Melatih dan Mencerahkan Jiwa

Dr. KH. Abduh Al-Manar, M.Ag.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah. Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

PAUD Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MI Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MTS Al-Iryadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Sunday, October 4, 2020

Iman Dan Istiqamah


 

Dalam hadis Arbain ke 21 membicarakan masalah Iman dan Istiqomah, berikut ini makna hadis tersebut:

Abu Amr (ada yang disebut Abu Amrah) Sufyan binn Abdillah ra. kepada Rasulullah saw .: “Wahai Rasulallah, katakan kepadaku perkataan tentang Islam yang tidak akan kutanyakan kepada selain engkau.” Beliau bersabda: “Katakanlah: 'Aamantu billaaHi [aku beriman kepada Allah].' Kemudian istiqamahlah. ” (HR Muslim)

 

Hadits ini termasuk Jawami'ul Kalim yang hanya dimiliki oleh Nabi saw. meskipun hanya dua kalimat yaitu iman dan istiqamah, namun dapat menerangkan kepada orang yang bertanya kepada beliau tentang seluruh dasar Islam. Diketahui bahwa Islam pada kenyataan adalah tauhid dan ketaatan. Tauhid terwujud dengan keimanan kepada Allah, sedangkan ketaatan terwujud dengan istiqamah, yaitu merealisasikan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan, yang termasuk pekerjaan hati dan anggota badan. Allah berfirman: “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (Fushilat: 6).

1. Pengertian Istiqamah.

Rasulullah melihat. bersabda: “Katakanlah, saya beriman kepada Allah swt, lalu istiqamahlah” dan riwayat lain: “Katanlah, Tuhanku adalah Allah lalu istiqamahlah.” Adalah diambil dari firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan ucapan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa bersedih; dan bergembiralah kamu dengan [memperoleh] surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. ” (Fushilat: 30) juga dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami adalah Allah,' kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada aturan terhadap mereka dan mereka tiada [pula] berduka cita.” (al-Ahqaf: 13)

Dalam menafsirkan kalimat: “tsummas taqaamuu”, Abu Bakar ra. kata: Tiada menyekutukan Allah sedikitpun. Juga berkata: “Kemudian mereka tetap teguh bahwa Allah adalah Rabb mereka.”

Diriwayatkan pula bahwa Umar bin Khaththab ra. membaca ayat ini di atas mimbar lalu berkata: “Istiqamahlah untuk menaatinya dan janganlah berbolak-balik seperti musang.”

Semua pendapat ini berakhir ke satu muara, yaitu istiqamah dalam mentauhidkan Allah swt. secara sempurna. Al-Qusyairy berkata: “Istiqamah tingkat sempurnanya suatu perkara. Dengan adanya istiqamah, akan tercipta. Dan barangsiapa yang tidak memiliki sikap istiqamah, maka semua usaha yang akan lenyap. ”

Al-Wasithy berkata: “Istiqamah adalah etika yang menjadikan sempurnanya berbagai informasi.”

Ibnu Rajab berkata: “Istiqamah adalah menempuh jalan yang lurus, agama yang benar, tanpa berpaling ke kanan atau ke kiri. Mencakup semua ketaatan, yang dhahir dan yang batin. Juga mencakup semua larangan. Sehingga pesan ini semua berwujud. ”

2. Pasti ada kekuarangan.

Istiqamah adalah tingkatan tertinggi dalam kesempurnaan pengetahuan dan perbuatan, kebersihan hati yang lapor dalam pernyataan dan perbuatan, dan kebersihan aqidah dari segala bid'ah dan kesesatan. Karenanya manusia tidak akan bisa mencapai sifat istiqamah secara sempurna. Pasti ada kekurangan. Ini diisyaratkan dalam firman Allah: “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (Fushishilat: 6)

Perintah untuk memohon ampun dalam ayat ini, karena adanya kekurangan. Nabi melihat. bersabda: “Istiqamahlah kalian semua, dan kalian tidak akan mampu.” (HR Imam Ahmad dan Muslim)

Beliau juga bersabda: “Berusahalah untuk senantiasa benar dan mendekatinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

3. Istiqamah Hati

Pada nyata, istiqamah adalah istiqamah hati terhadap tauhid. Maka ramah-hati telah istiqamah pada ma'rifatullah, rasa takut kepada-Nya, mengagungkan dan mencintai-Nya, berdoa kepada-Nya, dan tawakkal sesuai dengan-Nya, niscaya seluruh anggota badan akan taat kepada Allah swt. Karena hati adalah raja dan anggota badan adalah prajuritnya. Jika rajanya benar, maka prajuritnya akan benar.

