Melatih dan Mencerahkan Jiwa

Dr. KH. Abduh Al-Manar, M.Ag.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah. Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

PAUD Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MI Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MTS Al-Iryadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Sunday, September 22, 2019

Jangan Menunda-Nunda Amal

Al-Hikam Pasal 26
Jangan Menunda Amal

اِحالتكَ الاَعمالِ علىٰ وجودِ الفراغِ من رعوناتِ النـَّفـْسِ
" Menunda amal perbuatan [kebaikan] karena menanti kesempatan lebih baik, suatu tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa "
Syarah
Seorang murid apabila terlalu disibukkan dengan urusan dunianya, yang bisa menghalangi amal yang menyebabkan dekat dengan Alloh, sehingga dia menangguhkan amal menunggu kesempatan yang tidak sibuk itu dinamakan kumprung/kebodohan.
Kebodohan itu disebabkan oleh:
1. Karena ia mengutamakan duniawi. Padahal Alloh subhanahu wata'ala berfirman: ''Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya.''
2. Penundaan amal itu kepada masa yang ia sendiri tidak mengetahui apakah ia akan mendapatkan kesempatan itu atau kemungkinan ia akan dijemput oleh maut yang setiap saat selalu menantinya.
3. Kemungkinan azam, niat dan hasrat itu menjadi lemah dan berubah. Seorang penyair berkata: ''Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini. Waktu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan kecuali untuk sesuatu yang berharga.
Share:

Thursday, September 19, 2019

Rizki Yang Halal

Hadis ke-10

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى :  ,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً - وَقاَلَ تَعَالَى : , يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ - ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ .
[رواه مسلم]

Terjemah hadis /  ترجمة الحديث :
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya : Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah. Dan Dia berfirman : Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Yaa Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan.
(Riwayat Muslim).

Pelajaran :
  1. Dalam hadits diatas terdapat pelajaran akan sucinya Allah ta’ala dari segala kekurangan dan cela.
  2. Allah ta’ala tidak menerima kecuali sesuatu yang baik. Maka siapa yang bersedekah dengan barang haram tidak akan diterima.
  3. Sesuatu yang disebut baik adalah apa yang dinilai baik disisi Allah ta’ala.
  4. Berlarut-larut dalam perbuatan haram akan menghalangi seseorang dari terkabulnya doa.
  5. Orang yang maksiat tidak termasuk mereka yang dikabulkan doanya kecuali mereka yang Allah kehendaki.
  6. Makan barang haram dapat merusak amal dan menjadi penghalang diterimanya amal perbuatan.
  7. Anjuran untuk berinfaq dari barang yang halal dan larangan untuk berinfaq dari sesuatu yang haram.
  8. Seorang hamba akan diberi ganjaran jika memakan sesuatu yang baik dengan maksud agar classinya diberi kekuatan untuk ta’at kepada Allah.
  9. Doa orang yang sedang safar dan yang hatinya sangat mengharap akan terkabul.
  10. Dalam hadits terdapat sebagian dari sebab-sebab dikabulkannya do’a : Perjalanan jauh, kondisi yang bersahaja dalam pakaian dan penampilan dalam keadaan kumal dan berdebu, mengangkat kedua tangan ke langit, meratap dalam berdoa, keinginan kuat dalam permintaan, mengkonsumsi makanan, minuman dan pakaian yang halal.
Share:

Tanda-Tanda Orang Bodoh

Al-Hikam Pasal 25
Tanda-Tanda Kebodohan

ماتركَ من الجهلِ شيْـءـاًمن ارادَ ان يُحدِثَ فى الوَقتِ غيرَمااظهرهُ اللهُ فيهِ
"Tiada meninggalkan sedikitpun dari kebodohan, barangsiapa yang berusaha akan mengadakan sesuatu dalam suatu masa, selain dari apa yang dijadikan oleh Alloh di dalam masa itu."
Syarah
Sungguh amat bodoh seorang yang mengadakan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Alloh. Pada Hikmah lain ada keterangan: Tiada suatu saat pun yang berjalan melainkan di situ pasti ada takdir Alloh yang dilaksanakan.
Alloh berfirman: "Tiap hari Dia [Alloh] menentukan urusan ." Menciptakan, menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghinakan dan lain-lain. Maka sebaiknya seorang hamba menyerah dengan ikhlas kepada hukum ketentuan Alloh pada tiap saat, sebab ia harus percaya kepada rahmat dan kebijaksanaan kekuasaan Alloh.
Share:

