Dr. KH. Abduh Al-Manar, M.Ag.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah. Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor
Pondok Pesantren Al-Irsyadiyah
Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor
PAUD Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020
Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor
MI Al-Irsyadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020
Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor
MTS Al-Iryadiyah Tahun Pelajaran 2019/2020
Jl. Inpres II Cibeuteung Udik, Ciseeng - Bogor
Thursday, October 29, 2020
Keutamaan Nabi Muhammad SAW
Wednesday, October 28, 2020
Solusi Spiritual Agar Dunia Mengejarmu
Diriwayatkan bahwa ada seorang Sahabat mengeluh kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata:
“Ya Rasulallah, kenapa dunia seolah-olah tidak menginginkanku, semua usahaku bangkrut, peternakan dan pertaniankupun selalu gagal panen.?
Sambil tersenyum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan tentang tasbihnya para Malaikat serta tasbihnya penghuni alam semesta yaitu:
ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺤﻤﺪﻩ ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ
SUBHANALLAH WA BIHAMDIHI SUBHANALLAHIL 'AZHIM ASTAGHFIRULLAH
Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
Bacalah 100 kali sebelum terbit Fajar.
Maka dunia akan memohon kepada Allah agar engkau memiliki (mengejarmu tanpa kau mengejarnya) ”
Selang beberapa bulan kemudian, sahabat tadi kembali lagi dan bercerita:
“Ya Rasulallah sekarang aku bingung dengan hartaku kemana harus aku meletakkan hasil usaha dan peternakanku karena banyaknya.” *
Sumber Kitab: ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻔﺮﺝ oleh Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasany. [AL FATIHAH]
Semoga Allah memberikan harta yang berkah kepada kita
Tuesday, October 27, 2020
Apa Yang Kamu Suka Dari Dunia Ini
Pada suatu hari Rasulullah ﷺ duduk bersama sahabatnya dan bertanya kepada mereka. Bermula di tanyakan kepada Sayyidina Abu Bakar رضي الله عنه:
Apa yang kamu suka dari dunia ini? dan berkatalah Sayyidina Abu Bakar رضي الله عنه, Aku suka dari dunia ini 3 perkara:
1. Duduk-duduk bersamamu ya Rasulullah
2. Melihat wajahmu ya Rasulullah
3. Aku korbankan hartaku untukmu ya Rasulullah
Lalu Rasulullah ﷺ bertanya pada sayyidina Umar RA. bagaimana pula denganmu ya Umar? Jawab Sayyidina Umar رضي الله عنه ada 3 perkara yang aku suka:
1. Membuat kebaikan walaupun dalam keadaan manusia tidak mengetahuinya
2. Mencegah kemungkaran walaupun dalam keadaan terang-terangan
3. Berkata yang benar walaupun pahit
Bagaimana pula denganmu wahai Utsman? Berkata Sayyidina Utsman رضي الله عنه ada 3 perkara yang aku suka:
1. Memberi makan
2. Memberi salam
3. Sholat malam di waktu manusia tidur
Bagaimana pula dengan kamu wahai Ali? Aku juga cinta 3 perkara:
1. Memuliakan tamu
2. Berpuasa di musim panas
3. Dan memukul musuh dengan pedang
Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya pada Sayyidina Abu Dzar رضي الله عنه Apa yang kamu suka di dunia ini? Kata Sayyidina Abu Dzar رضي الله عنه Aku suka 3 perkara di dunia ini:
1. Lapar
2. Sakit
3. Mati
Kemudian Rasulullah bertanya, Kenapa wahai Abu Dzar? Berkata Sayyidina Abu Dzar رضي الله عنه:
1. Aku suka lapar karena untuk membersihkan hati
2. Aku suka sakit karena berhitung dosaku
3. Aku suka mati karena bertemu tuhanku
Kemudian bersabdalah Rasulullah ﷺ
Aku cintakan dari dunia ini 3 perkara:
1. Wangi-wangian
2. Wanita yang sholehah
3. Sholat menjadi penyejuk mataku
Kemudian di waktu itu turunlah malaikat Jibril sebagai memberi salam pada rasulullah ﷺ dan para sahabat.
