Melatih dan Mencerahkan Jiwa

Dr. KH. Abduh Al-Manar, M.Ag.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah. Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

PAUD Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MI Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

MTS Al-Iryadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020

Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor

Thursday, February 14, 2019

Bukti Kekuasaan Allah


AL HIKAM FASAL 15 

مِمَّايَدُلُّكَ على وجُودِ قهرِهِ سُبْحانهُ ان حجبكَ عَنهُ بما ليسَ بموجُودٍ معه

“Diantara yang menunjukkan keperkasaan Allah padamu, adalah Allah menghalangimu dariNya dengan suatu yang tiada wujud bersamaNya”
    
           Di malam yang gelap, saat Anda berada di sebuah kamar dengan lampu terang didalamnya, Anda lihat cahaya memenuhi ruangan itu, cahaya lampu di dalam kamar itu menyibak kelamnya malam, mengubah menjadi bercahaya terang benderang. Tapi coba bayangkan Anda memegang papan kayu, lalu Anda letakkan papan itu di tengah-tengah antara Anda dan lampu itu. Maka yang terjadi adalah cahaya lampu akan terpisah dari Anda, sisi gelap terbentu antara Anda dan lampu itu. Karena memang ada benda asing yang menghalangi Anda dari lampu itu, maka Anda pun terhalang dari sinar lampu itu. Tentu saja, gambaran di atas jelas, aksiomatis, dan tak perlu penalaran lebih jauh lagi.
             Namun hubungan alam semesta dengan Nur Ilahi (Cahaya Ketuhanan) yang meliputi seluruh semesta dan menjalar di dalamnya sama sekali berbeda dengan perumpamaan tadi; sama sekali berbeda dengan hubungan antara kita dengan lampu tadi. Seisi alam semesta ini diliputi oleh Nur Allah luar-dalam, sebagaimana telah dijelaskan kemarin malam, pada  Hikmah-14, hal demikian karena segala sesuatu bisa wujud, bernilai dan berarti hanya karena Allah. Maksudnya, Nur Allah menjalar pada segala sesuatu, sehingga segala sesuatu bisa menjalankan fungsi yang semestinya. Jadi, segala sesuatu, mulai dari yang paling kecil hingga yang paling besar, bisa menjalankan fungsinya bersebab Nur Ilahi.
Inilah maksud firman Allah :
“Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing mengetahui (cara) salat dan tasbihnya” (QS 24:41).
“Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka” (QS 17:44).
              Maksudnya dengan Nur Allah, segala sesuatu dari sesisi alam ini bangkit melaksanakan tugas dan fungsi masing-masing. Jadi jika segala sesuatu seisi alam ini diterangi oleh Nur Allah, maka apakah hal yang bisa menghalangi Anda dari Allah?
           Di atas telah dikemukakan perumpamaan papan kayu yang menghalangi Anda dari cahaya lampu di dalam kamar. Karena memang kayu adalah benda padat yang tak bisa ditembus cahaya, itu sebabnya Anda terhalang dari cahaya lampu itu. Tapi benda apa yang tak diterangi dan tak dijalari Nur Allah, hingga bisa jadi penghalang antara Nur Allah dan hati/akal manusia? dari mana datangnya benda ini hingga bisa menghalangi Anda dari Nur Allah (yang meliputi dan menjalari segala sesuatu)?
             Jika Anda arahkan pandangan ke seluruh isi alam ini, maka pasti tak ada satupun yang tak disinari oleh Nur Allah luar-dalam. Lalu benda apa yang bisa menghalangi Anda dari Allah, padahal tak ada satu bendapun yang tak diterangi Nur Allah, luar-dalam? Jika memang tak ada wujud apapun yang bisa menghalangi Anda dari “menyaksikan” keberadaan Allah,  karena memang segala yang wujud telah diterangi Nur Allah, hingga bisa menunjukkan Anda pada keagungan Allah berarti mestinya tak ada suatu apapun yang bisa menghalangi Anda dari Allah, dari mengenal dan makrifat pada Allah. Akan tetapi “keperkasaan Allah” mampu menjadikan suatu yang tak punya wujud hakiki berperan sebagai penghalang itu.