Tuesday, September 17, 2019

Bukti Kekuasaan Allah

Al-Hikam Pasal 15-24

مِمَّايَدُلُّكَ على وجُودِ قهرِهِ سُبْحانهُ ان حجبكَ عَنهُ بما ليسَ بموجُودٍ معه
15."Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya kekuasaan Alloh yang luar biasa, ialah dapat menghijab engkau dari pada melihat kepada-Nya dengan hijab tanpa wujud di sisi Alloh."
Syarah
Sepakat para orang-orang arif, bahwa segala sesuatu selain Alloh tidak ada artinya, tidak dapat disamakan adanya sebagaimana adanya Allah, sebab adanya alam terserah kepada karunia Alloh, bagaikan adanya bayangan yang tergantung selalu kepada benda yang membayanginya. Maka barangsiapa yang melihat bayangan dan tidak melihat kepada yang membayanginya, maka di sinilah terhijabnya. Alloh berfirman: "segala sesuatu rusak binasa kecuali dzat Alloh." Rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam membenarkan ucapan seorang penyair yang berkata: ''Camkanlah!Bahwa segala sesuatu selain Alloh itu palsu belaka. Dan tiap nikmat kesenangan dunia, pasti akan binasa.]

كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى اظهركلَّ شيىءٍ
16."Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab [dibatasi tirai] oleh sesuatu padahal Alloh yang menampakkan [mendhohirkan] segala sesuatu."

كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظَهربِكلّ شيىءٍ
17."Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] yang tampak [dhohir] pada segala sesuatu."

كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظهرفى كلّ شيىءٍ
18."Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] yang terlihat dalam tiap sesuatu."

كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظهرلِكلّ شيىءٍ
كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهو الظاهرقبل وجودِ كلّ شيىءٍ
19."Bagaimana akan dapat ditutupi oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] yang tampak pada tiap sesuatu. Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] yang ada dhohir sebelum adanya sesuatu."

كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهو اَظَْهرمن كلّ شيىءٍ
20."Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] lebih jelas dari segala sesuatu."

كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالواحد الذى ليسَ معهُ شيىءٍ
21."Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] yang tunggal yang tidak ada di samping-Nya sesuatu apapun."

كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهواقربُ ا ِليكَ من كلّ شيىءٍ
22."Bagaimana akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu."

كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ ولولاه ماكان وجودُ كلّ شيىءٍ
23."Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal seandainya tidak ada Alloh, niscaya tidak akan ada segala sesuatu."
Syarah
Alloh itu dzat yang mendhohirkan segala sesuatu, bagaimana mungkin sesuatu itu bisa menutupi/menghijab-Nya.
Alloh itu dzat yang nyata pada segala sesuatu, bagaimana bisa Dia tertutupi,
Alloh itu dzat yang maha Esa, tidak ada sesuatu yang bersama-Nya, bagaimana mungkin Dia dihijab oleh sesuatu yang tidak wujud disamping-Nya.
Demikian tampak jelas sifat-sifat Alloh pada tiap-tiap sesuatu di alam ini, yang semua isi alam ini sebagai bukti kebesaran, kekuasaan, keindahan, kebijaksanaan dan kesempurnaan dzat Alloh yang tidak menyerupai sesuatu apapun dari makhluknya. Sehingga bila masih ada manusia yang tidak mengenal Alloh [tidak melihat Alloh], maka benar-benar ia telah silau oleh cahaya yang sangat terang, dan telah terhijab dari nur ma'rifat oleh awan tebal yang berupa alam sekitarnya.

