pujian untukNya. Yang dimaksud dengan at-tasbiih adalah menyucikan Allah dari sesuatu yang tidak pantas untukNya. وَنُقَدِّسُ لَكَۖ (Wa Nuqoddisu laka) : Yaitu kami mensucikan Engkau dari hal-hal yang tidak sesuai dengan Mu. At-Taqdiis maknanya adalah membersihkan serta menjauhkan sesuatu yang tidak sepantasnya. Huruf lam pada kata Laka adalah tambahan sebagai penguat arti, karena kata kerja Qoddasa bisa menarik obyek kata dengan sendirinya tanpa bantuan huruf menjadi Qoddasahu. Makna ayat : Allah Ta’ala memerintahkan rasulNya agar mengingat firmanNya kepada malaikat bahwasanya Dia menjadikan di muka bumi seorang kholifah untuk menjalankan hukum-hukumNya. Lantas para malaikat bertanya-tanya dengan kekhawatiran bahwa khalifah ini akan menjadi orang yang menumpahkan darah serta berbuat kerusakan di muka bumi dengan kekufuran dan maksiat sebagai qiyas dari penciptaan jin yang terjadi apa yang mereka khawatirkan. Maka Allah memberi tahu kepada mereka bahwa Dia lebih mengetahui hikmah serta kemaslahatan yang tidak diketahui para malaikat. Maksud dari pengingat ini adalah tambahan dalil yang menunjukkan wujud keberadaan Allah Ta’ala, kekuasaanNya, ilmuNya, serta hikmahNya yang mengharuskan keimanan kepadaNya dan hanya beribadah kepadaNya saja.


Share:

Friday, March 1, 2019

Syahadat, Shalat, Zakat, Satu Rangkaian


Hadis Arbain ke-8

 عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ، وَيُقِيْمُواالصَّلاَةَ، وَيُؤْتُواالزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّيْ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الأِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ تَعَالىَ
Dari Ibnu Umar -radhuyallahu ‘anhuma-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersyahadat ‘aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah, dan (aku bersaksi bahwa) Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan hal itu, darah dan harta mereka telah terlindung dariku, kecuali dengan hak Islam. Dan perhitungan (amalan) mereka di sisi Allah”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

            Hadis ini amat berharga dan termasuk salah satu prinsip Islam. Hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Anas, Rasulullah bersabda : “Sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, menghadap kepada kiblat kita, memakan sembelihan kita dan melaksanakan shalat kita. Jika mereka melakukan hal itu, maka darah mereka dan harta mereka haram kita sentuh kecuali karena hak. Bagi mereka hak sebagaimana yang diperoleh kaum muslim dam mereka memikul kewajiban sebagaimana yang menjadi kewajiban kaum muslimin”.
            Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah disebutkan sabda beliau : “Sampai mereka bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah dan beriman kepadaku dan apa yang aku bawa“.
Hal ini sesuai dengan kandungan Hadits riwayat dari ‘Umar diatas.

            Tentang maksud hadis ini para ulama mengartikannya berdasarkan sejarah, yaitu tatkala Rasulullah wafat dan Abu Bakar Ash Shiddiq diangkat sebagai khalifah untuk menggantikannya, sebagian dari orang Arab menjadi kafir. Abu Bakar bertekad untuk memerangi mereka sekalipun di antara mereka ada yang tidak kafir tetapi menolak membayar zakat. Abu Bakar lalu mengemukakan alasan perbuatannya itu, tetapi ‘Umar berkata kepadanya : “Bagaimana engkau akan memerangi manusia sedangkan mereka mengucapakan laa ilaaha illallaah dan Rasulullah bersabda : “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah ... dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah Ta’ala”. Abu Bakar lalu menjawab : “Sesungguhnya zakat itu adalah kewajiban yang bersifat kebendaan”. Lalu katanya : “Demi Allah, kalau mereka merintangiku untuk mengambil seutas tali unta yang mereka dahulu serahkan sebagai zakat kepada Rasulullah niscaya aku perangi mereka karena penolakannya itu”.Maka kemudian Umar mengikuti jejak Abu Bakar untuk memerangi kaum tersebut.

            Kalimat "Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, dan barangsiapa telah mengucapkannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah”. Khatabi dan lain-lain bekata : “Yang dimaksud oleh Hadits ini ialah kaum penyembah berhala dan kaum Musyrik Arab serta orang yang tidak beriman, bukan golongan Ahli kitab dan mereka yang mengakui keesaan Allah”. Untuk terpeliharanya orang-orang semacam itu tidak cukup dengan mengucapkan laa ilaaha illallaah saja, karena sebelumnya mereka sudah mengatakan kalimat tersebut semasa masih sebagai orang kafir dan hal itu sudah menjadi keimanannya. Tersebut juga didalam hadits lain kalimat “dan sesungguhnya aku adalah rasul Allah, mereka melaksanakan shalat, dan mengeluarkan zakat”.

            Syaikh Muhyidin An Nawawi berkata : “Di samping mengucapkan hal semacam ini ia juga harus mengimani semua ajaran yang dibawa Rasulullah seperti tersebut pada riwayat lain dari Abu Hurairah, yaitu kalimat, “sampai mereka bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah, beriman kepadaku dan apasaja yang aku bawa”
            Kalimat, “Dan perhitungannya terserah kepada Allah” maksudnya ialah tentang hal-hal yang mereka rahasiakan atau mereka sembunyikan, bukan meninggalkan perbuatan-perbuatan lahiriah yang wajib. Demikian disebutkan oleh khathabi. Khathabi berkata : Orang yang secara lahiriah menyatakan keislamannya, sedang hatinya menyimpan kekafiran, secara formal keislamannya diterima” ini adalah pendapat sebagian besar ulama. Imam Malik berkata : “Tobat orang yang secara lahiriah menyatakan keislaman tetapi menyimpan kekafiran dalam hatinya (zindiq) tidak diterima” ini juga merupakan pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad.
            Kalimat, “aku diperintah memerangi manusia sampai mereka bersaksi tidak ada tuhan kecuali Allah dan mereka beriman kepadaku dan apa yang aku bawa” menjadi alasan yang tegas bahwa manusia apabila meyakini islam dengan sungguh-sungguh tanpa sedikitpun keraguan, maka hal itu sudah cukup bagi dirinya. Dia tidak perlu mempelajari berbagai dalil ahli ilmu kalam dan mengenal Allah dengan dalil-dalil semacam itu.
            Hal ini berbeda dengan mereka yang berpendapat bahwa orang tersebut wajib mempelajari dalil-dalil semacam itu dan dijadikannya sebagai syarat masuk Islam. Pendapat ini jelas sekali kesalahannya, sebab yang dimaksud oleh hadis diatas, adanya keyakinan yang sungguh-sungguh dalam diri seseorang. Hal ini sudah dapat terpenuhi tanpa harus mempelajari dalil-dalil semacam itu, sebab Rasulullah mencukupkan dengan mempercayai ajaran apa saja yang beliau bawa tanpa mensyaratkan mengetahui dalil-dalilnya. Didalam hal ini terdapat beberapa hadis sahih yang jumlah sanadnya mencapai derajat mutawatir dan bernilai pengetahuan yang pasti. Wallahu a’lam.

Share:

Konsultasi dengan Gus Abduh

Data Kunjungan