“Sesuatu” itu tak punya wujud hakiki dan tak bisa mengalahkan Nur Ilahi yang menerangi dan menalari seisi alam semesta. Sehingga mestinya “sesuatu” itu tak bisa menghalangi mata hati dan akal manusia dari menyaksikan keagungan Allah. Akan tetapi “keperkasaan Allah-lah” yang bisa menjadikan “sesuatu” itu bisa menghalangi hati dan akal manusia dari Allah.
         Inilah maksud dari pernyataan Ibnu Athaillah di atas: “Di antara yang menunjukkan keperkasaan Allah padamu, adalah Allah menghalangimu dari-Nya dengan sesuatu yang tiada wujud bersamaNya” Kita semua tahu banyak orang yang terhalang dari menyaksikan keagungan Allah dan makrifat terhadap Allah, padahal tak ada suatu apapun di semesta ini yang bisa menghalangi siapapun utk ‘menyaksikan’ Allah dan makrifat kepada-Nya. Karena segala sesutu di alam semesta ini diterangi Nur Allah, sehingga mestinya semua bisa menunjukkan kita pada Allah.
             Renungkanlah perihal orang-orang yang tidak percaya pada Allah, menentang dan kufur pada Allah. Jelas mereka terhalang dari Allah. Tapi apakah yang menghalangi mereka dari Allah, sehingga mereka ingkar, menentang dan kufur kepada-Nya? Yang menjadi penghalang mereka dari Allah adalah “kemahaperkasaan Allah” dan “kekuatan Allah”. Itu saja. Tak ada yang lain.
“Kemahaperkasaan Allah” tak memerlukan benda atau alat apapun untuk menghalangi seseorang dari ‘menyaksikan’ Allah. Tidak sama dengan permisalan papan kayu yang menghalangi kita dari cahaya lampu, seperti contoh di atas tadi.
Allah berfirman yang artinya: “ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah MENGHALANGI antara manusia dan hatinya”  (QS 8:24)
Allah berfirman: “Sekali-kali tidak, sungguh mereka pada hari itu benar-benar TERHALANG dari (rahmat) Tuhan mereka”  (QS 83:15)
Namun siapakah mereka, yang dengan “kemahaperkasaan-Nya”, Allah menghalangi mereka dari-Nya tanpa suatu penghalang apapun? Mereka adalah orang-orang yang mendapat murka dari Allah lantaran keangkuhan, kesombongan, dan keingkaran mereka pada Allah. Ya, hanya tipe orang seperti mereka yang dihalangi oleh Allah dari menyaksikan keagungan-Nya. Bukan semua orang.
          Karena, misalnya, memang ada orang yang sudah tahu jika alam ini tak mungkin tercipta secara kebetulan. Mereka juga tahu jika struktur alam yang sangat rumit ini pasti diatur oleh Dzat Yang Maha Hebat. Tak mungkin berfungsi sendiri. Tapi meski tahu begitu, mereka malah masa bodoh terhadap Nur Ilahi sebagai penggerak hakiki dari alam yang mereka lihat. Meski menyaksikan alam seperti itu, mereka ingkar pada Allah, tak beriman pada-Nya, tetap angkuh dan menyombongkan diri. Orang dengan tipe seperti itulah yang dihalangi oleh Allah dari-Nya, hingga tak bisa menyaksikan keagungan Allah. Orang seperti itulah yang Allah sebut sebagai “punya hati tak memahami, punya mata tapi tak melihat, punya telinga tapi tak mendengar”. Bisa saja orang punya hati, mata dan telinga, namun ia malah terhalang dari ‘melihat’ Allah, hingga ingkar pada Allah. Karena Allah menghilangkan fungsi dari ketiga komponen itu, hingga tak perlu penghalang apapun agar orang itu tak melihat Allah. Orang yang terhalang dari Allah, hatinya jadi gelap dan sekeras batu, hingga ia selalu membangkang pada Allah
             Dalam hal ini, Allah berfirman dalam QS 2:74
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi”

Share:

Tuesday, February 12, 2019

Syekh Abdurrauf Singkil


           Syekh Abdurrauf Singkil adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala). Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam.

       Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, Syaikh untuk Tarekat Syattariyah Ahmad al-Qusyasyi adalah salah satu gurunya. Nama Abdurrauf muncul dalam silsilah tarekat dan ia menjadi orang pertama yang memperkenalkan Syattariyah di Indonesia. Namanya juga dihubungkan dengan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an bahasa Melayu atas karya Al-Baidhawi berjudul Anwar at-Tanzil Wa Asrar at-Ta’wil, yang pertama kali diterbitkan di Istanbul tahun 1884.