يا عجبا كيفَ يظهرُالوجودُفى العدمِ ، ام كيفَ يَثبُتُ الحادثُ معَ من لهُ وَصفُ القِدَمِ
24."Sungguh sangat ajaib, bagaimana tampak wujud dalam ketiadaan, atau bagaimana dapat bertahan sesuatu yang hancur itu, di samping dzat yang bersifat qidam."
Syarah
Yakni, sesuatu yang hakikatnya tidak ada bagaimana dapat tampak ada wujudnya. Hakikat 'adam [tidak ada] itu gelap, sedangkan wujud itu bagaikan cahaya terang. Demikian pula bathil dan haq. Bathil itu harus rusak dan binasa, sedangkan yang haq itulah yang harus tetap kuat bertahan.
Kata KAYFA yang jumlahnya ada sepuluh, semua isim Istifham, tapi yang dimaksudkan menggunakkan arti Ta'ajjub(heran),dan arti menafikan (tidak mungkin). Ta'ajjub itu karena syuhudnya kepada Alloh, jika hamba sudah syuhud kepada Alloh semua wujud selain Alloh itu hilang dari pandangan mata hatinya, semua selain Alloh itu sama sekali tidak ada wujudnya.
Share:

Monday, September 16, 2019

Penuhi Segala Janji


Di dalam Tafsir As-Sa’di Surat al-Baqarah ayat 40-43 : Allah Subhanahu wa Ta’ala mulai mengingatkan bani Israil akan nikmat-nikmat-Nya terhadap mereka dan anugerah-anugerah-Nya atas mereka seraya berfirman:
يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتِيَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ وَأَوۡفُواْ بِعَهۡدِيٓ أُوفِ بِعَهۡدِكُمۡ وَإِيَّٰيَ فَٱرۡهَبُونِ وَءَامِنُواْ بِمَآ أَنزَلۡتُ مُصَدِّقٗا لِّمَا مَعَكُمۡ وَلَا تَكُونُوٓاْ أَوَّلَ كَافِرِۢ بِهِۦۖ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗا وَإِيَّٰيَ فَٱتَّقُونِ وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ 
Hai Bani Israil ingatlah akan ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut [tunduk]. (40) Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan [Al Qur’an] yang membenarkan apa yang ada padamu [Taurat], dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. (41) Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui. (42) Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. (43)

Tafsir ayat: 40.  يَـٰبَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ “Hai bani Israil” yang dimaksud dengan Israil adalah Ya’kub ‘alaihis salam, titah (khitbah) ini ditujukan kepada sekelompok dari bani Israil, yang berada di Madinah dan sekitarnya, termasuk di dalamnya orang-orang yang datang setelahnya, lalu Allah memerintahkan kepada mereka dengan suatu perintah yang bersifat umum seraya berfirman, ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتِىَ ٱلَّتِىٓ أَنۡعَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ “Ingatlah akan nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu” adalah termasuk di dalamnya seluruh nikmat-nikmat yang akan  disebutkan dalam surat ini sebagiannya, dan yang dimaksudkan dengan mengingatnya dengan hati adalah adanya pengakuan dan dengan lisan adanya pujian dan dengan anggota tubuh adalah dengan menggunakannya kepada hal-hal yang disukai oleh Allah dan diridhaiNya. وَأَوۡفُواْ بِعَہۡدِىٓ “Dan penuhilah janjimu kepadaKu” maksudnya, penuhilah sesuatu yang diamanatkanNya kepada mereka, berupa amanat iman kepadaNya, kepada Rasul-rasulNya dan menegakkan syariatNya. أُوفِ بِعَهۡدِكُمۡ “Niscaya Aku penuhi janjiKu kepadamu”, maksudnya Allah memberikan ganjaran akan hal tersebut, dan yang dimaksud dengan hal itu adalah apa yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya:

وَلَقَدۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَـٰقَ بَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ وَبَعَثۡنَا مِنۡهُمُ ٱثۡنَىۡ عَشَرَ نَقِيبً۬ا‌ۖ وَقَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مَعَڪُمۡ‌ۖ لَٮِٕنۡ أَقَمۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيۡتُمُ ٱلزَّڪَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرۡتُمُوهُمۡ وَأَقۡرَضۡتُمُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنً۬ا لَّأُڪَفِّرَنَّ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَلَأُدۡخِلَنَّڪُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ‌ۚ فَمَن ڪَفَرَ بَعۡدَ ذَٲلِكَ مِنڪُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ
Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian [dari] Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus”. (Al-Maidah: 12)
Kemudian Allah memerintahkan mereka dengan sebab yang mendorong mereka untuk menunaikan janjinya yaitu rahbah (takut disebabkan amal) dariNya dan khasyyah (takut disebabkan ma’rifah) kepadaNya Subhanahu wa Ta’ala semata, karena sesungguhnya orang yang khasyyah kepadaNya pastilah khasyyah itu akan mendorongnya untuk mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya. Kemudian Allah memerintahkan kepada mereka dengan suatu perintah yang bersifat khusus  yang mana keimanan mereka tidak akan sempurna dan tidak akan benar kecuali dengannya
Allah berfirman, ayat 41.  وَءَامِنُواْ بِمَآ أَنزَلۡتُ “Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan”, maksudnya al-Qur’an, yang Allah turunkan kepada hamba dan RasulNya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Allah memerintahkan mereka untuk beriman kepadanya dan mengikutinya. Hal ini mengharuskan keimanan kepada seseorang yang kitab tersebut dirueunkan kepadanya, dan Allah menyebutkan pendorong dalam keimanan mereka, seraya berfirman, مُصَدِّقً۬ا لِّمَا مَعَكُمۡ “Yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat)” maksudnya, kitab yang sesuai dengna kitab yang berada di sisimu, tidak berbeda dan tidak pula bertentangan, lalu apabila ia sesuai dengan apa yang ada pada kalian yang tidak berbeda dengannya, maka tidaklah ada penghalang bagi kalian untuk beriman kepadanya, karena ia membawa ajaran yang dibawa oleh para rasul, dan kalian lebih patut beriman kepadanya dan mempercayainya, karena kalian adalah ahli kitab dan ahli ilmu.
Dan juga dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, مُصَدِّقً۬ا لِّمَا مَعَكُمۡ “yang membenarkan (Taurat) yang ada padamu” sebagai sebuah isyarat bahwa bila kalian tidak beriman kepadanya maka itu akan kembali kepada kalian sendiri dengan pendustaan kalian terhadap apa yang ada pada kalian, karena ajaran yang dibawa kitab tersebut adalah sama dengan ajaran yang dibawa oleh Musa, Isa, dan lain-lainnya dari para Nabi, maka pendustaan kalian terhadapnya adalah pendustaan kalian terhadap apa yang ada pada kalian.

Demikian juga sesungguhnya dalam kitab yang ada pada kalian ada berita tentang Nabi yang membawa al-Qur’an dan kabar gembira dengannya. Dan apabila kalian tidak beriman kepadanya niscaya kalian telah mendustai  sebagian yang telah  turun kepada kalian, padahal orang yang mendustai sebagian yang diturunkan kepadanya maka dia telah mendustai seluruhnya sebagaimana orang yang mendustai seorang Rasul, maka dia telah mendustai para Rasul seluruhnya. Dan ketika Allah memerintahkan kepada mereka untuk beriman kepadanya, Dia melarang dan mengingatkan mereka dari kebalikannya yaitu kafir terhadapnya, 