Kemudian malaikat Jibril 'alaihi Sallam mengatakan aku suka di dunia kamu ini 3 perkara:
1. Menyampaikan risalah
2. Menunaikan amanah
3. Cinta terhadap orang miskin
Kemudian malaikat Jibril 'alaihi sallam naik ke langit dan turun sekali lagi ke bumi dan berkata "Sesungguhnya Allah ﷻ mengucapkan salam kepada kamu semua dan Allah ﷻ sebenarnya Allah suka pada dunia kamu ini 3 perkara:
1. Lidah yang senantiasa berdzikir
2. Hati yang senantiasa khusyu
3. Jasad yang sabar menunggu ujian
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ
في العالمين إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ
Monday, October 26, 2020
Suci Bagian Dari Iman
Suci bagian dari Iman. Dijelaskan dalam Kitab Hadis Arbain ke 23
عن أبي مالك الحارثي ابن عاصم الأشعري رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الطهور شطر الإيمان, والحمد لله تملأ الميزان, وسبحان الله والحمد لله تملأ - أو تملآن - ما بين السماء والأرض, والصلاة نور, والصدقة برهان, والقرآن حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ. كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَباَئِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا [رواه مسلم
Dari Abu Malik, Al Harits bin Al Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah' alaihi wa Sallam: 'Suci itu sebagian dari iman, (bacaan) alhamdulillaah memenuhi timbangan, (bacaan) subhaanallaah dan alhamdulillaah. memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Shalat itu adalah nur, shadaqah adalah pembela, shalat adalah cahaya dan Al-Qur'an menjadi pembela kamu atau musuh kamu. Setiap manusia bekerja, lalu dia menjual dirinya, kemudian pekerjaan itu dapat menyelamatkannya atau mencelakakannya ”. [HR Muslim. 223]
Hadis ini memuat salah satu pokok Islam dan memuat salah satu dari kaidah penting Islam dan agama. Adapun yang dimaksud dengan kata “suci” adalah perbuatan bersuci.
Ada pendapat tentang maksud kalimat “suci sebagian dari iman” yaitu: pahala suci merupakan sebagian dari pahala iman, sedangkan yang lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan iman di sini adalah shalat, yaitu firman Allah:
“Allah tidak menyia-nyiakan iman (shalat) kamu”. (QS. 2: 143)
Thaharah atau bersuci merupakan salah satu dari syarat sahnya shalat. Jadi, bersuci merupakan sebagian pekerjaan shalat.
Sabda Nabi Shallahu 'alaihi wa Sallam “(bacaan) alhamdulillaah memenuhi timbangan”, maksudnya besar pahalanya memenuhi timbangan orang yang mengaturnya. Dalam Al Qur'an dan Sunnah diterangkan tentang timbangan amal, berat dan ringannya. Begitu juga sabda Nabi Shallahu 'alaihi wa Sallam “(bacaan) subhaanallaah dan alhamdulillaah memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi”. Hal ini karena sangat besar ucapan tersebut yang berisi menyucikan Allah dari segala sifat kekurangan dan cacat.
Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam “Shalat itu adalah nur“ maksudnya adalah perbuatan itu mencegah maksiat, merintangi perbuatan-perbuatan keji dan mungkar, serta menunjukkan ke jalan yang benar, cahaya yang dijadikan orang sebagai penunjuk jalan. Sebagaian lain yang berpendapat bahwa jalan, shalat itu kelak akan menjadi petunjuk jalan bagi pelakunya di hari kiamat. Sedangkan sebagian yang lain lagi berpendapat bahwa shalat seseorang kelak akan menjadi cahaya yang memancar di wajahnya di hari kiamat, dan ketika di dunia menjadikan wajah pelakunya cemerlang, yang mana hal ini tidak diperoleh orang-orang yang tidak shalat.