      Ia diperkirakan kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan mengajarkan serta mengembangkan tarekat Syattariah yang diperolehnya. Murid yang berguru kepadanya banyak dan berasal dari Aceh serta wilayah Nusantara lainnya. Beberapa yang menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin Ulakan (dari Pariaman, Sumatera Barat) dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (dari Tasikmalaya, Jawa Barat).

            Karya-karya Abdurrauf Singkil yang sempat dipublikasikan melalui murid-muridnya:
1)Mir’at al-Thullab fî Tasyil Mawa’iz al-Badî’rifat al-Ahkâm al-Syar’iyyah li Malik al-Wahhab, karya di bidang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin.
2)Tarjuman al-Mustafid, merupakan naskah pertama Tafsir Al Qur’an yang lengkap berbahasa Melayu.
3)Terjemahan Hadits Arba’in karya Imam Al-Nawawi, ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatuddin.
4)Mawa’iz al-Badî’, berisi sejumlah nasihat penting dalam pembinaan akhlak.
5)Tanbih al-Masyi, merupakan naskah tasawuf yang memuat pengajaran tentang martabat tujuh.
6)Kifayat al-Muhtajin ilâ Masyrah al-Muwahhidin al-Qâilin bi Wahdatil Wujud, memuat penjelasan tentang konsep wahdatul wujud.
7)Daqâiq al-Hurf, pengajaran mengenai tasawuf dan teologi.

           Abdurrauf Singkil meninggal dunia pada tahun 1693, dengan berusia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desa Deyah Raya Kecamatan Kuala, sekitar 15 Km dari Banda Aceh.

Share:

Sunday, February 10, 2019

Kiat-Kiat Bahagia


          Semua manusia ingin hidup bahagia. Kebahagian harus dicari dan diusahakan. Kita coba cari yang terbaik dalam mengarungi hidup ini. Berikut ini kiat-kiat bahagia :
1. Jangan melihat ke atas.
         Pertama jangan melihat orang yang berada di atas kita, dalam hal harta, pangkat dan kedudukan. Perhatikanlah apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad bersabda:

 انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Lihatlah orang yang ada di bawahmu dan jangan melihat orang yang ada di atasmu, sebab itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah”. (Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

            Melihat orang yang di atas kita hanya akan membuat leher pegal, dengki, iri, kufur nikmat dan yang terburuk adalah menyalahkan takdir Allah

2. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain
         Kiat bahagia yang kedua, jangan samakan atau bedakan diri kita dengan siapapun. Biarkah segalanya berjalan natural. Kita bukanlah mereka, mereka bukan kita. Perbedaan adalah Sunnatullah.
Yang jadi masalah kan, kita suka membanding-bandingkan. Baik dalam hal wajah, warna kulit, kecerdasan dan lain-lain, yang membuat diri kita menjadi minder, tidak percaya diri.

Allah berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ

Janganlah kalian mengharapkan Karunia Allah yang terdapat pada orang lain. (An-Nisa: 32)

3. Jangan melihat masa lalu
            Waktu adalah makhluk Allah yang paling cepat. Sedetik lalu dia pergi, tidak akan pernah lagi kita bertemu dengannya. Menggunakan wahana apapun, kita tidak akan pernah mampu mengejarnya. Karenanya, mengejar waktu yang telah berlalu adalah perbuatan sia-sia. Apalagi, mengejarnya ingatan nostalgia, kenangan dan perasaan. Percuma. Inilah alasan kita dilarang menengok kebelakang. Mengingat dulu kita pernah menolong fulan, sekarang dia mendzalimi kita. Hanya akan membuat kita menyesal telah berbuat baik. Akhirnya, muncul rasa tidak ikhlas, riya bahkan dendam.

4. Jangan kaitkan kebahagiaan dengan orang lain.
             Yakinlah bahwa yang membuat kita bahagia adalah Allah, bukan siapapun. 
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى 
Allah lah yang menjadikan seseorang tertawa dan menangis, (An-Najm: 43).
               