Allah berfirman, وَلَا تَكُونُوٓاْ أَوَّلَ كَافِرِۭ بِهِۦ‌ۖ “Dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya” maksudnya kafir kepada Rasul dan al-Qur’an. Dan dalam firmanNya, أَوَّلَ كَافِرِۭ بِهِۦ‌ۖ “Orang yang pertama kafir kepadanya”, statemen ini lebih kuat daripada firmanNya, “dan janganlah kalian kafir kepadanya.” Karena apabila mereka pertama kafir kepadanya maka dalam hal itu penyegeraan mereka dalam kafir kepadanya adalah suatu tindakan yang sebaliknya yang seharusnya mereka lakukan, sehingga dosa-dosa mereka dan dosa orang-orang setelahnya yang mengikuti mereka terlimpahkan kepada mereka.
Kemudian Allah menyebutkan tentang penghalang bagi mereka dari keimanan yaitu memilih penawaran yang paling rendah daripada kebahagiaan yang abadi seraya berfirman, وَلَا تَشۡتَرُواْ بِـَٔايَـٰتِى ثَمَنً۬ا قَلِيلاً۬  “Dan jangnlah kamu menukarkan ayat-ayatKu dengan harga yang rendah.” Maksudnya, kedudukan dan penghidupan  yang mereka peroleh dimana mereka mengira itu semua akan lenyap jika mereka beriman kepada Allah dan RasulNya, maka mereka menukarkan hal itu dengan ayat-ayat Allah, mereka menyukainya dan mendahulukannya. وَإِيَّـٰىَ “Dan hanya kepada Akulah” maksudnya tidak kepada selainKu (Allah, -ed), فَٱتَّقُونِ  “kamu harus bertakwa” karena kalian bila bertakwa kepada Allah semata, niscaya ketakwaan kalian itu mendorong kalian untuk mendahulukan keimanan kepada ayat-ayatNya daripada penawaran yang rendah itu, sebagaimana juga bila kalian memilih penawaran yang rendah itu, maka hal itu adalah bukti penunjuk akan hilangnya ketakwaan dalam hati kalian,

kemudian Allah berfirman ayat 42. وَلَا تَلۡبِسُواْ “Dan janganlah kamu campur adukkan” yaitu membuat tumpang tindih,  ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَـٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ “yang haq dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu.” Dia melarang mereka dari dua hal, dari mencampur antara yang haq dengan yang batil dan menyembunyikan yang haq, karena sasaran dari ahli kitab dan ahli ilmu adalah membedakan antara yang haq dari yang batil dan menampakkan yang haq itu agar orang-orang yang ingin mendapatkan petunjuk darinya dapat mengambil petunjuk darinya, orang-orang yang sesat dapat kembali sadar, dan tegaknya dalil atas orang-orang yang mengingkarinya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan ayat-ayatNya dan menerangkan keterangan-keteranganNya untuk membedakan yang haq dari yang batil dan agar jelas jalan orang-orang yang mengambil petunjuk dari jalan orang-orang yang mengingkari. Maka niscaya dia tergolong dari para khalifah Rasul dan pemberi petunjuk bagi umat, dan barangsiapa mencampuradukkan yang haq dengan yang batil dan ia tahu akan hal itu lalu ia menyembunyikan yang haq yang ia tahu padahal ia diperintahkan untuk menampakkannya, maka ia tergolong pada penyeru-penyeru kepada Neraka Jahannam, karena manusia tidaklah akan mencontoh siapa pun dalam urusan agama mereka kecuali kepada para ulama mereka. Nah, pilihlah bagi diri kalian salah satu dari kedua kondisi tersebut.

Pada ayat 43. kemudian Allah berfirman, وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ “Dan dirikanlah shalat” yaitu secara lahir maupun batin, وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ “Dan tunaikanlah zakat” terhadap orang-orang yang berhak menerimanya, وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٲكِعِينَ “Dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”, maksudnya shalatlah beserta orang-orang yang shalat karena bila kalian melakukan hal itu dengan keimanan kepada Rasul-rasul Allah dan ayat-ayatNya maka sesungguhnya kalian telah menyatukan antara perbuatan-perbuatan yang lahir dan yang batin, dan antara keikhlasan kepada Allah dan berbuat baik kepada hamba-hambaNya, dan antara ibadah-ibadah hati, tubuh dan harta. Dan firmanNya وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٲكِعِينَ  “Dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” maksudnya  shalatlah bersama orang-orang yang shalat, dalam hal ini ada suatu perintah untuk shalat berjamaah dan kewajibannya. Dan bahwasanya ruku’ itu merupakan rukun di antara rukun-rukun shalat, karena Allah telah menyebutkan shalat dengan kata ruku’. Sedangkan mengungkapkan suatu ibadah dengan kata yang merupakan bagian darinya adalah menunjukkan kepada wajibnya hal itu padanya.