Tentang sabda Nabi Shallall 'alaihi wa Sallam “shadaqah adalah pembela”, pengarang kitab At Tajrid mengatakan, maksudnya adalah dia akan membutuhkan pembelaan dari shadaqah (zakat) nya, ia membutuhkan pembelaan dengan berbagai bukti-bukti yang dapat menyelamatkannya dari. Seolah-olah seseorang jika kelak di hari kiamat dimintai tanggung jawab dalam membelanjakan hartanya, maka shadaqah (zakat) nya dapat menjadi pembela bagi dirinya dalam memberikan jawaban, misalnya ia berkata: “Aku menggunakan hartaku untuk membayar zakat”.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa maksudnya adalah shadaqah (zakat) bukti keimanan pelakunya. Hal ini karena orang munafik tidak mau mengeluarkan zakat karena tidak meyakininya. Barang siapa yang mengeluarkan zakat, hal itu menunjukkan kekuatan imannya.
Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam “Al Qur'an menjadi pembela kamu atau musuh kamu” maksudnya jelas, yaitu bermanfaat jika kamu baca dan kamu amalkan, tetapi jika tidak, akan menjadi musuh kamu.
Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam “Setiap manusia bekerja, lalu dia menjual dirinya, kemudian pekerjaan itu dapat menyelamatkannya atau mencelakakannya” maksudnya setiap orang bekerja untuk dirinya sendiri. Ada orang yang menjual dirinya kepada Allah dengan berbuat ketaatan kepada-Nya sehingga dirinya selamat dari adzab, seperti Allah firmankan: “Sungguh Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka, sehingga mereka mendapatkan surga”. (QS.9: 111)
Ada orang yang menjual dirinya kepada setan dan hawa nafsunya dengan mengikuti bisikan-bisikannya sehingga dirinya menjadi celaka. Ya Allah, berilah kami taufiq untuk melakukan amal ketaatan kepada-Mu. Jauhkan kami dari segala tipudaya setan yang merusak amal ibadah kami.
Sunday, October 25, 2020
Tercela Sikap Berlebih-lebihan Dalam Beragama
Tercela sikap berlebihan dalam beragama. Berkut ini penjelasan surat Al-Baqarah ayat 108:
أم تريدون أن تسَٔلُواْ رَسُولَكُمۡ كَمَا سُئِلَ مُوسَىٰ مِن قَبۡلُۗ وَمَن يَتَبَدَّلِ ٱلۡكُفۡرَ بِٱلۡإِيمَٰينِ فَقَدسۡ ضَبيل
Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.
Makna kata:
{ أَمۡ تُرِيدُونَ
} Am turiiduuna: Bahkan, apakah kalian menghendaki. Kata “Am” ini digunakan untuk idhrab intiqali (mengalihkan perhatian), masih satu arti dengan kata “Bal” dan Hamzah Istifham. Adapun yang diminta oleh Bani Israil kepada Musa adalah ucapan mereka “Tunjukkanlah Allah secara terang-terangan).
{ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ} Sawaa 'as sabiil: Jalan pertengahan yang aman sehingga tidak melenceng keluar dari jalan itu. Makna ayat: Adapun firman Allah Ta'ala pada ayat (108) ( أَمۡ تُرِيدُونَ أَن تَسَۡٔلُواْ رَسُولَكُمۡ) “Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu ...” Ini adalah bentuk celaan kepada orang yang menuntut Rasulallah ﷺterhadap perkara yang di luar kemampuannya, dan pemberitahuan bahwa yang tidak keras dan tidak memiliki adab kepada Rasulullah akan mendapatkan musibah berupa kerasnya hati dan menjadi kufur. Inilah yang ditunjukkan oleh firmanNya
( وَمَن يَتَبَدَّلِ ٱلۡكُفۡرَ بِٱلۡإِيمَٰنِ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ) “Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.”
Saturday, October 24, 2020
Masalah Nasikh Dan Mansukh Dalam Al-Qur'an
Tafsir surat Al-Baqarah ayat 106-107 menjelaskan hukum nasikh dan mansukh :
۞ما ننسخ من ءاية أو ننسها نأت بخير منهآ أو مثلهآ ألم تعلم أن ٱلله على كل شيء قدير ألم تعلم أن ٱلله على كل شيء قدير ألم تعلم أن ٱلله ٱلله من ولي ولا نصير
Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu tahu bahwa sebenarnya Allah Maha Kuasa segala sesuatu sesuatu?
