Melatih dan Mencerahkan Jiwa

Dr. KH. Abduh Al-Manar, M.Ag.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah. Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

PAUD Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MI Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MTS Al-Iryadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Wednesday, June 27, 2018

Ayo Jaga Persatuan

Dalam Al Quran Allah SWT berfirman:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (Surat Ali Imran: 103).
Bagaimana cara kita menjaga persatuan? 1. Menyamakan visi keimanan, yakni hanya menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan thoghut
Manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah yang mestinya merasa terhormat bisa melaksanakan apa saja yang menjadi kehendak Allah. Jika manusia berbuat demikian, maka setiap orang Islam akan berebut untuk beramal shaleh seperti yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Ketika memahami bahwa Rasul mengajarkan bahwa umat Islam itu bagaikan sebuah bangunan yang satu bagian saling menguatkan bagian yang lain, maka umat Islam akan selalu berusaha untuk saling membantu, saling menolong, saling menopang, saling menunjang dan saling mengokohkan.
2. Hindari perselisihan dan perbedaan pendapat yang mengarah ke perpecahan
Memang ada orang yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat itu adalah rahmat. Namun pandangan yang demikian itu tidak benar, karena bertentangan dengan QS 11: 118-119. Ayat tersebut mengungkap, bahwa manusia itu senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat. Artinya mereka yang selalu bersilisih itu tidak mendapatkan rahmat Allah. Untuk itu menghindari perselisihan pendapat hendaknya lebih diutamakan.
Dalam rangka mencegah terjadinya perselisihan pendapat, sekaligus untuk menjaga persatuan umat islam, Rasul mengajak umatnya untuk menghindari perdebatan sekalipun berada dalam posisi yang benar. Allah berjanji untuk membangunkan rumah di sorga bagi orang yang menghindari perdebatan sekalipun pada posisi yang benar.
3. Jika terjadi perbedaan pendapat di antara orang-orang beriman, maka Allah menuntun umat Islam untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasul-Nya
Hal ini maksudnya mengembalikannya kepada pedoman kita, yaitu Al Quran dan As Sunnah. Nabi Muhammad SAW berpesan bahwa kita tidak akan tersesat selama-lamanya bila kita berpegang teguh kepada keduanya. Yang menjadi masalah adalah banyak di antara umat ini yang tidak mengenal Al Quran dan As Sunnah.
Sekalipun mereka telah puluhan tahun memeluk agama Islam, namun mereka tidak terbiasa mempelajari tuntunan Islam. Sehingga yang mereka amalkan dalam kehidupan sehari-hari jauh dari Al Quran dan As Sunnah sebagai sumber ajaran Islam. Mengingatkan orang-orang seperti ini berpotensi untuk mengundang perslisihan. Sehingga jauh hari Allah mengingatkan, kalau terjadi perselisihan di kalangan umat Islam, maka jalan keluarnya adalah kedua belah pihak harus kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah.
4. Menyadari bahwa menjaga persatuan dan kesatuan itu hukumnya wajib
Kesadaran ini akan menjadi kekuatan pengendali dari tiap individu muslim untuk tidak berbuat sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik apalagi berpotensi menimbulkan perpecahan. Muncul rasa bersalah jika pendapatnya memancing perdebatan yang tidak sehat. Merasa berdosa jika amalnya menimbulkan pro dan kontra yang susah dipertemukan. Merasa risau jika pendapat, ucapan dan amalnya menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. Dengan sadar dia akan meninggalkan amal-amal sunnah yang berpotensi menimbulkan perpecahan demi menjaga persatuan dan kesatuan umat.
5. Menghormati perbedaan yang muncul
Jangan sampai muncul anggapan bahwa orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita adalah musuh yang harus diwaspadai. Sikap seperti ini akan memicu terjadinya konflik, karena menunjukkan bahwa mereka telah kehilangan rasa persaudaraannya. Abu Bakar Ashshidiq dan Umar bin Khaththab pernah beberapa kali berbeda pendapat. Namun keimanan mereka yang kuat menyebabkan mereka selalu mengedepankan jiwa persaudaraan mereka. Tidak pernah terjadi putusnya silaturrahmi di antara mereka. Bahkan yang muncul adalah semangat berkompetisi untuk memperbanyak amal shaleh.
Oleh karena itu kita harus mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan niat ikhlas karena Allah semata, kita berharap untuk diberi kemudahan beramal dengan amalan yang mendatangkan manfaat bagi terjalinnya persatuan dan kesatuan umat Islam.
Share:

Tuesday, June 26, 2018

Memilih Pemimpin

Empat sifat Rasulullah ini bisa menjadi patokan untuk seorang muslim memilih seorang pemimpin Islam. Konsep Islam tentang kepemimpinan sebenarnya sudah ideal. Contoh paling ideal pemimpin islam tentu saja Nabi Muhamad Saw. Ia merupakan seorang yang memimpin dengan hati. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21).
Konsep wakil rakyat yang kita kenal di Indonesia tentu saja merupakan bagian dari kepemimpinan yang islam. Namun, belakangan, akibat perilaku dari sebagian wakil rakyat, kata ini berubah menjadi kebodohan belaka. Apakah hal itu merupakan bagian dari islam? Lalu, bagaimana sifat seorang wakil rakyat yang ideal menurut islam?
Islam mengenal empat sifat yang mutlak dimiliki oleh seorang pemimpin (wakil rakyat). Sifat ini menjadi sebuah keharusan untuk membentuk tatanan masyarakat. Jika salah satu dari keempatnya hilang, maka bisa dipastikan akan terjadi kekacauan. Korbannya, lagi-lagi, adalah masyarakat.
Empat sifat itu adalah, pertama, Shidiq. Makna sederhananya adalah kejujuran. Hal ini merupakan sikap utama yang harus dimiliki seorang wakil rakyat. Tapi, bukan sekadar jujur. Shidiq ini memiliki arti yang lebih luas lagi, yakni sebuah sikap dalam menjalankan segala tugas dengan asas keterbukaan informasi (akuntabilitas) dan tanpa kecurangan.
Lawan dari sikap ini adalah kebohongan. Bayangkan saja, bagaimana jika seorang wakil rakyat terbiasa berbohong? Bagaimana sebuah negara ingin sejahtera dan maju jika pemimpinnya suka berbohong dan kerapkali menutupi fakta yang harus diketahui masyarakat, serta memutarbalikannya seenak sendiri?
Untuk itulah, islam sudah selayaknya menempatkan sifat ini posisi pertama yang harus dimiliki seorang wakil rakyat.
Kedua adalah Amanah. Artinya, adalah kemampuan untuk menjaga segala sesuatu yang dipercayakan. Tentu kita sering mendengar, bahwa kepemimpinan merupakan sebuah amanah. Hal ini memiliki makna yang besar, bahwa menjadi wakil rakyat ia harus dituntut untuk selalu bertanggung jawab. Tanggung jawab ini bukan hanya kepada rakyat yang mengutusnya, tapi juga tanggung jawab kepada Allah Swt.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)
Ketiga adalah Fathonah. Makna sederhananya adalah cerdas. Dalam islam, seorang pemimpin haruslah seorang yang cerdas. Cerdas ini bukan sekadar urusan intelektual belaka, lebih itu, seorang wakil rakyat dituntut untuk handal dan taktis dalam menghadapi segala persoalan yang terjadi di masyarakat. Bukan malah menjadi corong segala kerusakan atau malah jadi penghasut di tengah masyarakat.
Keempat, Tabligh. Sederhananya, sifat ini adalah penyampai yang baik. Banyak juga yang memaknainya sebagai komunikasi. Tapi, kita dapat mengartikan sifat ini sebagai bentuk penyampaian secara jujur, sekaligus bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (transparansi). Kata ini sering diperlawankan dengan menutupi atau melindungi kesalahan.
Seorang wakil rakyat tentu tidak boleh menutupi kesalahan yang ia perbuat, apalagi menutupinya. Inilah yang disebut pemimpin dzolim dalam islam. “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih” [QS. Asy-Syuuraa : 42].
Jadi, jika ada seorang pemimpin telah melanggar aturan di atas, tidak memegang prinsip akuntabilitas, kerap memutarbalikkan fakta dan membohongi masarakat dengan kekuasaaan yang ia miliki, apakah orang tersebut layak disebut wakil rakyat? Tentu saja tidak.
Share:

Monday, June 25, 2018

Lima Fondasi Islam

Lima Fondasi Islam
عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامُ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ، وَحَجُّ الْبَيْتِ، وَصَوْمُ رَمَضَانَ. (رواه البخاري ومسلم)
Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Khattab RA, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Islam dibangun diatas lima perkara: bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Penjelasan hadis Ke 3 Kitab Arbain :
1. Perawi hadis. Abdullah bin Umar atau dikenal juga dengan Ibnu Umar adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau masuk Islam di Mekah ketika masih kecil dan melakukan hijrah bersama ayahnya Umar bin Khattab. Beliau dikenal sangat zuhud dan wara’ dalam kehidupannya. Thawus, salah seorang murid Ibnu Umar, berkata, “Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih wara’ dari Ibnu Umar.” Beliau meninggal pada tahun 73 H dalam umur 84 tahun.
2. Islam berasal dari kata aslama-yuslimu-islaman, yang berarti ketundukan dan penyerahan diri. Hakikat Islam adalah mengikuti rasul (utusan Allah) di setiap zaman dan ajaran yang dibawanya. Sehingga, keislaman di zaman Nabi Musa AS adalah dengan mengikutinya dan menjalankan isi Taurat yang dibawanya, dan keislaman di zaman Nabi Isa AS adalah dengan mengikutinya dan menjalankan isi Injil. Begitu pula, keislaman di zaman Ibrahim AS adalah dengan mengikuti ajarannya yang menunjukkan kepada jalan Allah, karena itulah Allah menyebut Nabi Ibrahim AS sebagai seorang muslim. Allah berfirman,ku

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67).
Lalu Allah menyempurnakan keislaman ini dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW sehingga Allah tidak akan menerima agama lain selain Islam.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maaidah: 3).
3. Kalimat syahadat adalah kunci seseorang untuk menjadi muslim dan mendapatkan tiket ke surga. Dua kalimat ini menunjukkan bahwa suatu amalan tidak akan diterima kecuali jika dilakukan dengan penuh keikhlasan kepada Allah dan dengan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW.
4. Shalat adalah ruh dari ajaran Islam. Shalat merupakan komunikasi dan interaksi seorang muslim dengan Allah secara langsung dan tanpa perantaraan apapun. Shalat merupakan satu-satunya ibadah yang tidak dapat gugur dari seorang muslim mukallaf (balig dan berakal) dalam keadaan apapun –bahkan di tengah-tengah berkecamuknya perang sekalipun– kecuali perempuan haid atau nifas. Ibadah ini pun harus dilakukan sendiri (tidak bisa diwakilkan) dan tidak bisa diqadha lagi jika telah meninggal. Orang yang meninggalkan shalat secara sengaja padahal ia tahu hukumnya maka ia dibunuh (secara hukum had) setelah diminta bertaubat sebanyak tiga kali. Bahkan, menurut Imam Ahmad, orang itu dianggap sebagai orang kafir dan tubuhnya tidak boleh dimakamkan bersama kaum muslimin.
5. Zakat merupakan ibadah pada harta guna menambah keberkahannya dan mensucikan hati pemiliknya. Allah berfirman,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).
Zakat diwajibkan pada harta yang telah mencapai nisab yang besarnya berbeda-beda sesuai jenis hartanya. Harta yang wajib dizakati adalah naqdain (emas, perak dan mata uang), barang niaga, hewan ternak (unta, sapi dan kambing), hasil pertanian (makanan pokok), barang tambang (emas dan perak), dan barang temuan. Zakat adalah ibadah sosial karena faidah dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat umum (kaum fakir miskin).
5. Puasa Ramadhan merupakan momen yang selalu ditunggu oleh muslim setiap tahun. Ramadhan merupakan bulan panen pahala karena Allah melipat gandakan setiap amal ibadah yang dilakukan. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Aku akan memberi pahala khusus baginya.” (Muttafaq ‘alaih).
Jika seorang muslim melakukan puasa dengan penuh keikhlasan niscaya Allah akan menghapuskan dosa-dosanya yang telah lalu. Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala dari Allah niscaya Allah akan menghapuskan dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih).
6. Haji adalah ibadah penyempurna karena menggabungkan antara ibadah badaniah dan maliyah (harta). Seperti ibadah lainnya, haji juga memiliki ganjaran yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ حَجَّ هَذَا اْلبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barang siapa yang pergi haji ke rumah ini (Baitullah) lalu ia tidak berkata kotor dan berbuat maksiat maka  ia kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.” (Muttafaq ‘alaih).
Share:

Sunday, June 24, 2018

Iman Sumber Energi

Iman, tempatnya di dalam hati. Dialah yang menjadi kekuatan yang mengatur dan mengarahkan sikap dan perilaku seseorang. Pada saat situasi normal, datar dan aman, tidak banyak masalah, sikap seseorang belum terlihat. Tapi tatkala menghadapi banyak musibah, di situlah keimanan dan keyakinan yang ada dalam hati berbicara lewat sikap dan perilaku lahir.
Manusia, menurut Hasan Al Bashri, dalam situasi aman kondisinya sama. Tapi jika diturunkan ujian, maka seorang mukmin akan berlindung pada keimanannya, sedangkan munafik akan kembali pada kemunafikannya. Oleh karena itu, maka marilah saudaraku kita sama-sama menjaga dan memelihara iman kita agar jangan sampai hilang tergerus oleh arus deras globalisasi. Dan, itulah yang akan dibicarakan secara singkat dalam artikel berikut ini. Meskipun singkat namun cukup untuk mencerahkan dan menambahkan energi dan kekuatan kita dalam menjalani hidup dan keislaman kita di era globalisasi ini. Mari kita ikuti teks selengkapnya berikut ini, mudah-mudahan bermanfaat.
Hanya ada satu cara untuk mensucikan hati dan mengusir kecemasan di saat tertimpa bencana dan kesulitan adalah dengan keyakinan dan keimanan yang sempurna kepada-Nya, Rabb segala sesuatu. Rabb yang memiliki janji yang pasti ditepati akan kebahagiaan di hari akhirat berupa surga bagi yang sukses melewati kesulitan itu dengan keimanan dan kesabaran.
Kehidupan ini tidak lagi memiliki arti dan makna yang hakiki jika keimanan dalam hati kita telah tiada. Orang yang celaka bukanlah orang yang kehilangan harta benda, kekuasaan dan jabatan karena kesulitan yang menimpanya. Tetapi orang yang celaka adalah orang yang kehilangan iman atau keimanannya karena kesulitan itu. Betapa hinanya kehidupan ini tanpa keimanan.
Dengan memperhatikan tingkat keimanan kita, maka kita akan dapat menentukan kebahagiaan dan ketenangan jiwa kita sendiri. “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan,” (QS.An Nahl :97). “Kehidupan yang baik ” yang dimaksud pada ayat di atas merujuk kepada keimanan yang kuat terhadap janji Allah dan hati yang teguh untuk mencintai-Nya. Orang yang menjalani kehidupan yang baik” ini juga akan memiliki jiwa yang tenang ketika tertimpa kesulitan. Mereka akan puas dengan segala sesuatu yang akan terjadi pada mereka, karena hal itu sudah ditentukan oleh takdirnya.
Ketegaran menghadapi kesulitan telah dibuktikan oleh mereka, para sahabat yang tergolong pertama kali masuk Islam. Mereka yang jumlahnya sangat terbatas itu, disiksa dengan siksaan yang luar biasa perihnya dan dipaksa meninggalkan agama barunya. Tetapi dengan keimanan yang menghunjam dalam dada mereka, mereka tetap tegar dan bahkan “tersenyum” menikmati siksaan itu. Sebagian mereka mendapatkan kemenangan sebagai syahid di jalan Allah, dan sebagian lagi mendapat kemenangan dengan pembebasan dari penyiksaan orang-orang kafir itu.
Anda tentu pernah mendengar kisah ketegaran seorang Bilal yang disiksa oleh kafir Kuraisy di tengah padang pasir yang panas terik ditimpakan sebuah batu di dadanya. Dia tidak merasakan sakitnya siksaan itu kecuali hanya kenikmatan iman pada Allah, dengan mengucapkan satu kata ahad..ahad..ahad, hingga tercabut ruh dari jasadnya. Iman yang diliputi rasa cinta dan rindu yang begitu luar biasa pada Allah dan rasul-Nya. Kisah Bilal hanya satu dari beberapa kisah ketegaran dan dahsyatnya energi iman bagi kehidupan orang-orang beriman.
Share:

Saturday, June 23, 2018

Tafsir Surat Al Baqarah 8-10

“Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian,’ Padahal mereka itu sesunguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedangkan mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah:8-10)

Tafsir Ayat:
[8-9] Ketahuilah bahwasanya kenifakan itu adalah menampakkan kebaikan dan menyebunyikan kejahatan, termasuk dalam definisi ini kenifakan i’tiqod dan kenifakan perbuatan. Adapun kenifakan perbuatan seperti yang disebutkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
aayatul munafiqin tsalaatsun: idza haddatsa kadzaba, wa idza wa’ada akhlafa, wa idza-tumina khaana. wa fii riwaayatinwa idza khaashama fajara.

“Tanda-tanda munafik itu ada tiga; apabila berbicara dia berdusta, bila berjanji dia mengingkarinya, dan bila diberikan amanat dia berkhianat.” Dan dalam riwayat lain, “dan bila berperkara, dia berlaku curang.”[1]
Adapun kenifakan i’tiqod yang mengeluarkan seseorang dari Islam yaitu yang Allah subhaanahu wa ta’ala menyifati kaum munafikin dengannya dalam surat ini dan surat selainnya, kenifakan ini belumlah ada sebelum hijrahnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah menuju Madinah dan juga setelah hijrah hingga setelah kejadian perang Badar dan Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin dan memuliakan mereka, dan menghinakan orang-orang yang ada di Madinah dari mereka yang belum masuk Islam, lalu sebagian mereka menampakkan keislaman mereka karena takut dan tipu daya, dan untuk menjaga darah dan harta mereka, di mana mereka-mereka ini bersama kaum muslimin secara lahiriyah mereka menampakkan bahwa mereka adalah bagian kaum muslimin, padahal hakikatnya mereka bukanlah bukan bagian dari kaum muslimin.
Maka sebagai tindakan kelembutan Allah terhadap kaum mukminin adalah Allah memperlihatkan kondisi-kondisi mereka, dan menggambarkan mereka dengan sifat-sifat yang membedakan mereka dengannya agar kaum mukminin tidak terpedaya oleh mereka, dan mampu mengendalikan kejahatan-kejahatan mereka, Allah berfirman,

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ

“Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka suatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka.” (At-Taubat:64),
Lalu Allah mensifati dengan sifat dasar kenifakan seraya berfirman,

ومن الناس من يقول آمنا بالله وباليوم الآخر وما هم بمؤمنين

“Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman” karena mereka mengatakan dengan lisan mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka lalu Allah mendustakan mereka dengan berfirman:

وما هم بمؤمنين

“Padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman” karena keimanan yang hakiki itu adalah sesuatu yang hati dan lisan bersepakat padanya, sesungguhnya hal yang tadi itu adalah tipu daya terhadap Allah dan hamba-hambanya yang beriman, dan tipu daya adalah seorang pelaku tipu daya itu menampakkan sesutu kepada orang yang diperdayai dan dia menyembunyikan hal yang berbeda dengannya demi memperoleh apa yang diinginkannya dari orang yang diperdayai tersebut, maka orang-orang munafik tersebut menempuh jalan ini bersama Allah dan hamba-hambaNya lalu tipu daya mereka tersebut kembali kepada diri mereka sendiri, hal ini adalah suatu perkara yang mengherankan sekali, karena biasanyaseorang pelaku tipu daya itu kondisinya baik akan memperoleh apa yang menjadi tujuannya atau dia selamat yang tidak mendapatkan apa-apa dan tidak rugi apa-apa juga, namun lain halnya[dengan orang munafik, Ad-] karena tipu daya mereka, dia malah kembali kepada diri mereka sendiri.
Oleh karena itu, seolah-olah mereka itu melakukan suatu makar untuk menghancurkan diri mereka sendiri, membahayakannya dan menipunya, karena Allah tidaklah mendapat bahaya dari tipu daya mereka sedikit pun, demikian juga hamba-hambaNya yang beriman, mereka tidak mendapat bahaya sedikit pun dari tipu daya mereka.
Maka tindakan kaum munafik menampakkan keimanan mereka tidak membawa dampak bagi kaum muslimin, hingga selamatlah dengan hal itu harta-harta mereka, dan terjaga darah-darah mereka, dan tipu daya mereka kembali kepada leher-leher mereka, hingga dengan demikian mereka mendapatkan kehinaan dan cela di dunia, serta kemalangan yang terus menerus yang disebabkan oleh apa yang diperoleh kaum mukminin berupa kekuatan dan kemenangan, kemudian pada Hari Akhir nanti mereka mendapatkan adzab yang pedih lagi menyakitkan dan mengerikan disebabkan oleh kedustaan mereka, kekufuran mereka dan kejahatan mereka, dan keadaannya saat ini adalah bahwa mereka dengan kebodohan dan kedunguan yang ada pada mereka, maka mereka tidak merasakan hal tersebut.

[10] Dan firmanNya,

في قلوبهم مرض

“Dalam hati mereka ada penyakit” yang dimaksud dengan penyakit di sini adalah penyakit keraguan, syubhat, dan kenifakan. Hal itu dikarenakan hati itu dihadapkan oleh dua penyakit yang menyebabkannya jauh dari kesehatannya dan kenormalannya, yaitu penyakit syubhat yang batil dan penyakit syahwat yang menggoda. Maka kekufuran, kenifakan, keragu-raguan dan semua bid’ah-bid’ah itu adalah penyakit-penyakit syubhat, sedangkan perzinahan, suka akan kekejian dan kemaksiatan lalu melakukannya, adalah di antara penyakit-penyakit syahwat, sebagaimana Allah berfirman,

فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

“Sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Al-Ahzab: 32),

Yaitu syahwat zina, sedangkan yang selamat adalah orang yang diselamatkan dari kedua penyakit tersebut, hingga terwujudlah baginya keyakinan, keimanan dan kesabaran dari setiap kemaksiatan, lalu dia berjalan dalam pakaian-pakaian keselamatan.

Dan firmanNya tentang kaum munafikin, “Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakitnya”, sebuah penjelasan tentang hikmah Allah subhaanahu wa ta’ala terhadap penentuan kemaksiatan atas pelaku-pelakunya dan bahwasanya hal itu disebabkan dosa-dosa mereka yang terdahulu, Allah menguji mereka dengan kemaksiatan yang akan datang yang mengakibatkan hukuman sebagaimana Allah berfirman,

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ

“Dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya.” (Al-An’am: 110)

Dan Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (Ash-Shaf: 5)

Dan Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ

“Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka.” (At-Taubat; 125)
Maka hukuman bagi kemaksiatan adalah kemaksiatan setelahnya, sebagaimana juga balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. “ (Maryam: 76)

Sumber Bacaan:

Kitab Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir aas-Sa’di, Darul Hadits, Kairo [dengan terjemahannya: Tafsir As-Sa’di (1), cetakan Pertama, Pustaka Sahifa, Jakarta]

[1] Dikeluarakan oleh al-Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59 dari hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.
Adapun riwayat yang kedua sesungguhnya diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 34 dan Muslim no. 58 dari hadits Abdullah bin  Amr  radhiyallahu ‘anhu
Share:

Thursday, June 21, 2018

Kerja sebagai Ibadah

Mari kita simak beberapa hadis berikut ini. Anda bisa melihat bagaimana istimewanya bekerja mencari nafkah menurut Nabi Muhammad SAW.
"Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah (HR. Ahmad)
Subhanallah. Luar biasa, dikatakan dalam hadis diatas bahwa mencari nafkah adalah seperti mujahid, artinya nilainya sangat besar. Allah suka kepada hambanya yang mau berusah payah mencari nafkah. Saya kira, ini lebih dari cukup sebagai motivasi kerja kita sebagai muslim. Bahkan, kita pun berpeluang mendapatkan ampunan dari Allah.
Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad)
Mencari rezeki yang halal dalam agama Islam hukumnya wajib. Ini menandakan bagaimana penting mencari rezeki yang halal. Dengan demikian, motivasi kerja dalam Islam, bukan hanya memenuhi nafkah semata tetapi sebagai kewajiban beribadah kepada Allah setelah ibadah fardlu lainnya.
Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
Perlu diperhatikan dalam hadist di atas, ada kata sesudah. Artinya hukumnya wajib sesudah ibadah lain yang fardhu. Jangan sampai karena merasa sudah bekerja, tidak perlu ibadah-ibadah lainnya. Meski kita bekerja, kita tetap wajib melakukan ibadah fardhu seperti shalat, puasa, ibadah haji, zakat, jihad, dan dakwah. Jangan sampai kita terlena dengan bekerja tetapi lupa dengan kewajiban lainnya.
Jika motivasi kerja kita sebagai ibadah, tentu yang namanya ibadah ada aturannya. Memang berbeda dengan ibadah ritual atau ibadah mahdhah, sebab bekerja sebagai ibadah ghair mahdhah. Artinya, dalam kaidah ushul Fiqh, kita memiliki kebebasan yang luas untuk bekerja selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Langkah pertama agar bekerja menjadi sebuah ibadah ialah harus diawali dengan niat, sebab amal akan tergantung niat. Niatkanlah bahwa bekerja sebagai salah satu ibadah kepada Allah.
Langkah kedua ialah pastikan dalam bekerja tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Untuk itu kita perlu memperhatikan:
Apa yang dikerjakan? Untuk apa kita bekerja? Apakah kita bekerja untuk sesuatu yang dihalalkan oleh agama? Pastikan kita bekerja untuk sesuatu yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.Cara melakukan pekerjaan kita. Apakah cara-cara Anda bekerja sesuai dengan ajaran Islam? Bagaimana dengan pakaian, batasan antara laki-laki dan perempuan, dan sebagainya.

Jika tujuan bekerja begitu agung. Untuk mendapatkan ridha Allah Subhaanahu wa ta’ala, maka etos kerja seorang Muslim haruslah tinggi. Sebab motivasi kerja seorang Muslim bukan hanya harta dan jabatan, tetapi pahala dari Allah. Tidak sepantasnya seorang Muslim memiliki etos kerja yang lemah. Coba perhatikan diatas, ada kata-kata “susah payah” dan “kelelahan” yang menandakan etos kerja yang tinggi, suka bekerja keras, dan jauh dari sifat malas.

Jadi, tidak ada kata malas atau tidak serius bagi seorang Muslim dalam bekerja. Motivasi kerja dalam Islam bukan semata mencari uang semata, tetapi serupa dengan seorang mujahid, diampuni dosanya oleh Allah SWT, dan tentu saja ini adalah sebuah kewajiban seorang hamba kepada Allah SWT.
Dalam hadits diatas juga disebutkan kata profesional dan ahli. Jika motivasi kerja Anda sebagai ibadah, maka Anda akan melakukannya dengan sebaik mungkin. Anda akan terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Anda dalam bekerja. Anda terus belajar dan berlatih agar semakin hari menjadi semakin ahli dalam bekerja. Kemauan Anda untuk belajar dan meningkatkan kemampuan bisa dijadikan ukuran apakah motivasi kerja Anda untuk ibadah atau bukan.

Salah satu bentuk profesional itu adalah ‘adil, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jika waktunya bekerja, Anda bekerja. Jika waktunya istirahat atau shalat, Anda bisa shalat dan istirahat. Jika tidak, maka bisa termasuk melakukan hal yang dzalim, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. ‘Adil juga berarti, Anda bekerja sesuatu tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang Anda miliki.
Semoga motivasi kerja kita sebagai ibadah mencari ridho Allah SWT dapat terwujud. Kebahagiaan dunia akhirat dapat kita raih. Aamiin ya Allah.
Share:

Konsultasi dengan Gus Abduh

Data Kunjungan