Rasulullah melihat. bersabda: “Ketahuilah bahwa di dalam badan terdapat segumpal darah. Jika ia baik maka semua anggota badan akan baik. Jik ia rusak, maka semua anggota badan akan rusak. Segumpal darah itu adalah hati. ”

4. Istiqamah lisan.

Setelah hati, yang perlu diperhatikan dalam istiqamah adalah lisan [ucapan]. Karena ucapan merupakan penerjemah bagi hati. Hal ini ditegaskan oleh hadits Nabi saw. bahwasannya seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah saw: “Ya Rasulallah, apa yang perlu saya takuti?” Mendengar pertanyaan ini Rasulullah saw. lalu memegang mulutnya. (HR Tirmidzi, seraya kata: “Hadits ini hasan shahih.”)

Dalam riwayat lain beliau bersabda: “Tidaklah benar iman seseorang hingga dia menjadi benar. Dan benar-benar hati seseorang hingga benar lisannya. (HR Imam Ahmad dan Anas ra.)

“Jika anak Adam memasuki hari, pagi-pagi, maka semua anggota badan lisan dan lisan: 'Bertakwalah kamu kepada Allah karena kami sangat tergantung kepadamu. Jika kamu istiqamah, kami pun istiqamah. Jika kamu berpaling kami pun berpaling. ” (HR Tirmidzi dan Abu Sa'id Al Khudzri)

5. Manfaat istiqamah

Istiqamah adalah keteguhan dan kemenangan, kejantanan dan keberuntungan di medan pertempuran antara ketaatan dan hawa nafsu. Karena itu malaikat layak turun kepada orang-orang yang istiqamah, mengusir segala ketakutan dan keresahan mereka, memberi kabar gembira dengan surga dan menyatakan bahwa mereka [malaikat] senantiasa mendampingi mereka baik di dunia maupun di akhirat.

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami adalah Allah.' Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka [dengan mengatakan], 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan [memperoleh] surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. ” (Fushshilat: 30)

6. Urgensi Istiqamah

Satu hal yang mengindikasikan bahwa istiqamah sangat urgen bahwa Rasulullah saw. diperintahkan oleh Allah untuk tetap istiqamah: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, yang diperintahkan kepadamu.” (Huud: 112)

Ibnu 'Abbas berkata: “Tidak ada satu ayatpun di dalam al-Qur'an yang diturunkan kepada Rasulullah yang lebih berat dari ayat ini”.

Ketika itu para shahabat bertanya kepada Rasulullah saw.: “Mengapa engkau cepat beruban ya Rasulallah?” Beliau menjawab: “Itu karena ayat-ayat pada surat Huud.”

 

Hasan ra. berkata: “Ketika turun ayat ini, Rasulullah saw. sangat serius dan tidak pernah terlihat tertawa.”

Al-Qusyairi menyebutkan bahwa salah seorang shahabat bermimpi bertemu Rasulullah saw. ia berkata kepada beliau: “Ya Rasulallah, engkau bersabda, bahwa ubanmu itu disebabkan oleh surat Huud. Bagian manakah?” Beliau menjawab: “Firman Allah: ‘Maka istiqamahlah, sebagaimana diperintahkan kepadamu.’”

7. Hadits ini memerintahkan untuk istiqamah dalam masalah tauhid dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah swt.

8. Hadits ini merupakan bukti keinginan yang kuat dari para shahabat untuk mempelajari agamanya dan menjaga keimanannya.


Share:

Saturday, October 3, 2020

Nabi Sulaiman, Harut Marut, dan Sihir

 


Allah SWT menjelaskan tentang kisah Nabi Sulaiman, Harut Marut dan Sihir dalam Surat Al Baqarah Ayat 102 artinya:

 “Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu melakukan sihir), padahal Sulaiman tidak melakukan sihir, hanya setan-setan yang kafir (melakukan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut; menyebutkan tidak (sesuatu) kepada seorang pun sebelum menyebutkan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu). Sebab itu, janganlah kamu kafir." Mereka mempelajari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menentukan antara seorang suami dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah.Dan mereka belajar sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sebenarnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah keuntungan di akhirat; perbuatan jahatlah yang menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka melihat. ”