5. Hidup sederhana
              Ada kata-kata bijak yang menarik yang sering kita baca, “bahagia itu sederhana …”.
Ternyata ada benarnya juga. Sederhana adalah istilah lain untuk bahagia. Bahagia adalah sederhana, sederhana adalah bahagia. Kalau mau bahagia harus sederhana. Yang bikin hidup menderita, terhimpit dan tertekan sebenarnya bukan kebutuhan hidup tapi gaya hidup.
             Gaya sama dengan tekanan. Artinya, semakin banyak gaya semakin tertekan. Dengan hidup sederhana, secara tidak langsung kita telah menyederhanakan masalah menjadi lebih mudah.

6. Berbaik sangka pada Allah.
         Berpikir positif bahwa kita berada dijalan yang benar karena Allah selalu memberikan kebaikan. Dengan demikian, semua yang kita hadapi akan terasa ringan karena bagaimanapun jalan ceritanya, akan selalu happy ending. Bahkan jika harus mati pun, kita tetap dianjurkan berbaik sangka kepada Allah. Dalam beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud, Rasulullah bersabda:

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ

Janganlah seorang pun di antara kalian yang mati kecuali dalam keadaan berhusnudzon kepada Allah.

7. Qonaah
           Kalau kita perhatikan, perasaan tidak bahagia bisa disebabkan faktor hati. Qonaah atau tidak. Qonaah adalah ridho terhadap segala yang telah Allah berikan. Tanpa qonaah; paras menawan, jabatan terpandang dan hartawan tidak mampu menutupi galau dan gelisah. Cukuplah hadits berikut menggambarkan betapa besarnya qonaah.

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا

Siapa diantara kalian yang bangun di pagi hari dalam kondisi aman, tubuhnya sehat, dan memiliki makanan untuk hari tersebut. Maka seakan-akan dunia seluruhnya telah diberikan untuknya. (Al-Bukhari dan At-Thirmidz). 
          Inilah bahagia dalam Islam. mari kita perhatikan kata-kata bijak Imam Syafii;
ولا تجزع لحادثة الليالي # فما لحوادث الدنيا بقاء
إذا ما كنت ذا قلب قنوع # فأنت ومالك الدنيا سواء
Jangan kau risaukan malapetaka # karena semua musibah hanya sementara.
Jika hatimu penuh qonaah # maka engkau dan raja sungguhan tidak ada bedanya.


Share:

Saturday, February 9, 2019

Fase-Fase Kehidupan

TAFSIR AL BAQARAH : 28

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” [ Al-Baqarah : 28 ].
            Bagaimana bisa kalian -wahai orang-orang musyrik- mengingkari keesaan Allah ta'ala dengan menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain dalam ibadah, padahal sudah disertakan bukti yang jelas tentang itu pada diri kalian? Padahal dahulu kalian belum diciptakan, lalu kemudian Dia mengadakan kalian dan meniup ruh kehidupan pada diri kalian, kemudian mematikan kalian setelah berakhirnya ajal kalian yang telah Dia tentukan bagi kalian, selanjutnya Dia akan mengembalikan kalian menjadi hidup lagi pada hari kebangkitan dan kemudian kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan untuk perhitungan amal perbuatan dan pembahasannya.
            Bagaimana bisa kalian mengingkari adanya Allah, takdirNya dan nikmatNya lalu kalian menyembah selainNya?! Allah adalah Dzat yang menghidupkan dan menciptakan kalian setelah sebelumnya kalian tidak ada, kemudian mematikan kalian di dunia sampai ajal kalian dating. Setelah itu, Allah menghidupkan kalian dengan membangkitkan kalian pada hari kiamat, kemudian kalian dikumpulkan di tempat yang berada di sisiNya, kemudian membalas kalian sesuai perbuatan kalian [Tafsir Al Muyassar ]
            Makna kata : كَيۡفَ تَكۡفُرُونَ بِٱللَّهِ : Bentuk kata tanya disini untuk menyatakan keheranan sekaligus celaan, karena tidak ada sesuatu yang menyebabkan terjadinya kekufuran di sini. وَكُنتُمۡ أَمۡوَٰتٗا فَأَحۡيَٰكُمۡۖ : Ini merupakan bukti atas bathilnya kekufuran yang mereka lakukan. Bagaimana bisa seorang hamba kufur terhadap Rabbnya sedangkan dia diciptakan oleh Rabbnya yang sebelumnya tidak ada sama sekali. ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يُحۡيِيكُمۡ : Sesungguhnya mematikan yang hidup yang menghidupkan yang mati, keduanya merupakan petunjuk atas keberadaan serta kekuasaan Tuhan yang Maha Tinggi. ثُمَّ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ : Yang dimaksud dengan dihidupkan kedua kalinya yaitu pada kebangkitan saat hari kiamat. Makna ayat : Masih saja fokus pembicaraan kedua ayat ini tertuju kepada orang-orang kafir yang sudah disebutkan sifat-sifat buruknya dan kondisinya yang mengenaskan pada ayat-ayat sebelumnya. Lantas Allah berkata kepada mereka dengan metode berpaling, menegur dan mencela sikap mereka; “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu.” Allah Ta’ala menyebutkan bukti-bukti wujud keberadaanNya dan kemuliaanNya, sehingga menjadikan kekufuran sebagai suatu hal yang amat buruk dan pelakunya termasuk makhluk rendahan yang paling buruk keadaannya di dunia dan di akhirat kelak. Dan di antara bukti keberadaanNya adalah menghidupkan setelah mematikan dan mematikan setelah menghidupkan. Pelajaran dari ayat : 1.  Penolakan terhadap kekafiran kepada Allah Ta’ala 2.    Penyampaian bukti atas wujud Allah, KekuasaanNya, dan kasih sayangNya [ Tafsir Al-Wajiz / Wahbah az-Zuhaili ]
            Pertanyaan di sini maksudnya adalah ta'ajjub (menunjukkan keanehan), taubikh (mencela) dan mengingkari. Yakni bagaimana kamu wahai orang-orang musyrikin bisa ingkar kepada keesaan Allah, kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu padahal ada bukti yang nyata terhadap keesaan-Nya pada diri kamu. Bukankah kamu dahulu mati, lalu Allah menghidupkan kamu, lalu Dia mematikan kamu setelah tiba ajalmu dan akan membangkitkan kamu lagi dan kepada-Nya kamu dikembalikan untuk dihisab dan diberikan balasan terhadap amalmu selama di dunia. Di samping itu, kamu semua berada di bawah kekuasaan-Nya, lalu apakah pantas kamu ingkar kepada-Nya, bukankah yang demikian merupakan kebodohan yang sangat, bahkan yang sepatutnya kamu lakukan adalah beriman kepada-Nya, bertakwa dan bersyukur, takut terhadap azab-Nya dan berharap pahala-Nya [ Aisarut Tafasir / Abu Bakar Jabir al-Jazairi ]
                Kata “amwata” sebagai alam ketiadaan [manusia berada di alam ruh hanya Tuhan yang mengetahui eksistensinya],  kata “fa ahyakum”  lalu manusia hadir  [keberadaan manusia di alam Rahim dan di alam dunia], kata “tsumma yumitukum” lalu manusia dimatikan [manusia masuk alam kubur, alam batas dunia akhirat, alam barzah], kata “tsumma yuhyikum” manusia dibangkitkan dari alam kubur menuju alam akhirat, dan terakhir “tsumma ilaihi turjaun” manusia kembali kepada Sang Pencipta [Allah SWT] Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan. Manusia berada di alam akhir [Syurga atau Neraka]. Semoga Allah kembalikan kita ke alam akhir berupa Syurga yang penuh kenikmatan. Dan kenikmatan tertinggi berada sedekat mungkin dengan Tuhan. [Penulis Web]. Wallahu a’lam.
Share:

Friday, February 8, 2019

Manusia Yang Dilindungi Allah


MANUSIA YG DILINDUNGI ALLAH

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”
1.            Seorang Imam Yang Adil
Yang dimaksud dengan Imam yaitu seorang yang mempunyai kekuasaan besar seperti raja, presiden atau yang mengurusi urusan kaum Muslimin.
Yang dimaksud adil yaitu seorang imam yang tunduk dan patuh dalam mengikuti perintah Allâh Azza wa Jalla dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya, tanpa melanggar atau melampaui batas dan tidak menyia-nyiakannya. Keadilan seorang imam yaitu dengan menegakkan kalimat Tauhid di muka bumi dan menyingkirkan segala perbuatan syirik.
2. Seorang Pemuda Yang Tumbuh Dalam Keadaan Beribadah Kepada Allâh
Dalam sebuah hadits dari Shahabat Salmân al-Fârisi Radhiyallahu anhu disebutkan:

أَفْنَى شَبَابَهُ وَنَشَاطَهُ فِي عِبَادَةِ اللهِ

Dia menghabiskan waktu mudanya dan rajin dalam beribadah kepada Allâh [ Fathul Bari ]

Pada umumnya, seseorang saat masa mudanya lebih condong kepada kejahatan, kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan yang melanggar syari’at. Namun ada orang di saat mudanya ia justru mengekang hawa nafsunya dan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla. Orang seperti inilah yang akan dilindungi oleh Allâh Azza wa Jalla .