BAHAN BACAAN :
Taisir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Manan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah yang diterjemahkan oleh Muhammad Iqbal, et al; Pustaka Sahifa,  Cetakan Pertama, Dzulhijjah 1427 H

Share:

Sunday, September 1, 2019

Fenomena Hijrah

Media sosial diramaikan dengan fenomena “hijrah” berbagai kalangan, termasuk para artis. Fenomena hijrah yang dimaksud ini adalah berusaha untuk mempelajari Islam lebih dalam, sekaligus mengubah gaya hidup menjadi lebih kental dengan nuansa Islam. Meski demikian, fenomena hijrah ini sempat memicu perdebatan karena pada beberapa kesempatan, terdapat nuansa politik yang ikut serta di dalamnya.

Mengkaji kata hijrah, bukanlah kata yang asing bagi umat muslim. Sejarah Islam mencatat bahwa nabi Muhammad SAW pernah melakukan hijrah semasa hidupnya. Namun, hijrah yang dimaksud berbeda total dengan makna “hijrah” yang lagi nge-tren di kalangan masyarakat Indonesia. Hijrah tersebut memiliki makna berpindah kota dari Mekah ke Madinah. Lantas, apa sebenarnya makna hijrah yang sebenarnya?

Berpindah dan Hijrah
Makna dasar dari kata hijrah adalah meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat. Hal inilah yang membuat hijrah dapat memiliki beragam makna yang berbeda. Makna kata hijrah dapat dilihat dari pemaknaan umum, atau pun pemaknaan khusus sesuai konteks.

Dalam pemaknaan umum, yakni berpindah tempat, makna hijrah dapat dipahami seperti kisah Nabi Muhammad SAW yang berpindah kota dari Mekah ke Madinah. Setiap orang dapat menggunakan kata hijrah untuk berpindah secara fisik dari satu tempat ke tempat yang lain. Sehingga penggunaan kata “Hijrah” seperti dalam lagu The Changcuters yang berjudul “Hijrah ke London” tidak salah.

Hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW ini pun menjadi titik awal Kalender Hijriyah. Khalifah Umar bin Khatab menetapkan bahwa tanggalan umat muslim, yang diberi nama Kalender Hijriyah, akan dimulai dari peristiwa besar yang terjadi dalam hidup Nabi Muhammad SAW tersebut. Menurut Khalifah Umar, hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah bersama sahabat rasul adalah peristiwa paling monumental dalam perkembangan Islam, sehingga patut menjadi dasar dari kalender yang dianut umat muslim.

Sedangkan dalam pemaknaan yang lebih khusus, sebagian ulama mengaitkan kata hijrah dengan berpindah secara keimanan. Kondisi yang dimaksud adalah berpindah dari “darul kufur” atau satu kondisi kekufuran, menuju ke arah “darul Islam.” Alih-alih fisik, yang berpindah dalam konteks ini adalah kondisi keimanan Islam seseorang.

Di luar dua makna tersebut, masih ada hijrah-hijrah lain yang lebih jarang disinggung. Sebut saja Hijrah Fikriyah, dari kata fiqrun yang bermakna pemikiran. Di sini, hijrah yang dilakukan adalah hijrah pemikiran, dengan lebih berfokus pada pemikiran berbasis keislaman.

Ada juga Hijrah Sulukiyyah, diambil dari kata Suluk yang berarti tingkah laku atau kepribadian. Fokus dari hijrah ini adalah akhlaq atau kepribadian seseorang tersebut. Yang diubah tidak hanya semata-mata keimanan seseorang tersebut, tetapi juga kepribadian dan tingkah lakunya yang diubah menuju ke arah yang lebih tampak sebagai seorang muslim.

Makna Hijrah dapat kita selusuri dalam Al-surat al-Baqarah ayat 218 menyebutkan,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam surat Al-Anfal ayat 74 menuturkan,

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia."

Dapat dipahami bahwa makna hijrah dapat dimaknai oleh individu masing-masing dengan cara yang berbeda. Yang terpenting, terlepas dari bentuk hijrah yang dilakukan seseorang, hal tersebut dijalani dengan tujuan yang positif. Jika hijrah dilakukan dengan niatan yang buruk dan tidak ikhlas, niscaya hasil yang dicapai pun tidak akan sesuai harapan. Perbaiki lah niat kita saat memutuskan untuk hijrah dalam kehidupan ini.
Share:

Konsultasi dengan Gus Abduh

Data Kunjungan