 

Asbabun Nuzul ayat ini adalah: “Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Yahudi berkata:“ Lihatlah Muhammad yang mencampu-baurkan antara hak dan batil, yaitu menerangkan (Nabi) Sulaiman digolongkan pada kelompok nabi-nabi, padahal ia seorang ahli sihir yang angin. ” Maka Allah Ta'ala Menurunkan ayat Penyanyi Yang berada di kaum bahwa yahudi LEBIH mempercayai setan iman ditunjukan kepada Allah Ta'ala. ” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Syahr bin Hausyab)

 

Asbabun Nuzul lainnya adalah: “Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Yahudi bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beberapa kali tentang beberapa hal yang ada di dalam Taurat. Semua pertanyaan tentang isi Taurat dijawab oleh Allah Ta'ala dengan menurunkan ayat. Ketika itu mereka menganggap bahwa ayat tersebut dirasakan sebagai bantahan terhadap mereka. Mereka berbicara kepada sesamanya: “Orang ini lebih dekat tentang apa yang diberitahukan kepada kita.” Di antara masalah yang ditanyakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah tentang sihir. Dan mereka berbantah-banthan dengan Rasulullah tentang itu. Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat ini berkenaan dengan peristiwa tersebut. ” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Al-'Aliyah)

 

Firman-Nya ( واتبعوا ما تتلوا الشياطينdi dalam tafsirnya, dari Ibnu Abbas, Al-Aufi mengatakan, “Yaitu ketika kerajaan Nabi Sulaiman 'alaihi as-salam sirna, sekelompok jin dan manusia murtad dan mengikuti hawa nafsu mereka. Namun setelah Allah Ta'ala mengembalikan kerajaan itu kepada Nabi Sulaiman 'alaihi as-salam, maka orang-orang tetap berpegang pada agama seperti sediakala (Islam). Kemudian Nabi Sulaiman 'alaihi as-salam menyita kitab-kitab mereka dan menguburnya di bawah singgasananya. Setelah itu Nabi Sulaiman 'alaihi as-salam meninggal dunia, maka sebagian manusia dan jin menguasai kitab-kitab itu seraya mengatakan bahwa kitab ini berasal dari Allah Ta'ala yang diturunkan kepada Nabi Sulaiman alaihi as-salam, dan ia gabungannya dari kami. Lalu mereka pun mengambil dan menjadikan kitab itu sebagai suatu ajaran. Mereka semua mengikuti hawa nafsu yang dibacakan oleh para setan. Hawa nafsu itu berupa alat-alat musik, permainan dan segala sesuatu yang menjadikan orang lupa berzikir kepada Allah Ta'ala.

 

Firman-Nya ( على ملك سيمان) artinya, setelah orang-orang Yahudi itu menolak kitab Allah Ta'ala yang berada di tangan mereka serta menyelisihi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan. Yaitu apa yang diceritakan, diberitahukan dan dibacakan oleh setan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman. Digunakannya ( على) karena kata ( تتلو) pada ayat ini mengandung makna dibacakan secara dusta. Ibnu Jarir menyebut kata ( على) dalam ayat ini suara ( في) atau di dalam, maksudnya, dibacakan di masa kerajaan Sulaiman. Dia menukilkan itu dari Ibnu Juraij dan Ibnu Ishak. Mengenai masalah itu, Ibnu Katsir mengatakan ( التضمن) atau pencakupan dalam hal ini lebih benar dan lebih utama.

 

Sedangkan mengenai ungkapan Al-Hasan Al-Bashri bahwa sihir itu telah ada sebelum zaman Nabi Sulaiman bin Dawud merupakan suatu hal yang benar dan tidak lagi diragukan, karena para tukang sihir itu sudah ada pada zaman Nabi Musa, dan Nabi Sulaiman bin Dawud itu setelah Nabi Musa. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 246 yang artinya: “Apakah engkau tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil setelah Nabi Musa”. Kemudian Allah Ta'ala mengisahkan sebuah kisah sesudah ayat itu yaitu ayat 251 yang artinya: “Dan Dawud (dalam peperangan itu) membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah.” Dan Nabi Shalih yang hidup sebelum Nabi Ibrahim mengatakan kepada nabi mereka ( إنما أنت من المسحرين)) “Sesungguhnya engkau adalah salah seorang dari orang-orang yang terkena sihir.” (QS. Asy-Syu'ara 'ayat 153). Menurut pendapat yang masyhur, kata ( المسحرين) hal yang terkena sihir.