3.            Seseorang Yang Hatinya Bergantung Pada Masjid
Dalam riwayat at-Tirmidzi disebutkan,

وَرَجُلٌ كَانَ قَلْبُهُ مُعَلَّقًا بِالْـمَسْجِدِ إِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُوْدَ إِلَيْهِ …

Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, apabila ia keluar dari masjid hingga kembali kepadanya …

Hal ini menunjukkan tentang rasa cintanya kepada masjid untuk shalat dan dzikir kepada Allâh Azza wa Jalla . Hatinya bagaikan lampu pelita yang terpasang di atapnya, di mana tidaklah dia keluar darinya melainkan dia akan kembali.

4.            Dan orang Yang Saling Mencintai Di Jalan Allâh, Dia Berkumpul Dan Berpisah Karena-Nya
Imam an-Nawawi rahimahullah memasukkan hadits ini dalam kitabnya, Riyâdhush Shâlihîn pada bab “Keutamaan Cinta karena Allâh”.

                Mencinta seseorang hanya karena Allâh Azza wa Jalla adalah cinta yang tidak dapat dinodai oleh unsur-unsur keduniaan, ketampanan, harta, kedudukan, fasilitas, suku, bangsa dan yang lainnya. Akan tetapi dia melihat dan mencintai seseorang karena ketaatannya dalam melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla dan kekuatannya dalam meninggalkan larangan-Nya. Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Disebut dengan dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, di mana ia berpisah dan berkumpul karena-Nya, yaitu apabila keduanya saling mencintai karena agama, bukan karena yang lainnya. Dan cinta agama ini tidak putus karena dunia, baik dia berkumpul secara hakiki atau tidak, sampai kematian memisahkan keduanya.”

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Humaidi disebutkan bahwa yang dimaksud yaitu dia berkumpul di atas kebaikan.[ Fathul Bari ]

Kemudian sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

تَفَرَّقَا عَلَيْهِ

Keduanya berpisah karena-Nya

Yaitu keduanya berkumpul dan berpisah hanya karena Allâh Azza wa Jalla , badannya terpisah karena safar atau kematian tetapi ruhnya tetap berkumpul di atas manhaj Allâh Azza wa Jalla. [ Bahjatun Nazhirin, I : 445 ]

Sebagaimana yang disebutkan pada sebuah hadis dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا اِئْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اِخْتَلَفَ.

Ruh-ruh itu selalu terkumpul dan terhimpun, siapa yang kenal ia akan berkumpul; dan siapa yang tidak saling mengenal, maka ia berpisah [Imam Bukhari ]

Hal ini juga berlaku bagi dua orang wanita Muslimah yang saling mencintai karena Allâh Azza wa Jalla , yaitu cinta dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla .

                Oleh sebab itu, apabila kita mencintai seseorang karena ketaatannya dalam melaksanakan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan kesungguhannya dalam menjauhi larangan-Nya, maka dianjurkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita memberitahukan kepadanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, yaitu:

إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللهِ

Sesungguhnya aku cinta kepadamu karena Allâh …

Kemudian jawabannya adalah:

أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ

Mudah-mudahan Allâh mencintaimu yang telah mencintaiku karena-Nya.[ Imam Abi Daud ]

Saling mencintai karena Allâh Azza wa Jalla memiliki keutamaan yang sangat besar, bukan hanya mereka akan dikumpulkan dan diberikan naungan, bahkan mereka akan diberikan mimbar-mimbar dari cahaya oleh Allâh Azza wa Jalla di hari Kiamat.

Sebagaimana hadits dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu bahwa ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اَلْـمُتَحَابُّوْنَ فِي جَلاَلِي، لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُوْرٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّوْنَ وَالشُّهَدَاءُ

Orang yang saling mencintai berada dalam lindungan-Ku; diberikan bagi mereka mimbar-mimbar dari cahaya yang dicita-citakan oleh para Nabi dan syuhada‘ (orang-orang yang mati syahid)[16]

5.            Seorang Laki-Laki Yang Diajak Berzina Oleh Seorang Wanita Yang Memiliki Kedudukan Dan Kecantikan, Lalu laki-laki tersebut berkata, “Sungguh aku takut kepada Allâh.”