Tiadakah kamu tahu bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.
Ayat 106. Dijelaskan bahwa ayat mana pun yang dinasakh [dihapuskan] hukumnya, atau diganti dengan ayat lain, atau ayat yang ditinggalkan, akan diganti-Nya dengan ayat yang lebih baik dan lebih sesuai dengan kemaslahatan hamba-hamba-Nya, atau diganti- Nya dengan ayat yang sama nilainya dengan hukum yang lalu.
Hikmah diadakannya pergantian atau perubahan ayat adalah karena nilai kemanfaatannya berbeda-beda menurut waktu dan tempat, kemudian dihapuskan, atau diganti dengan hukum yang lebih baik, atau dengan ayat yang sama nilainya, adalah karena ayat yang diubah atau diganti itu tidak sesuai lagi dengan kepentingan masyarakat, sehingga lingkungan dimana perubahan atau pergantian termasuk suatu tindakan yang bijaksana.
Bagi yang berpendapat bahwa ayat ini adalah tanda kenabian (mukjizat) yang dijadikan penguat kenabian, maka ayat ini diartikan bahwa Allah tidak akan menghapuskan tanda kenabian yang digunakan untuk penguat kenabiannya, atau tidak akan mengubah tanda kenabian yang terdahulu dengan tanda kenabian yang datang kemudian, atau meninggalkan tanda-tanda kenabian itu, karena telah berselang beberapa abad. Terkecuali Allah yang mempunyai kekuasaan tidak terbatas memberikan tanda kenabian yang lebih baik, ditinjau dari segi kemantapannya maupun dari tetapnya kenabian itu. Karena kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, maka hak untuk memberikan tanda kenabian kepada para nabi-Nya tidak dapat dihalang-halangi.
Penggantian ayat adakalanya terjadi dengan ayat yang lebih ringan hukumnya, seperti penghapusannya idah wanita yang ditinggal mati suaminya dari menjadi 4 bulan 10 hari, atau dengan ayat yang sama hukumnya seperti perintah untuk menghadapkan muka ke Baitulmakdis pada waktu melaksanakan salat diubah menjadi menghadapkan muka ke Ka 'bah. Atau dengan hukum yang lebih berat, seperti perang yang tadinya tidak diwajibkan pada orang Islam, harus diwajibkan.
Ayat ini tidak hanya melayani kepada Nabi Muhammad SAW tetapi juga melayani kaum Muslimin, yang merasa sakit hatinya mendengar orang-orang Yahudi kepada Nabi Muhammad SAW Orang-orang yang lebih tipis imannya tentu mudah dilihat, sehingga lebih mudah menjadi ragu-ragu. Itulah batasan, Allah. Bahwa Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, dan itulah yang berkehendak untuk menasakh hukum tidak dapat dicegah, karena masalah hukum termasuk dalam kekuasaan-Nya.
Ayat 107. Allah menjelaskan bahwa Dia mempunyai kerajaan langit dan bumi. Dengan kata lain, bahwa langit dan bumi serta seluruh isinya tunduk di bawah kekuasaan-Nya, di bawah perintah dan larangan-Nya. Oleh sebab itu, Allah menunjuk pula untuk menasakh hukum dan menentukan hukum yang lain menurut kehendak-Nya, menurut pertimbangan-Nya ada manfaat bagi seluruh manusia, karena hukum yang lama sudah dipandang sesuai lagi. Maka Allah memberikan penegasan kepada orang-orang Islam bahwa Allah-lah yang memberikan pertolongan dan bantuan kepada mereka. Oleh sebab itu, orang-orang mukmin dilarang mempedulikan orang-orang Yahudi yang mengingkari perubahan hukum itu, bahkan menghina. Sikap orang-orang Yahudi yang demikian itu sedikit pun tidak akan memberikan mudarat kepada orang mukmin.

