 

Firman-Nya ( وما أنزل على الملكين ببابل هاروت وماروت ... ما يفرقون بين المرء وزوجه), para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai ayat ini. Ada yang berpendapat bahwa kata ( ما) dalam ayat ini berkedudukan sebagai ( نافية) atau yang meniadakan. Imam Al-Qurthubiy mengatakan, kata ( ما) itu adalah ( ما نافية) kata yang berfungsi meniadakan sekaligus ( ما معطوف) berfungsi sebagai kara sambung untuk firman Allah Ta'ala sebelumnya.

 

Firman-nya ( ولكن الشياطين كفروا يعلمون الناس السحر وماأنزل على الملكين), yang demikian itu karena orang-orang beranggapan bahwa sihir itu diturunkan oleh Jibril dan Mikail. Kemudian Allah Ta'ala mendustakan mereka, sedangkan firman-Nya ( هاروت وماروت) merupakan ( بدلا) atau berasal dari kata ( الشياطين) atau setan-setan. Menurut Imam Al-Qurthubiy, penafsiran demikian itu benar, karena jamak itu bisa berarti doa seperti firman-Nya dalam Surat An-Nisaa 'ayat 11 yang artinya: “Jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara”. Dan karena menghilangkan pengikut (Harut dan Marut) pengikut pengikut, atau disebut di dalam ayat itu karena pembangkangan mereka. Menurut Imam Al-Qurthubiy, perkiraan uangkapan ayat itu berbunyi ( يعلمون الناس السحر ببابل هاروت وماروت) atau setan-setan itu mengajari sihir kepada manusia di Babil, yaitu Harut dan Marut. Lebih lanjut Imam Al-Qurthubiy berpendapat bahwa penafsiran ini adalaah yang terbaik dan paling tepat. Dan untuk itu beliau tidak memilik kepada penafsiran yang lain.

 

Firman-Nya ( وما أنزل على الملكين ببابل), Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya melalui Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Allah Ta'ala tidak menurunkan sihir.” Ar-Rabi 'bin Anas, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Allah Ta'ala tidak menurunkan sihir kepada keduanya.”

Ibnu Jarir berkata, “Dengan demikian, penafsiran ayat ini mengenai sihir. Nabi Sulaiman tidak kafir, dan Allah Ta'ala tidak menurunkan sihir kepada kedua malaikat tersebut, tetapi setan-setan itu yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut. Dengan demikian kalimat, 'Di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut' merupakan ayat yang maknanya didahulukan dan redaksinya diakhirkan. Allah Ta'ala memberitahukan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bahwa Malaikat Jibril dan Mikail tidak pernah turun membawa sihir, sedang Nabi Sulaiman sendiri terbebas dari sihir yang mereka tuduhkan. Bahkan Dia tahu mereka bahwa sihir perbuatan setan, dan setan-setan itu mengajarkan sihir di negeri Babil. Dan juga memberitahukan bahwa di antara yang diajari sihir oleh setan adalah dua orang yang bernama Harut dan Marut. Maka Harut dan Marut merupakan terjemahan dari kata 'manusia' dalam ayat ini, sekaligus sebagai bantahan atas mereka (orang-orang Yahudi). Demikian nukilan dari Ibnu Jarir berdasarkan lafaz darinya.

 

Mayoritas ulama salaf berpendapat bahwa kedua malaikat tersebut berasal dari langit dan turun ke bumi dan terjadilah apa yang terjadi pada mereka berdua. Mengenai kisah Harut dan Marut ini, telah dikisahkan dari sejumlah tabiin, misalnya Mujahid, As-Suddi, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Abu Al-'Aliyah, Az-Zuhri, Ar-Rabi 'bin Anas, Muqatil bin Hayyan dan lain-lainnya. Dan dikisahkan pula oleh beberapa orang mufasir terdahulu maupun kontemporer. Dan hasilnya menunjukkan kembali kepada beberapa berita mengenai Bani Israil, karena mengenai hal itu tidak ada hadis sahih marfu 'yang memiliki sanad sampai kepada Rasulullah shallallahu' alaihi wasallam yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Dan redaksi Alquran mengungkapkan kisah itu secara global, tidak rinci.