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ

Dan seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu laki-laki tersebut berkata: ‘Sungguh aku takut kepada Allâh.

                Hal ini bukan hanya berlaku bagi laki-laki, namun juga bagi wanita. Apabila dia diajak berzina oleh laki-laki kemudian dia menolaknya sambil mengatakan,

إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Sungguh aku takut kepada Allâh, Rabb semesta alam.

Yaitu dia takut hanya kepada Allâh Azza wa Jalla , maka dia akan diberikan perlindungan oleh-Nya.

                Disebutkannya laki-laki ini sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur-an, yaitu kisah Nabi Yûsuf Alaihissallam . Beliau Alaihissallam diajak oleh seorang isteri penguasa pada waktu itu untuk berzina, namun beliau Alaihissallam menolaknya. Allâh Azza wa Jalla melarang seseorang mendekati perbuatan zina. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. [Al-Isrâ’/17:32]

6.            Seseorang Yang Bersedekah Dengan Sesuatu Lalu Ia Menyembunyikannya Hingga Tangan Kirinya Tidak Mengetahui Apa Yang Diinfaqkan Oleh Tangan Kanannya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ

Seseorang yang bershadaqah dengan satu sedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.

                Sudah diketahui bersama bahwa infaq itu dianjurkan agar dilakukan dengan tangan kanan karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan menggunakan tangan kanan ketika mengambil sesuatu, makan, minum, maupun bershadaqah. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad (VI/94). Juga dalam Shahîh al-Bukhâri di Kitab az-Zakâh terdapat bab dengan judul Bab as-Shadaqati bil yamin (Bab Sedekah dengan Tangan Kanan).

Allâh Azza wa Jalla sangat menganjurkan para hamba-Nya untuk bershadaqah. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allâh akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allâh Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” [Al-Baqarah/2:271]

                Menyembunyikan sedekah dalam Islam memiliki keutamaan, yaitu dapat menjauhkan diri dari sifat riya’. Maka sangat dianjurkan untuk bershadaqah dalam keadaan sepi dan sembunyi-sembunyi, tidak terang-terangan.

                Namun pada saat-saat tertentu diperlukan memberikan sedekah secara terang-terangan, misalkan di suatu tempat didapati orang-orang yang sangat sulit untuk bersedekah, maka dianjurkan untuk memulainya secara terang-terangan agar menjadi contoh bagi mereka. Sebagaimana asbâbul wurûd (sebab-sebab datangnya hadits), sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ…

Barangsiapa yang memulai sunnah dalam Islam dengan sunnah yang baik, maka diberikan pahala baginya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka…[Imam Muslim]

                Sedekah wajib dilakukan dengan ikhlas, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya. Orang yang riya’ dalam beramal, baik ketika memberikan sedekah maupun yang lainnya, maka amalannya itu tidak bernilai di sisi Allâh Azza wa Jalla . Yaitu jika dia ingin dilihat orang, ingin didengar, atau dia mengungkit-ungkit amalan yang dilakukannya, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

                Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) shadaqahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allâh dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allâh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir itu. [Al-Baqarah/2:264]

                Maksud dari seseorang yang menyembunyikan shadaqah yang dilakukan dengan tangan kanannya dari tangan kirinya adalah orang ini bersungguh-sungguh dalam menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya, meskipun dekat dengan tangan kanan (padahal berada dalam satu tubuh), tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya dalam sedekahnya tersebut.[18] Namun bagi para isteri dianjurkan meminta izin kepada suaminya jika ingin bershadaqah.

7.            Seseorang Yang Mengingat Allâh Azza Wa Jalla Dalam Keadaan Sepi Lalu Air Matanya Mengalir
Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dan seseorang yang mengingat Allâh dalam keadaan sepi lalu air matanya mengalir

                Yaitu, seorang laki-laki yang mengingat Allâh atau berdzikir kepada-Nya, berdzikir dengan hati dan lisannya, dan dalam keadaan sepi lalu air matanya mengalir. Penyebutan rajulun (seorang laki-laki) bukan pembatasan karena ini juga berlaku bagi kaum wanita. Jika seorang Muslimah mengalir air matanya tatkala berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla di kala sepi, maka ia berhak atas naungan Allâh Azza wa Jalla di hari Kiamat.