 

Firman-Nya ( وما يعلمان من أحد حتى يقولا إنما نحن فتنة فلا تكفر), dari Ibnu Abbas, Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan, “Jika ada seseorang yang mendatangi suatu kerena menghendaki sihir, maka dengan tegas melarang peminat sihir tersebut seraya bahkan, 'Sesungguhnya kami ini hanya cobaan bagimu, karena itu janganlah engkau kafir . ' Yang demikian itu karena keduanya mengetahui kebaikan, keburukan, kekafiran dan keimanan, sehingga mereka berdua mengetahui bahwa sihir merupakan bentuk kekufuran. Sedangkan ( الفتنة) berarti cobaan dan ujian. Demikian juga firman-Nya yang menceritakan mengenai Nabi Musa 'alaihi as-salam, di mana Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al A'raaf ayat 155 yang artinya: “Hal itu hanyalah cobaan dari-Mu”. Sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk mengkafirkan orang yang mempelajari sihir, dan merekomendasikannya dengan hadis yang diriwayatkan Al-Hafidz Abu Bakar Al-Bazzar, dari Abdullah, ia mengatakan:

 

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ سَاحِرًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِل علَلْهلا لملل

Artinya: “Barangsiapa yang mendatangi tukang tenung (dukun) atau tukang sihir, lalu percaya kepada apa yang dikatakannya, maka sebenarnya dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.” (Sanad hadis ini sahih dan memiliki beberapa syahid lain)

 

Firman-Nya ( فيتعلمون منهما ما يفرقون به بين المرء وزوجهArtinya, orang-orang pun mempelajari ilmu sihir dari Harut dan Marut, yang mereka gunakan untuk hal-hal yang sangat tercela, seperti membuat hubungan perceraian antara pasangan suami istri, padahal tadinya mereka akur dan harmonis dan ini termasuk perbuatan setan, hadis yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

 

" إن الشيطان ليضع عرشه على الماء, ثم يبعث سراياه في الناس, فأقربهم عنده منزلة أعظمهم عنده فتنة, يجيء أحدهم فيقول: ما زلت بفلان حتى تركته وهو يقول كذا وكذا فيقول إبليس :. لا والله ما صنعت شيئا ويجيء أحدهم فيقول:. ما تركته حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَهْلِهِ قَالَ: فَيُقَرِّبُهُ وَيُدْنِيهِ وَيَلْتَزِمُهُ نولْيَق"

 

Artinya: “Sesungguhnya iblis itu meletakkan singgasananya di alas air, lalu mengirimkan bala tentaranya kepada umat manusia; maka setan yang paling besar fitnahnya terhadap umat manusia akan berada di dekat yang terdekat di sisi iblis. Salah satu dari mereka datang, lalu berkata, "Aku terus-menerus menggoda si Fulan, hingga ketika aku meninggalkan dia telah melakukan anu dan anu." Iblis menjawab, "Tidak, demi Allah, kamu masih belum melakukan sesuatu (yakni belum berhasil)." Lalu datang lagi yang lainnya dan mengatakan, "Aku tidak beranjak setelah aku dapat menyatakan antara dia dan istrinya." Maka iblis menjaga yang tinggi dan dekat dengannya serta selalu bersamanya seraya berkata, "Kamu benar.” (HR. Muslim)

 

Penyebab perkeraian antara pasangan istri yang dilakukan melalui sihir adalah dengan menjadikan suami atau istri melihat pasangannya buruk, tidak bermoral, menyebalkan dan sebab-sebab lainnya yang dapat menyebabkan perceraian. ( المرء) artinya ( الرجل) atau laki-laki sedang untuk dikatakan ( امرة), masing-masing memiliki bentuk dua, tapi tidak memiliki bentuk jamak (jamak).

 

Firman-Nya ( وماهم بضارين به من أحد إلا بإذن الله)), Sufyah Ats-Tsauri mengatakan, artinya kecuali dengan ketetapan Allah Ta'ala. Muhammad bin Ishak mengemukakan, “Kecuali jika Allah Ta'ala membiarkannya tidak terhalang dari apa yang diinginkannya (untuk menyihir).” Al-Hasan Al-Bashri mengatakan: “Benar, bahwa jika Allah Ta'ala kehendaki, maka Allah Ta'ala kuasakan (orang yang akan mereka sihir) kepadanya (tukang sihir) dan jika Allah Ta'ala tidak kehendaki, maka Allah Ta ' ala tidak biarkan hal itu dan mereka tidak mampu menyihir kecuali dengan izin Allah Ta'ala, perintah-Nya tersebut. Dan dalam sebuah riwayat dari Al-Hasan Al-Bashri, bahwa ia mengatakan, “Itu tidak dapat memberikan madharat kecuali bagi orang yang masuk ke dalamnya (mempelajarinya).”