                Penyebutan syarat dalam keadaan sepi di sini karena di saat itu sangat jauh dari perbuatan riya’. Tentang mengalir air matanya karena takut kepada Allâh terdapat beberapa keutamaan, di antaranya tidak disentuh oleh api Neraka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ : عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ

Ada dua mata yang tidak disentuh oleh api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allâh dan mata yang bergadang karena menjaga peperangan di jalan Allâh.[Imam Tirmidzi ]

Berzikir (mengingat) Allâh Azza wa Jalla , baik dengan membaca zikir, doa maupun bangun untuk shalat di tengah malam. Demikian juga apabila seorang suami yang bangun di tengah malam lalu melaksanakan shalat Tahajjud, kemudian dia membangunkan isterinya untuk melakukan shalat Tahajjud atau sebaliknya, maka keduanya termasuk orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ

Seorang suami yang bangun ditengah malam dan membangunkan isterinya lalu keduanya shalat malam, maka keduanya termasuk laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allâh[ Imam Abu Daud ] .


Share:

Thursday, February 7, 2019

Cahaya Ilahi


CAHAYA ILAHI : AL-HIKAM 14

الكَونُ كلُّهُ ظُلمة ٌ واِنّمَا اَناَرَهُ ظُهُورُالحَقِّ فيه فمن رأى الكَوْنَ ولم يَشْهَدْهُ فيهِ اوعِندهُ اوقَبْله اوبَعْدهُ فقد اَعوزَهُ وجودُ الانوَرِ وحُجِبتْ عَنه شموس المعارفِ بِسُحُبِ الاثارِ

"Alam itu semuanya dalam kegelapan, sedangkan yang meneranginya, hanya karena dhohirnya Al-haq [Allah] padanya, maka barangsiapa yang melihat alam, lantas tidak melihat Allah di dalamnya, atau didekatnya, atau sebelumnya, atau sesudahnya, maka sungguh ia telah disilaukan oleh nur [cahaya], dan tertutup baginya surya [nur-cahaya] ma'rifat oleh tebalnya benda-benda alam ini."

            Alam semesta yang mulanya tidak ada dan memang gelap, sedang yang menampakkannya sehingga berupa kenyataan, hanya kekuasaan Allah padanya, karena itu barangsiapa yang melihat sesuatu benda alam ini, lantas tidak terlihat olehnya kebesaran dan kekuasaan Allah yang ada pada benda itu, sebelum atau sesudahnya, berarti ia telah disilaukan oleh cahaya. Bagaikan ia melihat cahaya yang terang benderang, lalu ia mengira tidak ada bola yang menimbulkan cahaya itu. Maka semua seisi alam ini bagaikan cahaya, sedang yang hakiki [sebenarnya] terlihat itu semata-mata kekuasaan dzat Allah subhanahu wata'ala.
            Makna melihat Allah didalam AL-KAUN (alam) yaitu: segala sesuatu yang ada ini berjalan menurut hukum Allah, jadi hatinya hamba ketika melihat alam, langsung dia tahu Allah yang membuat. ALLOHU KHOOLIQU KULLI SYAI’(Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu). Tidak melihat sebab-musababnya.
            Melihat Allah didekat AL-KAUN (alam) yaitu: sadar kalau Allah-lah yang mengurusi dan mengatur semuanya sesuai dengan kehendakNya, dengan kesadaran yang seperti ini hati akan terdorong untuk selalu muroqobah dengan rasa syukur dan selalu berusaha melaksanakan kewajiban dari Alloh, dan akhirnya akan hilang kesenangan-kesenangan nafsu.
            Melihat Allah sebelum AL-KAUN (alam)sebelum sesuatu diwujudkan yaitu: melihat kita melakukan sesuatu yang di inginkan itu tidak akan terjadi tanpa dikehendaki oleh Allah. Dengan kesadaran seperti ini hati bisa bertawakkal(menyerahkan semua pada Allah atas apa yang di inginkan.karena yaqin semua yang wujud itu pasti Allah yang mewujudkan.
            Melihat Allah sesudah AL-KAUN (alam) yaitu:sebab melihat Allah hamba tidak merasa kalau dia melakukan sesuatu/amal, karena sadar bahwa Allah-lah yang menjadikan amal itu.

Share:

Konsultasi dengan Gus Abduh

Data Kunjungan