 

Firman-Nya ( ويتعلمون ما يضرهم ولا ينفعهم) maksudnya, perbuatan itu dapat melanggar agamanya dan manfaatnya tidak sepadan dengan mudharatnya.

 

Firman-Nya ( ولقد علموا لمن اشتراه ماله في الآخرة من خلاق) artinya, orang-orang Yahudi sudah melihat bahwa orang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan sihir tidak akan mendapat bagian di akhirat. Sedangkan Ibnu Abbas, Mujahid dan As-Suddi mengemukakan bahwa makna ( من خلاق) adalah ( من نصيب) atau dari mendapat bagian.

 

Firman-Nya ( ولبئس ما شروا به أنفسهم لو كانوا يعلمون) artinya, tindakan jahat mereka mengganti keimanan dan mengikuti perintah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan sihir jika mereka mengetahuinya.

[Referensi, Tafsir Ibnu Katsir]

Share:

Friday, October 2, 2020

New Normal: Merubah Kecemasan Menjadi Harapan Baru

 


Diskursus new normal menjadi wacana global setelah pandemi covid 19 menerpa di berbagai belahan dunia, yang berdampak pada berbagai dimensi kehidupan; politik, sosial, ekonomi, budaya, dan praktek keagamaan.

Perubahan tatanan dunia secara drastis ini membuat shock [keterkejutan] semua strata masyarakat; rakyat biasa, para tokoh politik, ekonomi, bahkan para pemuka agama. Itulah habitat adaptasi besar-besaran dalam praktek kehidupan di berbagai lini kehidupan.

Kondisi normal sebelum covid 19 dunia melanda, semua lapisan masyarakat melakukan aktifitas kehidupan biasa. Namun, ketika virus ini mewabah menjadi pandemi, semua Negara mengalami dampak buruknya, maka diberlakukan aktivitas yang dilakukan: ada yang mengambil keputusan lockdown total di suatu Negara, ada lockdown kota, ada juga menggunakan istilah PSBB [Pembatasan Sosial Berskala Besar] seperti kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Indonesia. Intinya, kebijakan kebijakan yang diambil oleh suatu Negara membawa konsekuensi masing-masing dan tergantung kemampuan finansialnya.

Dalam menghadapi kondisi new normal tentu membawa kondisi dan kerugian baru. Setiap orang yang berbeda cara menyikapinya. Ada rasa cemas, khawatir, takut dan perasaan-perasaan lainya berkecamuk di dalam hati dan pikiran setiap orang. Oleh karena itu, penulis di sini yang mencoba melakukan upaya pemulihan solusi menjadi harapan baru dengan pendekatan tasawuf positif.

Pada abad ke-21 ini dengan segala permasalahannya yang begitu kompleks, tasawuf dituntut untuk lebih humanistik, empirik, dan fungsional. Penghayatan terhadap ajaran Islam bukan hanya reaktif, tetapi   juga aktif   serta memberikan   arah   kepada sikap   manusia di dunia ini. Tasawuf yang aktif, yang humanistik, empiris dan fungsional ini disebut oleh Hamka sebagai tasawuf modern.   Belakangan tasawuf modern ini juga dikenal dengan Tasawuf Positif dan Neosufisme [istilah Fazlur Rahman]

Secara rinci, terdapat delapan doktrin yang mengajar dalam Tasawuf Positif, di antaranya: 1) Allah sebagai Perwujudan Jalal dan Jamal; 2) Insan Kamil sebagai wujud Multidimensi; 3) Dunia dalam Eskatologi Islam; 4) Syariat sebagai unsur Integral Tasawuf; 5) Hikmah sebagai    alternatif    terhadap    sufisme    anti-intelektual;    6)    Alam semesta sebagai tanda-tanda Allah; 7) Akhlak sebagai sasaran tasawuf; dan 8) Amal shaleh sebagai fungsi profetis tasawuf. [A Najib Burhani, Tasawuf Positif].

Dalam tulisan ini penulis kemukan pandangan Ibnu Athaillah yang kami angkat sebagai tasawuf positif; Yaitu: Kalahkan Nafsu dengan Ilmu, Rasakan Nikmat Allah Atas Hamba, dan  Ridha Menerima Pengaturan Allah SWT. Berikut ini penjelasan selengkapnya.

1. Kalahkan Nafsu dengan Ilmu

Ilmu menjadi sesuatu yang buruk dan merusak pemiliknya jauh dari Tuhan, berorientasi pada populeritas, dan selalu disibukkan oleh dunia. Ilmu yang dimiliki manusia semacam itu hanya menjadi ilmu yang   merusak dan berbahaya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendekatkan dirimu kepada Allah. Ilmu yang bermanfaat membuatmu mampu mengalahkan nafsu dan menjauhkan dirimu dari segala keinginannya. [Ibnu Athaillah, Tajul Arus].

Begitu pentingnya ilmu pengetahuan, dipertegas di dalam Al-Qur'an surat Al-Isra ayat 36 artinya: “ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan memantau pertanggungan jawabnya. ”

Terkait dengan new normal atau adaptasi baru masyarakat dalam hidup ditengah covid 19 maka yang harus dikedepankan adalah ilmu, pengetahuan tentang covid 19 dan protokol kesehatan yang harus diimplementasikan  oleh seluruh elemen masyarakat. Dengan pengetahuan pengetahuan yang memadai tentang bahaya dan cara mencegah virus menjadi lebih penting diutamakan yang terus menurus dihantui oleh yang tidak ada solusinya. Ilmu harus mengalahkan nafsu keinginan untuk berkegiatan normal, sebab menyadari bahaya virus dan memahami pengawasan kesehatan dan kebersihan adalah tindakan bodoh.

2) Rasakan Nikmat Allah Atas Hamba

Betapa banyak nikmat Allah yang bertebaran di muka bumi dan sepantasnya kita rasakan dengan penuh pengalaman agar kita lebih menghargai hidup dan lebih dari. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Nahl ayat 18 artinya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan perintah. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ”

Nikmat Allah atas hamba tidak datang dan tidak terhingga. Kita tidak akan mampu menghitung dan mensyukuri semua nikmat-Nya. Jangankan bersyukur atas semua nikmat dari Allah, kepada ibu kita sendiripun kita tidak dapat menahan diri. Betapa karunia Allah kepada kita sangat banyak melebihi kasih dan limpahan kasih sayang ibu. Ibnu Athaillah [Tajul Arus] berkata, “Jika kau tidak berbaik sangka kepada-Nya lantaran sifat-Nya, berbaik sangkalah kepada-Nya lantaran karunia-Nya kepadamu. Bukanlah Dia selalu sakit hati baik kepadamu dan mencurahkan berbagai macam karunia? “.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Bumi dijadikan untukku sebagai masjid yang suci, maka dimanapun salah seorang dari umatku memasuki waktu shalat, dirikanlah shalat.” [Bukhari Muslim].

Jangan sampai kau kotori bumi yang suci ini dengan dosa dan maksiat. Allah menundukkan alam ini untukmu dan mencurahkan nikmat-Nya yang tampak maupun yang tersembunyi, semestinya kau bersyukur   atas semua nikmat itu, bukan malah mengotori bumi yang suci ni dengan segala dosa dan maksiat.

Dalam kondisi new normal atau adaptasi baru, semua masyarakat dapat merasakan nikmat Tuhan yang selama kondisi normal begitu banyak Tuhan memberikan segalanya kepada kita. Sekarang dalam kondisi adaptasi baru begitu terasa segala sesuatu yang terlihat berbeda menjadi berbeda karena harus mengikuti prosedur kesehatan.

Dengan merasakan nikmat Tuhan dalam kondisi sekarang ini kita bisa berkegiatan lagi maka Tuhanpun akan memberikan tambahan nikmat-Nya yang lebih luas dan lebih baik lagi sehingga perasaan yang menyelimuti kita dapat dihilangkan oleh Dia yang Maha Pemberi Kasih Sayang kepada hamba-Nya yang pandai bersyukur. Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an yang artinya "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sebenarnya azab-Ku sangat pedih". [Ibrahim: 7].

3) Ridha Menerima Pengaturan Allah SWT

Ibnu Athaillah [Tajul Arus] berkata, “Hai hamba Allah, jika kau meminta kepada Allah, mintalah agar Dia memperbaiki dirimu secara total serta memperbaiki dirimu untuk bisa menerima pengaturan-Nya.”

Manusia dituntut untuk berusaha, akhirnya diserahkan kepada pengaturan Allah. Karena itu, laksanakanlah ketaatan kepada-Nya seperti yang Dia perintahkan dan berusahalah seperti yang Dia suruh. Adapun hasilnya, serahkanlah kepada pengaturan-Nya. Mintalah agar Allah memperbaiki diri kita sehingga kita dapat membatalkan kesalahan tersebut pada pengaturan-Nya, dan Allah pun akan menyerahkan perbuatan kita, perintah Allah yang artinya:

“… Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. ” [Al-Bayyinah: 8].

Kondisi baru atau adaptasi baru bagi umat beriman harus disikapi sebagai harapan baru yang   berasal dari pengaturan Tuhan kepada manusia. Kita menerima dan ridha dengan kondisi ini semata-mata karena pengaturan Tuhan yang terbaik dalam pandangan Tuhan tampak buruk dalam pandangan manusia.

Kita berbaik sangka kepada Tuhan dengan kondisi saat ini maka kita dapat menjalani kehidupan dengan tenang dan kita berkeyakinan Tuhan akan memberikan energi positif yang besar untuk menghadapi kondisi bahkan.

Dalam literasi tasawuf klasik, korelasi dan harapan dirumuskan dengan narasi khauf dan raja yang  diperkenalkan oleh Imam Hasan Al-Bashri. Khauf adalah rasa takut termasuk di dalamnya kecemasan, khauf harus diimbangi dengan raja, pengharapan, sikap optimis dalam menata hidup yang lebih baik dengan bantuan rahmat Allah SWT.

 

Share:

Thursday, October 1, 2020

Karakter Orang-Orang Yahudi dan Orang-Orang Fasik

 


Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 99-101. Di antara isi ayat-ayat tersebut adalah dibongkarnya karakter orang-orang Yahudi dan orang-orang yang berhubungan dengan fasik.

Dan sebenarnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik, [99]. Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengangkat janji, segolongan mereka memilihnya bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman, [100]. Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) ahli kitab Allah ditempatkan ke belakang (punggung) -nya seolah-olah mereka tidak melihat ( bahwa itu adalah kitab Allah). [101]

 

Redaksi ayat di atas masih Berbicara tentang pengukuhan kenabian Rasulullah SAW, risalahnya bersifat umum, bantahan terhadap orang-orang Yahudi dan pengungkapan kefasikan, kekufuran dan kezhaliman yang mereka lakukan.

Pada ayat 99, Allah Ta'ala membantah ucapan seorang Yahudi bernama Ibn Shuria kepada Rasulullah SAW, “Kamu tidak membawa apa-apa kepada kami. ' Allah SWT berfirman,  “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik ”  yaitu seperti seorang Yahudi, si picak bernama Ibn Shuria.

 

Pada ayat 100, Allah SWT mengingkari kekufuran dan mungkir janji yang dilakukan orang-orang Yahudi. Untuk itu, Dia mencatatkan tidak berimannya kebanyakan mereka itu dalam firman-Nya,  “bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.”

 

Sedangkan pada ayat 101, Allah Ta'ala mengecam tindakan para tokoh agama Yahudi yang ditempatkan Taurat ke belakang (punggung) mereka tatkala melihat pengukuhan dan penetapan kenabian Muhammad SAW. Allah Ta'ala berfirman,  “Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) ahli kitab Allah ke belakang (punggung) -nya seolah-olah -olah mereka tidak melihat (bahwa itu adalah kitab Allah). ”

 

PETUNJUK AYAT

1. Kefasikan yang bersifat umum dapat melahirkan kekufuran. Bila sorang hamba fasiq dan terus melakukannya terhadap perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu akan menyeret kepada pengingkaran terhadap hal-hal yang diharamkan dan diwajibkan kepada Allah. Dengan begitu, ia akan menjadi kafir, na'udzu billahi min dzalik.

2. Orang-orang Yahudi selalu tidak komitmen terhadap janji dan tidak akan menepatinya, karena itu wajib untuk tidak mempercayai-janji mereka untuk selama-lamanya.

3. Taurat merupakan salah satu Kitab Allah yang diturunkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Musa bin 'Imran AS.

4. Betapa buruknya sikap orang yang mengingkari kebenaran setelah mengetahuinya dan menjadi seakan-tidak akan pernah mengetahuinya sama sekali.

(Referensi:  Aysar at-Tafaasiir  karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairy, hal.44-45)

Share:

Konsultasi dengan Gus Abduh

Data Kunjungan